“Salah satu yang bisa membantu petani tambak garam adalah dengan penggunaan inovasi geomembran. Supaya petani tidak terlalu bergantung kepada panas matahari. Apalagi dengan pemakaian geomembran atau lapisan plastik hitam itu bisa menyerap panas, membuat panen lebih cepat dan produksinya menjadi lebih baik,” jelas politikus Partai Golkar ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Untuk diketahui, cuaca yang tidak menentu (kemarau campur hujan) membuat kerepotan para petani garam. Yang mana membuat hasil panennya tidak maksimal, dari data Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati total luas tambak garam sendiri mencapai 2.872 hektare.
“Sayangnya para petani garam masih kurang tanggap dengan inovasi-inovasi teknologi yang ada. Untuk geomembran sendiri sebenarnya tidak mahal, karena usia pakainya juga relatif lama bisa dipakai 3-4 tahun,” paparnya.
Sementara itu dikutip dari berbagai sumber, penggunaan geomembran sendiri paling tidak memiliki 3 manfaat penting. Pertama mencegah terjadinya pencemaran. Geomembran terbuat dari bahan HDPE (High Density Polyethylene) merupakan bahan dengan daya tahan tinggi yang memungkinkan untuk menahan tanah tambak sehingga tidak merembes ke dalam air laut yang akan diolah menjadi garam.
Teknik pencegahan pencemaran ini dinilai sangat berpengaruh terhadap garam yang dihasilkan nantinya. Semakin bersih air yang diolah menjadi garam, maka semakin baik garam yang akan dihasilkan.
Yang kedua meningkatkan produktivitas, dan yang ketiga mempercepat kristalisasi garam. Penggunaan geomembran sebagai alas tambak garam ini dinilai mampu mempercepat kristalisasi air laut tersebut, sehingga panen dapat dilakukan lebih cepat. Hal ini karena geomembran memiliki warna hitam yang diketahui sangat mudah dalam menyerap panas. (aua/lid/adv) Editor : Kholid Hazmi