Honda Tekor Hampir Rp200 Triliun Gara-Gara EV, Mobil Hybrid Kembali Jadi Andalan

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 17:37 WIB
Honda E
Honda E

RADAR KUDUS - Honda harus membayar mahal atas perubahan arah strategi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Produsen otomotif asal Jepang itu memperkirakan total kerugian terkait perubahan strategi elektrifikasi mencapai sekitar ¥1,97 triliun atau sekitar US$12,5 miliar sepanjang tahun fiskal 2026 hingga 2027.

Nilai tersebut setara dengan sekitar Rp200 triliun jika menggunakan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS. Besarnya angka ini menunjukkan betapa signifikan dampak perubahan strategi Honda setelah perusahaan memutuskan mengerem sejumlah proyek EV dan kembali memberikan perhatian lebih besar kepada kendaraan hybrid.

Honda mencatat kerugian terkait EV sebesar ¥1,4536 triliun pada tahun fiskal yang berakhir 31 Maret 2026. Angka tersebut berasal dari berbagai biaya yang berkaitan dengan peninjauan ulang strategi elektrifikasi, termasuk penghapusan nilai aset, impairment atau penurunan nilai, serta biaya akibat penghentian pengembangan dan peluncuran sejumlah model EV.

Jika memperhitungkan kerugian dari investasi yang dicatat menggunakan metode ekuitas, total dampaknya pada tahun fiskal 2026 mencapai sekitar ¥1,5778 triliun.

Honda kemudian memperkirakan tambahan kerugian EV sekitar ¥520 miliar untuk tahun fiskal yang berakhir 31 Maret 2027. Dengan demikian, akumulasi kerugian pada tingkat laba operasional selama dua tahun mencapai sekitar ¥1,9736 triliun.

Besarnya angka tersebut menjadi semakin mencolok jika dibandingkan dengan skala bisnis Honda. Perusahaan sebelumnya memperkirakan laba operasional tahun fiskal 2027 hanya sekitar ¥500 miliar sebelum penyesuaian terbaru, sementara laba operasional yang tidak memasukkan beban terkait EV diproyeksikan jauh lebih tinggi.

Laporan keuangan Honda menunjukkan bahwa pada tahun fiskal 2026 perusahaan membukukan pendapatan sekitar ¥21,7966 triliun, tetapi laba operasional berubah menjadi rugi ¥414,3 miliar. Tanpa memasukkan dampak kerugian terkait EV, Honda memperkirakan laba operasional yang disesuaikan mencapai sekitar ¥1,0393 triliun.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa masalah utama bukan berarti seluruh bisnis Honda mengalami kerugian. Beban terbesar justru berasal dari keputusan strategis untuk mengubah arah pengembangan kendaraan listrik ketika kondisi pasar tidak lagi sesuai dengan asumsi investasi sebelumnya.

Perubahan tersebut mulai terlihat jelas ketika Honda pada Maret 2026 mengumumkan pembatalan pengembangan dan peluncuran tiga model EV yang sebelumnya direncanakan diproduksi di Amerika Utara. Ketiga model tersebut adalah Honda 0 SUV, Honda 0 Saloon, dan Acura RSX.

Honda menilai melanjutkan produksi dan penjualan ketiga model tersebut dalam kondisi permintaan EV yang melemah berpotensi menghasilkan kerugian lebih besar dalam jangka panjang. Karena itu, perusahaan memilih menghentikan proyek sekaligus mencatat berbagai biaya dan penurunan nilai aset yang berkaitan dengan program tersebut.

Keputusan Honda tidak muncul tanpa alasan. Perusahaan menyebut perubahan lingkungan bisnis sebagai salah satu faktor utama, termasuk perlambatan pertumbuhan pasar EV di Amerika Utara dan meningkatnya persaingan di China.

Honda juga mengakui bahwa pengalokasian sumber daya yang terlalu besar untuk pengembangan EV ikut memberikan tekanan terhadap daya saing produknya di Asia. Pada saat yang sama, bisnis otomotif Honda menghadapi tekanan dari perubahan kebijakan tarif di Amerika Serikat.

