Paguyuban sopir menginginkan ada percepatan pembangunan itu. Percepatan itu diharapkan dengan melembur pengerjaan jembatan pada malam hari.
Kemacetan di Jalur Pantura Pati menuju Rembang kian parah. Bahkan dari pantauan, panjang antrean kemacetan kendaraan hingga mencapai puluhan kilometer.
Paguyuban Sopir Pati (PSP) pun mengeluhkan kondisi ini. Pihaknya juga berupaya mengirimkan catatan kepada pihak berwenang. Catatan tersebut berdasarkan nihilnya upaya percepatan pembangunan di jalur pantura tersebut.
”Proyek hanya dikerjakan saat jam kerja dan tidak ada upaya percepatan. Berbeda dengan proyek jalan lain, yang pembangunannya lembur sampai malam. Tapi proyek ini jamnya kerja seperti biasa," ucap Ketua PSP Muhammad Syahidul Anam.
Selain mengeluhkan lambannya pembangunan, PSP juga menyinggung kedisiplinan petugas kepolisian di lapangan. Sebab dari keterangannya, polisi hanya mengatur lalu lintas saat jam tertentu saja. Hal itu dinilai menjadi faktor penyebab kemacetan sulit terurai.
"Petugas lalu lintas, terutama di wilayah Pati tidak stand by di lapangan. Sehingga praktek ngeblong dan lainnya tak terkendalikan. Haya waktu tertentu saja diatur lalinnya," tuturnya.
Tak hanya persoalan itu saja, Anam juga menyoroti respon Pemkab Pati dalam menangani kemacetan. Menurutnya, Pemkab terkesan tak memiliki keperdulian soal nasib para sopir yang terjebak macet.
"Seperti Pemkab Rembang itu bikin progam seperti memberi makan ke sopir yang sudah terjebak macet selam berjam-jam. Tapi di Pati ini sama sekali tidak ada. Ini bukan hak, tapi soal keperdulian," pungkasnya.
Sementara itu, Supervisor PT Bukaka Titian, Sindu Yoga Prakoso mengatakan, pihaknya berusaha proyek Jembatan Juwana ini cepat kelar. Namun, ia belum bisa menjanjikan pengerjaan selesai sebelum 1 April 2023.
”Saat ini progresnya sudah 79 persen. Semoga cuacanya mendukung. Kalau untuk kapan selesainya saya belum bisa menjawab yang penting ini selesai dulu,”ucapnya. (adr/him)
Editor : Ali Mustofa