Seperti diketahui desa kecil ini sangat ramai dan menjadi desa paling padat penduduknya di Kota Mina Tani. Karena selain warga asli, di desa ini bermukim ribuan pencari ilmu dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka mendiami pondok-pondok pesantren yang ada di desa tersebut. Di sana ada sekitar 65 yayasan pendidikan Islam, dengan santri kurang lebih berjumlah 20 ribuan orang.
Selain itu di desa ini juga menyimpan warisan sejarah budaya yang besar. Yaitu makam, dan masjid peninggalan Waliyullah KH Ahmad Mutamakkin. Di masjid sendiri mewariskan peninggalan benda-benda bersejarah seperti ornamen-ornamen simbolik di Masjid Jami' Kajen yang berusia ratusan tahun. Bahkan seringkali dijadikan sebagai wisata budaya yang dikelola oleh kelompok pemuda di desa tersebut, yakni Islamic Center Kajen (ICK). Beberapa kali bahkan menarik minat kunjungan dari luar negeri. Kegiatan ini bertajuk Jelajah Pusaka Kajen.
"Potensi ini yang harus dikelola dengan baik. Selain itu ada ribuan peziarah yang hampir setiap hari datang ke makam Mbah Mutamakkin di desa kami. Ini potensi besar desa yang harus dikelola dengan baik. Karena itu ini menjadi bagian dari program prioritas saya sebagai kepala desa," jelas Ibnu Khoidar kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Selain itu, lanjutnya, sebagai kepala desa dia ingin mensinergikan antara lembaga pendidikan baik yang formal maupun non formal dengan masyarakat sekitar. Pihaknya ingin memberikan perhatian lebih agar potensi yang ada dapat tergarap maksimal. Sehingga dapat berdampak pada masyarakat Desa Kajen. Baik dari segi sosial, ekonomi, dan budaya. (aua/ali) Editor : Ali Mustofa