Pantauan Jawa Pos Radar Kudus di Dukuh Ngantru Desa Mustokoharjo terlihat ketinggian banjir mengalami kenaikan. Hal ini dapat dilihat dari kondisi rumah-rumah di daerah tersebut. “Air naik lagi, sekitar 10 – 15 centimeter ini. Masih hujan terus ini. Pasrah saja, tidak bisa apa-apa. Ini termasuk banjir yang besar,” jelas Masri, salah seorang warga RT 4/RW I, Dukuh Ngantru, Desa Mustokoharjo, Pati.
Di seberang Jalan Raya Pati – Gabus itu ketinggian air sekitar 40 sentimeter. Sedangkan masuk ke permukiman desa ini ketinggian air di jalan mencapai 120 sentimeter. Sementara di rumah sekitar 50 sentimeter. Hal itu karena rumah-rumah di daerah ini sudah ditinggikan sebagai antisipasi bencana banjir yang setiap tahun selalu datang.
Meskipun rumah-rumah warga tergenang banjir, warga masih tetap beraktivitas normal. Di jalanan Dukuh Ngantru misalnya, warga tetap beraktivitas hilir – mudik di jalan yang sudah tidak kelihatan karena tertutup air tersebut. Rata-rata mereka menggunakan perahu. Ada pula yang hanya berjalan saja. Seperti Masri ini yang setiap hari antar jemput menggunakan perahu untuk anaknya yang berangkat dan pulang sekolah. Titik penjemputan berada di dekat masjid di seberang gapura masuk dukuh tersebut.
Kenaikan air juga terpantau di wilayah Mintobasuki, Kecamatan Gabus, Pati. Air naik sekitar 10 sentimeter. Penyebabnya adalah curah hujan yang masih tinggi dan juga pembukaan salah satu pintu Bendungan Wilalung Kudus.
“Air naik mulai kemarin pagi (Minggu, Red). Rumah saya bagian ruang tengah kemarin sudah surut. Ini kemasukan air lagi,” kata Toni Pustoro, warga Desa Mintobasuki.
Di Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus, ketinggian banjir juga dilaporkan naik lagi. Hal ini terlihat dari kantor desa setempat yang awalnya sudah kering, kini halaman depannya tergenang banjir. Di desa ini total ada 498 rumah yang terendam banjir, dengan total 1.553 jiwa yang terdampak. (aua/zen) Editor : Ali Mustofa