Acara perpisahan digelar dengan anggun. Sepanjang jalan masuk menuju pendapa digelar karpet. Kanan dan kiri di sebelah karpet merah ada hiasan foto-foto kiprah Haryanto-Saiful Arifin selama memimpin Kabupaten Pati. Para tamu melewati karpet itu. Bisa melihat kiprah Bupati Haryanto selama menjabat. Setelah itu tamu baru mengisi buku tamu.
Acara dibuka dengan sambutan-sambutan. Dimulai dari Sekda Pati Jumani, Ketua DPRD Pati Ali Badrudin yang mewakili Forkopimda, Wakil Bupati Saiful Arifin, dan Bupati Haryanto.
Perpisahan ini khususnya bagi Haryanto menjadi momen yang begitu berat. Menurut Haryanto, ia merasa melankolis bukan karena riwayatnya selama dua periode atau 10 tahun menjabat bupati harus berakhir.
Bahkan dalam momen sambutan Haryanto sempat membaca sebuah puisi. Puisi tersebut menggambar suasana hatinya saat harus mengakhiri masa tugasnya sebagai Bupati.
“Kalau tentang batasan masa jabatan, saya tidak merasa gimana-gimana. Karena memang sudah aturannya begitu. Tapi jujur saja, harus keluar dari pendopo saya merasa agak berat. Karena 10 tahun saya tinggal di sini sama anak-istri. Sudah biasa seperti rumah sendiri, tiba-tiba harus keluar. Kalau tugasnya jelas sudah berakhir. Maka wajar kalau saya agak baper, gara-gara itu jujur saja, tidak ada yang lain,” ungkap dia didampingi sang istri, Musus Indarnani.
Dalam acara tersebut dirinya mengenang satu dasawarsa lalu, ketika ia pertama kali memutuskan terjun ke dunia politik setelah selama 22 tahun mengabdi sebagai birokrat, PNS di pemerintahan daerah.
“Saya menjadi bupati melalui dinamika politik yang menghabiskan energi. Pada 2011 Pilkada dilaksanakan. Ada gugatan di MK. Akhirnya PSU (Pemungutan Suara Ulang). Itu pun masih menunggu anggaran satu tahun, baru dilaksanakan 2012,” ujar Haryanto.
Haryanto bersyukur, meski susah, dengan berbagai hambatan, tantangan, dan rintangan yang cukup berat pada saat itu, Allah memberinya anugerah untuk memimpin Kabupaten Pati.
“Di birokrat saya 22 tahun. Di politik 10 tahun. Kalau saya di PNS kurang lebih masih dua tahun (sebelum pensiun). Tapi saya sudah memilih jalur politik, karena ini yang bisa membawa arah, memajukan daerah, menyejahterakan masyarakat lewat visi-misi dan program yang ada,” imbuhnya.
Di luar capaian terkait penurunan angka kemiskinan dan pengangguran, Haryanto bersyukur di akhir masa jabatannya ia bisa meninggalkan BUMD yang sehat.
“Mohon maaf, bukannya menjelekkan yang sebelumnya, tapi saya diwarisi persoalan yang harus saya selesaikan. Waktu awal saya menjabat, ada BUMD tidak sehat. Setelah dua periode saya memimpin, BUMD akhirnya sehat dan bisa berkontribusi terhadap PAD (Pendapatan Asli Daerah). Sekalipun sebelumnya kita tertatih-tatih dalam kurun waktu panjang,” jelasnya.
Haryanto juga mengucap hamdalah lantaran setelah 10 tahun menjabat, tak sedikit pun ia meninggalkan utang daerah.
”Karena prinsip saya memanfaatkan sumber daya yang sudah ada. Saya ditawari utang saat periode pertama maupun kedua. Namun menurut saya lebih baik memaksimalkan potensi yang ada,” pungkasnya.
Sementara itu, usai melangsungkan serangkaian acara perpisahan, agenda terakhir nanti adalah menghadiri pelantikan Pj Bupati yang akan dilantik langsung oleh Gubernur Jawa Tengah Ganyar Prabowo. Pelantikan Pj Bupati Pati yang dijabat Henggar Budi Anggora akan dilakukan Senin (22/8) malam di gubernuran Semarang. Pelantikan akan dilakukan pada pukul 19.00. Bupati Pati periode 2017-2022 Haryanto akan menghadiri pelantikan ditemani sang istri, Musus Indarnani.
“Tidak ada persiapan khusus. Yang terpenting mendoakan untuk penerus selanjutnya untuk membangun Kabupaten Pati,” kata Haryanto.
Selain Haryanto dan istri, pelantikan Pj Bupati Pati nanti bakal dihadiri pimpinan DPRD Pati, Forkopimda, dan instansi terkait. (aua/zen) Editor : Ali Mustofa