Situasi tersebut membuat Honda memilih pendekatan yang lebih fleksibel. Alih-alih memaksakan ekspansi EV dalam skala sebelumnya, perusahaan akan meningkatkan fokus pada kendaraan hybrid sambil tetap mempertahankan pengembangan EV untuk jangka panjang.

Arah baru itu menjadi semakin jelas dalam rencana bisnis Honda. Perusahaan menyatakan akan memperkuat model hybrid generasi berikutnya di Jepang, Amerika Serikat, India dan sejumlah pasar Asia lainnya. Honda juga ingin meningkatkan daya saing produk sekaligus mengendalikan struktur biaya agar bisnis otomotif kembali menghasilkan keuntungan yang lebih stabil.

Pergeseran strategi tersebut sebenarnya bukan berarti Honda meninggalkan kendaraan listrik sepenuhnya. Perusahaan masih mempertahankan target jangka panjang menuju netralitas karbon pada 2050. Namun, investasi dan peluncuran EV kini akan dilakukan lebih hati-hati dengan mempertimbangkan tingkat permintaan, profitabilitas dan perkembangan pasar.

Honda sebelumnya memiliki ambisi besar terhadap elektrifikasi. Dalam rencana yang diumumkan sebelumnya, perusahaan pernah menargetkan investasi ¥10 triliun untuk elektrifikasi dan perangkat lunak hingga tahun fiskal 2031. Namun, pada 2025 Honda memutuskan mengurangi rencana investasi tersebut menjadi ¥7 triliun, atau memangkas sekitar ¥3 triliun, seiring perubahan kondisi pasar dan penundaan sejumlah proyek EV.

Kini hybrid kembali menjadi salah satu senjata utama Honda.

Data penjualan menunjukkan alasan di balik keputusan tersebut. Pada kuartal pertama tahun fiskal 2027, penjualan kendaraan hybrid Honda secara global mencapai sekitar 249.000 unit, meningkat dari 225.000 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebaliknya, penjualan battery electric vehicle (BEV) Honda turun menjadi sekitar 14.000 unit, dari sebelumnya 18.000 unit. Penjualan plug-in hybrid juga masih sangat kecil, sekitar 1.000 unit.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa kendaraan hybrid saat ini masih memiliki kontribusi jauh lebih besar terhadap penjualan kendaraan elektrifikasi Honda dibandingkan mobil listrik murni.

Namun, Honda juga tidak berhenti melakukan investasi di sektor kendaraan masa depan. Belanja modal perusahaan untuk tahun fiskal 2027 diproyeksikan mencapai sekitar ¥1,28 triliun, meningkat dibandingkan ¥751 miliar pada tahun sebelumnya. Salah satu faktor pendorongnya adalah akuisisi bangunan pabrik untuk perusahaan patungan produksi baterai Honda dan LG Energy Solution di Amerika Serikat.

Dengan kata lain, Honda sedang melakukan pengereman sekaligus tetap menjaga posisi di industri EV. Perusahaan mengurangi proyek yang dinilai tidak lagi ekonomis, tetapi tetap mempertahankan aset dan investasi yang dianggap strategis.

Dampak perubahan strategi tersebut juga terasa pada Sony Honda Mobility, perusahaan patungan Honda dan Sony. Pada Maret 2026, kedua perusahaan mengumumkan peninjauan ulang arah bisnis setelah perubahan strategi EV Honda. Pengembangan dan peluncuran model AFEELA 1 serta model kedua juga dihentikan.

Langkah itu memperlihatkan bahwa perubahan strategi Honda memiliki efek lebih luas daripada sekadar pembatalan beberapa mobil listrik. Keputusan tersebut ikut memengaruhi ekosistem investasi, pengembangan teknologi, manufaktur baterai dan kerja sama Honda dengan perusahaan lain.

Meski demikian, Honda masih mempunyai sumber pendapatan yang dapat menjadi penyangga. Bisnis sepeda motor tetap menjadi salah satu kekuatan utama perusahaan. Honda juga berencana meningkatkan volume sepeda motor sekaligus memperkuat bisnis kendaraan hybrid untuk membantu menghasilkan arus kas.

