RADAR KUDUS - Minat masyarakat Amerika Serikat terhadap kendaraan listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) mengalami penurunan signifikan dan kini berada di level terendah dalam enam tahun terakhir.
Temuan tersebut terungkap dalam survei terbaru yang dirilis American Automobile Association (AAA), organisasi otomotif terbesar di Amerika Serikat, yang menunjukkan masih kuatnya keraguan konsumen untuk beralih ke kendaraan tanpa emisi.
Hasil survei memperlihatkan hanya sekitar 16 persen warga Amerika yang menyatakan kemungkinan besar akan membeli mobil listrik sebagai kendaraan berikutnya. Angka ini menjadi yang terendah sejak 2019, sekaligus mencerminkan melambatnya laju adopsi EV di salah satu pasar otomotif terbesar dunia.
Sebaliknya, sebanyak 63 persen responden mengaku kecil kemungkinan atau bahkan tidak berminat sama sekali membeli mobil listrik. Persentase tersebut menjadi tingkat penolakan tertinggi yang tercatat AAA sejak 2022.
Baca Juga: 52 Bus Trolley Listrik Skoda Siap Mengaspal, Esslingen Bangun Transportasi Publik Masa Depan
Temuan ini cukup kontras dengan perkembangan industri otomotif global. Dalam beberapa tahun terakhir, produsen besar seperti Ford, General Motors, Tesla, Hyundai, Kia, Volkswagen, Mercedes-Benz, BMW hingga Toyota terus memperluas jajaran kendaraan listrik mereka dengan berbagai pilihan harga dan teknologi.
Meski pilihan produk semakin beragam, berbagai persoalan mendasar ternyata masih menjadi pertimbangan utama calon pembeli.
Biaya kepemilikan menjadi faktor yang paling banyak dikeluhkan. Sebanyak 62 persen responden mengaku khawatir terhadap mahalnya biaya penggantian atau perbaikan baterai apabila mengalami kerusakan. Komponen baterai memang menjadi bagian termahal dalam sebuah kendaraan listrik sehingga biaya servis dapat mencapai ribuan dolar tergantung tipe kendaraan.
Selain itu, 59 persen responden menilai harga jual mobil listrik masih terlalu tinggi dibandingkan kendaraan bermesin konvensional. Meskipun harga EV mulai turun dalam beberapa tahun terakhir, banyak model masih dijual dengan harga premium dibandingkan mobil berbahan bakar bensin di kelas yang sama.
Persoalan berikutnya adalah keterbatasan penggunaan untuk perjalanan jauh. Sebanyak 57 persen responden mengaku masih meragukan kemampuan mobil listrik untuk memenuhi kebutuhan perjalanan jarak jauh tanpa harus sering berhenti mengisi daya.
Sementara itu, 56 persen responden menyoroti masih terbatasnya ketersediaan stasiun pengisian daya publik yang mudah diakses. Kekhawatiran mengenai kehabisan daya baterai di tengah perjalanan atau yang dikenal sebagai range anxiety juga masih dirasakan oleh 55 persen responden.
Bagi masyarakat yang belum memutuskan membeli EV ataupun cenderung menolak, terdapat sejumlah alasan tambahan. Sekitar 31 persen mengkhawatirkan aspek keselamatan kendaraan listrik, 27 persen mengaku kesulitan memasang fasilitas pengisian daya di rumah, sedangkan 12 persen masih bingung terhadap perubahan kebijakan insentif pajak maupun subsidi pembelian kendaraan listrik dari pemerintah.
AAA juga mengingatkan bahwa berdasarkan analisis biaya kepemilikan kendaraan yang mereka lakukan pada 2024, mobil listrik memang memiliki biaya operasional harian yang relatif rendah, namun total biaya kepemilikan masih tergolong tinggi. Faktor depresiasi harga kendaraan, biaya pembiayaan kredit, hingga harga beli awal menjadi penyebab utamanya.
Meski demikian, kendaraan listrik tetap memiliki sejumlah keunggulan yang masih menarik perhatian sebagian konsumen. Penghematan biaya bahan bakar menjadi alasan utama masyarakat yang tetap berminat membeli EV.
Dengan rata-rata tarif listrik rumah tangga di Amerika sekitar 15,9 sen per kilowatt-hour (kWh), biaya energi kendaraan listrik masih jauh lebih murah dibandingkan konsumsi bensin kendaraan konvensional. Selain itu, mobil listrik juga membutuhkan perawatan lebih sederhana karena memiliki komponen mekanis yang lebih sedikit, sehingga biaya servis rutin relatif rendah.
Faktor lingkungan juga masih menjadi alasan penting. Banyak calon pembeli melihat kendaraan listrik sebagai solusi untuk mengurangi emisi karbon dan mendukung transisi menuju transportasi yang lebih ramah lingkungan.
Namun optimisme masyarakat terhadap masa depan kendaraan listrik tampaknya mulai melemah. Jika pada 2022 sekitar 40 persen warga Amerika yakin sebagian besar kendaraan di jalan raya akan menggunakan tenaga listrik dalam satu dekade mendatang, kini angka tersebut turun menjadi hanya 23 persen.
Penurunan antusiasme juga terlihat dari berkurangnya minat masyarakat membeli EV demi memperoleh insentif pemerintah. Tahun lalu sekitar 60 persen calon pembeli menyebut potongan pajak sebagai daya tarik utama. Kini jumlahnya turun menjadi hanya 39 persen.
Di tengah kondisi tersebut, kendaraan hybrid dan plug-in hybrid mulai dipandang sebagai alternatif yang lebih realistis. Kombinasi mesin bensin dengan motor listrik dinilai mampu mengurangi konsumsi bahan bakar sekaligus menghilangkan kekhawatiran mengenai jarak tempuh karena kendaraan tetap dapat beroperasi menggunakan mesin konvensional ketika daya baterai habis.
Direktur Automotive Engineering AAA, Greg Brannon, mengatakan minat masyarakat terhadap kendaraan listrik memang terus mengalami fluktuasi sejak lembaganya mulai melakukan pemantauan beberapa tahun lalu.
Menurutnya, industri otomotif tetap berkomitmen mengembangkan elektrifikasi melalui peluncuran berbagai model baru. Namun di sisi lain, keraguan konsumen terhadap kendaraan listrik masih belum sepenuhnya hilang.
Survei ini menjadi sinyal penting bagi produsen otomotif maupun pemerintah Amerika Serikat. Di tengah target pengurangan emisi karbon dan percepatan elektrifikasi transportasi, tantangan terbesar kini bukan lagi sekadar menghadirkan lebih banyak model kendaraan listrik, tetapi juga menurunkan harga jual, memperluas jaringan pengisian daya, meningkatkan teknologi baterai, serta membangun kembali kepercayaan konsumen terhadap masa depan mobil listrik.
Editor : Mahendra Aditya