Paska prostitusi LI bubar, eksodusnya mulai bertebaran. Mulai di warung-warung dekat SPBU Margorejo hingga di Ngemblok City (Kampung Baru) yang lokasinya tak jauh dari LI.
Dua pekan terakhir ini wartawan ini mencoba menjajal aplikasi bernama Michat itu. Aplikasi hijau itu menawarkan pertemanan dengan menampilkan pengguna sekitar. Dari Pati kota terdekat 200 meter. Paling jauh 30 kilometer.
Bahkan di aplikasi tersebut ada fitur khusus perempuan. Jadi hanya perempuan saja yang ditampilkan. Cocok bagi pria hidung belang yang mencari mangsanya.
Lokasi yang ditawarkan ini pun beragam. Mulai kos-kosan hingga hotel berbintang di Kecamatan Kota dan Margorejo.
Saat pesan (chat) akun-akun perempuan itu langsung tanggap. Bahkan, langsung ke poinnya. ”Posisi?” Pesan pria ini. ”Pati Kota. Hotel X (sengaja disamarkan,” jawab salah satu akun Michat.
Juga ada yang langsung menawarkan open booking (BO). Tanpa basa-basi. ”Rp 600 ribu. Cash di kamar. Mau OTW (pergi) kapan?” Pesan akun Michat setelah ditanya posisinya.
Pria hidung belang ini pun menawar harganya. Semula Rp 600 ribu, deal Rp 400 ribu. ”Rp 400 ribu ditambah emot gambar api,” pesan pria hidung belang ini. ”Ayok beb. OTW kapan?” kata perempuan itu.
Pria bertubuh gemuk ini bergegas ke sebuah hotel di kecamatan Pati untuk men-survey akun perempuan Michat itu. Setelah sampai di parkiran, perempuan itu menyuruh untuk pergi ke lantai dua kamar 207. Setelah sampai diminta foto dengan menampilkan dua jari di depan kamar.
”Sudah sampai di depan kamar, Mbak. Terus gimana ini?” tanya wartawan ini. ”Coba foto dengan dua jari dong, Kak,” paparnya.
Setelah foto, kemudian diminta mengetuk pintu kamar. Perempuan berbaju tidur membukakan setengah pintunya. Sambil menggandeng tangan pria itu.
Setelah masuk kamar, aroma rambut perempuan itu tercium. Bikin libido sedikit naik.
”Bentar ya. Habis mandi ini. Rambut saya keringkan dulu. Nyantae aja. Sambil rokokan tak apa,” celoteh perempuan itu.
Tangan pria bertubuh gelap ini pun gemetaran sembari menyulut rokok. Tak kuat melihat wanita berbaju tidur tipis sambil menata rambutnya.
Perempuan berambut panjang itu tepat di depan wartawan ini. Duduk di kursi hotel sambil mengeringkan rambut hitam pekatnya. Usianya 28 tahun. Bibirnya tipis. Tinggi tubuhnya 167 sentimeter. Kulitnya putih. Ukuran payu dara 34D. Kakinya jenjang. Pahanya pas. Tak kegemukan.
Pasang mata pria itu pun melotot. Libido semakin naik saat melihat perempuan itu tiba-tiba melebas baju tidurnya. Semacam lingerie terlihat. Gaunnya transparan berwarna hitam. Dengan model mirip batik. Terlihat tubuh berwarna sawo matang di sela-sela motif gaunnya. ”Tak langsung main kan. Ngobrol dulu ya. Tidak buru-buru kan,” ucapnya sembari menuju wartawan ini. Lalu duduk di sebelah pria ini.
Perempuan yang mengaku namanya Kiky ini katanya asli Bandung. Sudah dua tahun lebih menggeluti dunia lembah hitam ini. Sepekan sekali dia berkeliling dari satu kabupaten ke kabupaten lain. Dari satu provinsi ke provinsi lain. ”Ini mau ke Semarang. Mampir Pati dulu. Seminggu menetap di satu kabupaten, lalu pergi. Kadang bersama satu teman. Kadang juga sendirian,” katanya.
Dia pun sudah menjajal berbagai hotel di Rembang-Pati-Kudus. Dia menceritakan pengalamannya di kota-kota itu. ”Rembang itu di Fave Hotel enak. Kalau di Pati ya Hotel 21. Hotel Safin ini mirip Hotel Griptha Kudus. Harus menjemput pelanggan dulu. Soalnya pakai kartu. Ribet,” imbuhnya.
Selama bertahun-tahun itu, dia memberi berbagai pelayanan kepada pria hidung belang. Misalnya, kiss, BJ, HJ, Jilmek, dan Colmek. Istilahnya fulservice.
”Kalau bisa kan memberikan pelayanan yang memuaskan. Biar sama-sama enaknya. Kalau nyaman kan enak berhubungan badannya,” tandasnya.
Tak terasa percakapan sudah 30 menit lebih. Waktu juga semakin malam. Jam di dinding kamar menunjukkan pukul 01.40. Rokok tiga batang pun sudah habis. Tangan angel itu mendorong badan pria ini. Sambil melepaskan bajunya. Perempuan itu mulai menebar hasratnya hampir semalaman. ”Ayok, Mas, mulai. Malah ngobrol kesana-kemari. Nanti tak main-main,” tutupnya. (radarkudus) Editor : Ali Mustofa