Observasi dilakukan sejak 11 September hingga 15 September. Dimulai dari Pomahan Ajar dan sawah candi, kemudian dilanjutkan di situs Watu Payon, candi Kayen, lingga di Sinomwidodo, sawah secandi di kawasan Gunungpati.
Observasi juga dilakukan di area perkebunan kopi di Desa Bageng. Tim Balar juga mengunjungi sendang Mbah Gumirah Cacah, Sukoharjo. Dan observasi di Desa Gunungsari dan Watu gong Randu Kuning.
Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Pati, Ragil Haryo mengungkapkan, program kegiatan ini merupakan survei titik lokasi yang berpotensi diekskavasi dari Balai Arkeologi Yogyakarta, terutama untuk peninggalan di periode Hindu Budha di kawasan Semenanjung Muria khususnya di wilayah Kabupaten Pati.
"Temuannya banyak sekali. Seperti di candi Pomahan Ajar ada pecahan terakota, dan keramik. Di sawah candi ada situs dengan batu bata ukuran besar. Banyak ditemukan pecahan terakota berupa patung, miniatur candi, pipisan, dan lainnya," jelas pria yang juga pemerhati sejarah di Kota Mina Tani ini.
Salah satu titik situs bersejarah, lanjut Ragil, diduga merupakan peninggalan di zaman Kerajaan Mataram Kuno, yaitu sawah candi. Selain itu, diperkirakan tim Balar, ada dua situs yang berpotensi diekskavasi yaitu Candi Pomahan Ajar dan sawah candi.
Mengingat wilayah Muria yang menyimpan banyak jejak peradaban masa lampau, penting untuk menjadi diperhatikan bersama. Seperti perlunya sosialisasi aturan tentang Undang-Undang Cagar Budaya. Hal ini agar melindungi warisan sejarah tersebut, agar tidak hilang atau rusak. (him) Editor : Ali Mustofa