Honda bahkan menargetkan peningkatan penjualan sepeda motor global hingga sekitar 22,8 juta unit pada tahun fiskal 2027. Strategi ini menunjukkan perusahaan tidak ingin hanya mengandalkan bisnis mobil ketika industri otomotif global sedang mengalami perubahan besar.

Di sisi lain, Honda tetap berusaha menjaga profitabilitas. Perusahaan memperkirakan laba operasional yang telah disesuaikan, yakni tidak memasukkan kerugian terkait EV, sekitar ¥1,17 triliun untuk tahun fiskal 2027. Angka itu mencerminkan bahwa bisnis inti Honda masih memiliki kemampuan menghasilkan keuntungan meskipun strategi elektrifikasinya harus dirombak.

Masalahnya, investor kini harus melihat Honda dari dua sisi. Di satu sisi, perusahaan harus menanggung biaya sangat besar akibat keputusan menghentikan atau mengubah proyek EV. Di sisi lain, langkah tersebut dapat menjadi upaya untuk mencegah kerugian yang lebih besar pada masa depan jika Honda tetap memproduksi mobil listrik yang permintaannya tidak sesuai dengan ekspektasi.

Honda sendiri sejak awal memperingatkan bahwa total kerugian akibat peninjauan strategi elektrifikasi dapat mencapai maksimal ¥2,5 triliun. Angka tersebut merupakan estimasi maksimum yang mencakup kerugian yang sudah dicatat maupun potensi biaya tambahan pada periode mendatang.

Karena itu, angka ¥1,97 triliun bukan berarti Honda telah kehilangan uang tunai dalam jumlah tersebut hanya untuk menjual mobil listrik. Sebagian besar merupakan konsekuensi akuntansi dan biaya yang timbul akibat penghentian proyek, penghapusan aset, impairment serta perubahan strategi investasi. Perbedaan ini penting agar besarnya kerugian tidak disalahartikan sebagai kerugian kas murni.

Namun, dampaknya terhadap kinerja keuangan tetap nyata. Pada tahun fiskal 2026, laba operasional Honda yang sebelumnya berada di atas ¥1,2 triliun berubah menjadi rugi ¥414,3 miliar setelah memasukkan dampak strategi EV. Honda mencatat laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik induk sebesar rugi sekitar ¥423,9 miliar.

Kini Honda memasuki fase baru. Perusahaan tidak sepenuhnya mundur dari kendaraan listrik, tetapi tidak lagi mengejar ekspansi EV dengan kecepatan seperti sebelumnya.

Hybrid menjadi jembatan penting dalam strategi tersebut. Teknologi ini memungkinkan Honda tetap menawarkan kendaraan dengan tingkat elektrifikasi lebih tinggi sambil menyesuaikan produk dengan permintaan pasar yang berbeda-beda.

Keputusan tersebut sekaligus menjadi gambaran perubahan industri otomotif global. Ketika beberapa produsen sebelumnya berlomba mempercepat transisi menuju mobil listrik, perlambatan permintaan di sejumlah pasar memaksa perusahaan kembali menghitung biaya, investasi dan potensi keuntungan.

Bagi Honda, perhitungannya sudah menghasilkan konsekuensi mahal: hampir ¥2 triliun kerugian terkait perubahan strategi EV hanya dalam dua tahun fiskal.

Kini tantangan Honda bukan sekadar mengejar ketertinggalan di pasar mobil listrik. Perusahaan harus membuktikan bahwa keputusan mengerem ekspansi EV dan memperkuat hybrid benar-benar mampu mengembalikan profitabilitas bisnis otomotif.

Jika strategi tersebut berhasil, kerugian besar yang dicatat saat ini bisa menjadi harga untuk menyelamatkan kinerja Honda dalam jangka panjang. Namun jika pasar EV kembali tumbuh lebih cepat dari perkiraan, Honda berpotensi menghadapi tantangan baru karena harus mengejar kembali posisi yang ditinggalkan.

Untuk saat ini, pesan dari perubahan strategi Honda cukup jelas: perusahaan masih percaya pada masa depan elektrifikasi, tetapi tidak lagi bersedia mengejar mobil listrik dengan biaya berapa pun.

Editor : Mahendra Aditya
Honda EV kerugian Honda EV mobil listrik Honda Honda hybrid strategi EV Honda