Penggunaan BTT dari awal tahun hingga Juni sudah menyerap anggaran Rp 7,2 miliar. Penggunaannya untuk penanganan virus korona. Salah satunya untuk isolasi terpusat di Hotel Kencana dan diklat KB. Awal Juni lalu, BPBD Pati mengajukan Rp 2 miliar. Ini untuk isolasi terpusat dan insentif pemulasaran jenazah. Sedangkan dana BTT tersisa Rp 4,2 miliar. Jadi tersisa Rp 2,2 miliar. Sehingga kritis ini. Tidak cukup untuk meng-cover hingga Desember nanti,”ungkap Kepala BPKAD Turi Atmoko.
Rencananya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati akan menambah anggaran belanja tak terduga ini. Salah satunya dari pos anggaran percepatan vaksinasi covid-19 di Dinas Kesehatan (Dinkes) Pati. Soalnya, ada salah satu program yang anggarannya belum pernah terpakai. Yaitu, dana anggaran untuk Kejadian ikutan paska imunisasi (KIPI).
Akan direlokasi anggaran penanganan covid-19 setelah 3 Juli ini. Relokasi tersebut dalam agenda perubahan APBD Kabupaten Pati 2021. Itu setelah disampaikan dalam rancangan kebijakan umum anggaran dan prioritas plafon anggaran sementara (KUA-PPAS) APBD 2021 bersama DPRD Pati belum lama ini.
”Sebanyak Rp 47 miliar dana KIPI ini tak terpakai. Soalnya dampak dari vaksinasi ini belum ada. Daripada sisa lebih anggaran tahunan (Silpa) di akhir tahun besar. Maka lebih baik digeser untuk BTT, bebernya.
Sebelumnya, untuk program percepatan vaksinasi covid-19, Pemkab Pati telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 105 Miliar. Anggaran tersebut diperuntukan bagi operasional distribusi vaksin, insentif nakes, dan antisipasi KIPI. Selebihnya penanganan covid-19, diambil dari dana BTT. (adr) Editor : Ali Mustofa