JAKARTA — Pemanasan dan pendinginan masih kerap dilewatkan karena dianggap membuang waktu. Padahal, dua tahap sederhana ini membantu tubuh beradaptasi sebelum olahraga dan kembali ke kondisi istirahat setelah aktivitas fisik selesai.
Sebelum berlari, bersepeda, bermain sepak bola, melakukan latihan di pusat kebugaran, maupun olahraga dengan intensitas tinggi lainnya, tubuh sebaiknya tidak langsung dipacu maksimal. Pemanasan memberikan kesempatan bagi sistem kardiovaskular, otot, dan persendian untuk beradaptasi secara bertahap.
American Heart Association (AHA) menjelaskan bahwa pemanasan membantu meningkatkan aliran darah ke otot, menaikkan suhu tubuh, serta meningkatkan detak jantung dan pernapasan secara perlahan sebelum seseorang masuk ke aktivitas yang lebih berat.
Baca Juga: Brahim Diaz Cetak Gol, Umpan Lunin Antar Real Madrid Raih Trofi Teresa Herrera
Karena itu, pemanasan sebaiknya disesuaikan dengan olahraga yang akan dilakukan. Aktivitas ringan seperti berjalan, jogging perlahan, mengangkat lutut, menggerakkan bahu, atau melakukan gerakan dinamis dengan intensitas rendah dapat digunakan sebagai bagian dari persiapan.
Bagi pelari, misalnya, pemanasan bisa dimulai dengan berjalan atau jogging ringan sebelum kecepatan ditingkatkan. Sementara orang yang akan melakukan latihan kekuatan dapat memulai dengan gerakan mobilitas dan latihan dengan beban yang lebih ringan sebelum masuk ke beban utama.
Yang tidak kalah penting adalah tahap setelah olahraga. Ketika aktivitas intensitas tinggi dihentikan secara mendadak, tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dari kondisi aktif menuju istirahat.
Pendinginan dapat dilakukan dengan menurunkan intensitas secara bertahap. Seseorang yang baru selesai berlari dapat memperlambat langkah menjadi jogging ringan, kemudian berjalan santai selama beberapa menit sebelum benar-benar berhenti.
Menurut AHA, pendinginan membantu detak jantung dan pernapasan kembali turun secara bertahap. Transisi tersebut juga membantu tubuh beradaptasi setelah aktivitas fisik.
Berhenti mendadak setelah olahraga berat juga dapat membuat sebagian orang mengalami pusing atau merasa tidak nyaman akibat perubahan sirkulasi dan tekanan darah. Karena itu, mengurangi intensitas secara perlahan menjadi langkah yang lebih aman.
Namun, pemanasan dan pendinginan bukan berarti jaminan seseorang terbebas dari cedera. Risiko tetap dipengaruhi banyak faktor, termasuk jenis olahraga, intensitas latihan, kondisi fisik, teknik gerakan, usia, riwayat cedera, serta kondisi lingkungan.
Yang perlu dihindari adalah langsung melakukan aktivitas berat ketika tubuh masih dalam kondisi benar-benar istirahat. Begitu pula dengan menghentikan aktivitas secara tiba-tiba setelah tubuh bekerja keras.
Pada akhirnya, beberapa menit yang digunakan untuk mempersiapkan dan mengakhiri latihan bukan sekadar formalitas. Kebiasaan tersebut membantu membuat transisi aktivitas fisik berlangsung lebih bertahap sekaligus menjadikan rutinitas olahraga lebih terukur dan aman.
Editor : Mahendra Aditya