Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Di Pondok Ini, Tak Boleh Cari Uang

Ali Mustofa • Sabtu, 8 Mei 2021 | 18:03 WIB
KH. M. Najib Suyuthi, Pengasuh Ponpes Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati. (PESANTREN RAUDLATUL ULUM FOR RADAR KUDUS)
KH. M. Najib Suyuthi, Pengasuh Ponpes Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati. (PESANTREN RAUDLATUL ULUM FOR RADAR KUDUS)
PATI – Belajar di Ponpes Raudlatul Ulum Guyangan, Trangkil, Pati tak boleh jatuh cinta kepada empat hal. Yakni, kepopuleran, harta, kedudukan, dan tak senang kalau jadi pemimpin. Itulah prinsip yang sampai sekarang masih dipegang teguh.

Didirikan sejak 1950 oleh KH. Suyuthi Abdul Qadir, Yayasan Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan memiliki tradisi yang dijaga hingga kini. Yakni berkomitmen membekali para pendidik untuk ikhlas dalam mengajar para santri.

Pesantren yang kini diasuh KH. Muh Najib Suyuthi itu menekankan para pendidik untuk menghindari empat hal. Yakni tidak cinta kepopuleran, tidak cinta harta, tidak cinta kedudukan, dan tidak senang menjadi pemimpin.

Itu disampaikan Ustaz Qosis, salah satu pengurus Ponpes Raudlatul Ulum. Menurutnya empat hal itu menjadi sumber ketamakan seseorang. Sehingga apabila guru dan pendidik tidak dibentengi atas empat hal tadi, akan memiliki niat yang tidak lurus. ”Abah kiai menekankan hal itu. Karena kami di sini dididik untuk ikhlas dalam menyampaikan ilmu,” jelasnya.

Dilarang senang kepopuleran karena itu akan membuat seseorang merasa memiliki status sosial yang tinggi dari orang lain. Akibatnya, cenderung akan merendahkan orang lain, hingga menjadi sombong. Dan sifat itu tidak bagus bagi seorang guru dan pendidik. Karena tugas guru itu menyebarluaskan ilmu tanpa memandang kepopuleran.

Kedua dilarang mencintai harta atau uang (mal). Sebagai guru dan pendidik haram hukumnya untuk memiliki tujuan mencari mal. ”Sampai-sampai abah kiai menekankan nak luru duit ojo nang kene,” jelasnya.

Penekanan itu karena hakekat pendidik memberi dan melayani. Bukan mencari imbalan atau ganti atas ilmu yang telah diberikan. Namun bukan berarti kesejahteraan guru tidak diperhitungkan. Sebagaimana pengakuan Ustaz Qosis, setiap pengajar di situ mendapatkan imbalan yang lebih dari cukup.

”Tapi sekali lagi niat ngajar di sini ditekankan bukan karena uang. Tapi ikhlas. Karena dari situ akan memancarkan kebaikan dan keberhasilan santri dan siswa,” ungkapnya.

Ketiga tidak cinta kedudukan. Sementara keempat tidak cinta kepemimpinan. Itulah empat hal yang selalu diingatkan KH. Muh. Najib Suyuthi kepada para pengajar dan guru. Tujuannya agar para pendidik tidak memiliki niat lain selain ikhlas mengajar.

Karena empat hal itu sumber penyakit ketamakan. Jika sudah memiliki salah satu di antara empat itu, seseorang akan cenderung menyingkirkan hak orang lain. Dan akan menjadi bentuk penganiayaan. Yang dalam konteks ini maka santri dan wali santri.

Sementara terkait biaya pendidikan di Yayasan Pesantren Raudlatul Ulum, para santri dan murid tidak dikenakan uang gedung. Itu jadi tekad sang pengasuh yang ingin menjadikan ponpes itu sebagai tempat pelayanan.

Bahkan dalam pembangunan berbagai fasilitas juga tak meminta sumbangan ke masyarakat ataupun pejabat. ”Termasuk para pengurus, dilarang menerima imbalan dari wali santri. Wali santri saat awal pendaftaran juga dilarang membawa hadiah baik itu uang atau bentuk lainnya. Itu komitmen dari pendidikan karakter di sini,” imbuhnya. (tos) Editor : Ali Mustofa
#ayo mondok #ponpes raudlatul ulum #pesantren #pati #ramadan