Saat kunjungan dia tak ke lokasi pengungsian, tetapi berhenti di sebuah jalan desa yang sekitarnya terkena banjir.
Di lokasi itu secara spontan dia mengintruksikan jika permasalahan banjir perlu penanganan cepat. Dia meminta agar penanganan teknis seperti pembuatan polder, kolam retensi, rumah pompa, dan tanggul di Juwana harus segera dilakukan tahun ini.
Ganjar meminta Pj Bupati Pati Henggar Budi Anggoro, camat, kades, dan PUPR untuk membantu memetakan daerah-daerah rawan banjir itu. Bahkan Ganjar sudah berkomunikasi langsung dengan Menteri PUPR terkait banjir di Pati dan Kudus karena dua wilayah itu berkaitan.
“Nanti kami tentukan titik-titik mana saja yang pelu diberi pompa. Saya ambilkan pompa darurat. Letakkan di tanggul,” terangnya.
Setelah itu, Ganjar kemudian menuju ke dapur umum yang ada di desa tersebut. Dia kemudian berinteraksi dengan beberapa pengungsi. Ada sekitar 39 pengungsi di balai desa tersebut.
“Ini (banjir, Red) harus segera ditangani (sekarang, Red). Jangan menunggu sampai 2024. Nanti pemerintah dimarahin rakyat,” tegasnya.
Teknis penanganan itu, lanjut Ganjar, akan dikerjakan bersama antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Pati, Kementerian PUPR, dan Balai Besar Wilayah Sungai.
"Tugas kami dari pemerintah adalah mencarikan sumber anggarannya. Nah secara teknis nanti saya minta PUPR untuk mendesain area-areanya, titik-titiknya, nanti kerjasama dengn BBWS. Biar kami memfasilitasi dari provinsi sehingga ini mesti diselesaikan secara lebih komprehensif," ungkapnya.
Di lokasi dapur umum, para emak-emak pun mengerubuti Ganjar. “Ada Pak Ganjar. Pak Ganjar foto,” celoteh emak-emak yang hendak foto.
“Pie Bu, kondisine banjire? Bantuan sudah ada?” papar ganjar
“Ini beberapa warga pada mengungsi pak. Di dapur umum kecamatan. Beberapa ada yang di rumah keluarga,” saut emak-emak itu.
Usai meninjau dapur umum, Ganjar menyebut, titik genangan air di beberapa tempat harus diselesaikan dengan engineering. Yakni, mempompa air wilayah di bantaran Sungai Juwana yang terendam banjir.
“Apakah di tanggul apa dibuat polder, kemudian dipompa. Pati harus punya itu. Kalau tidak enggak tega lihat masyarakat seperti ini,” katanya.
Di samping itu, faktor penyebab banjir, kata dia, adanya sedimentasi di Sungai Juwana. Ini perlu normalisasi. “Selain itu, adanya kapal yang parkir ini juga mengakibatkan banjir. Sehingga perlu dirapikan,” ujarnya.
Menurutnya, penyebab banjir di Pati ini lantaran letak geografis. Sejumlah wilayah di Pati karakteristik tanahnya cekung. Sehingga hal itu yang dirasa menjadi penyebab banjir. “Kayak Pati ini ada beberapa karakteristik daerah yang cekungan. Ini tidak bisa dibiarkan pasrah sama alam saja. Karena tantangan berikutnya adalah rob,” katanya.
Setiap bulan purnama, lanjutnya, pasti akan ada sea level raise ya. Kenaikan muka air laut, yang itu nanti akan balik airnya dan di area-area pesisir pasti akan terdampak.
Pihaknya bakal mencarikan anggaran untuk menangani banjir di Pati. Kemudian membahas persoalan itu dengan PUPR Jateng. “Tahun ini harus segera ditangani persoalan banjir. Tugas kami mencari sumber anggaran. Secara teknis nanti dengan PUPR. Sehingga ini bisa terselesaikan,” jelasnya. (adr/zen) Editor : Ali Mustofa