Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Tan Malaka: Pahlawan Nasional dan Tokoh Perjuangan yang Menginspirasi

uinbroadcasting • Rabu, 15 Juli 2026 | 18:46 WIB
Tan Malaka merupakan Pahlawan Nasional yang dikenal sebagai tokoh perjuangan, pemikir, dan aktivis yang berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Tan Malaka merupakan Pahlawan Nasional yang dikenal sebagai tokoh perjuangan, pemikir, dan aktivis yang berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

RADAR KUDUS - Tan Malaka merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dikenal sebagai aktivis, pemikir, sekaligus pejuang kemerdekaan, Tan Malaka dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 53 yang ditandatangani Presiden Soekarno pada 28 Maret 1963.

Tan Malaka memiliki nama asli Ibrahim dan menyandang gelar adat Minangkabau Datuk Sutan Malaka setelah menjalani upacara adat pada tahun 1913. Ia lahir pada 2 Juni 1897 di Nagari Pandam Gadang, Kabupaten Agam (kini wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota), Sumatera Barat.

Dalam bidang pendidikan, Tan Malaka menempuh pendidikan di Inlandsche Kweekschool voor Onderwijzers di Bukittinggi dan lulus pada 1913. Berkat prestasinya, ia melanjutkan studi ke Rijkskweekschool di Haarlem, Belanda.

Selama berada di Eropa, terutama setelah Revolusi Rusia tahun 1917, ia mulai mendalami pemikiran sosialisme dan komunisme melalui karya-karya Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin.

Setelah kembali ke tanah air, Tan Malaka mengabdikan diri sebagai guru bagi anak-anak pekerja perkebunan tembakau di Deli, Sumatera Timur. Selain mengajar, ia aktif menulis berbagai gagasan yang mengkritisi ketimpangan sosial dan sistem kapitalisme yang berkembang saat itu.

Karier politiknya kemudian berkembang ketika ia pindah ke Pulau Jawa. Ia sempat menjadi anggota sayap kiri Volksraad sebelum mengundurkan diri setahun kemudian. Di Semarang, Tan Malaka mendirikan sekolah rakyat sekaligus aktif dalam dunia pergerakan politik. Pada Desember 1921, ia dipercaya menjadi Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) menggantikan Semaun. Pandangan politiknya yang dianggap radikal membuat pemerintah kolonial Belanda berulang kali mengasingkannya.

Sekitar dua dekade kemudian, setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Tan Malaka kembali ke tanah air. Pada Januari 1946, ia membentuk Persatuan Perjuangan, sebuah koalisi yang menghimpun berbagai organisasi dan mendapat dukungan luas dari rakyat maupun tentara Republik Indonesia.

Namun, pada tahun yang sama, Tan Malaka ditangkap dan dipenjara setelah dituduh menentang kebijakan pemerintah. Ia baru dibebaskan pada 1948, setelah terjadinya Pemberontakan PKI Madiun.

Usai bebas, Tan Malaka merintis pembentukan Partai Murba, meski partai tersebut tidak berhasil menghimpun banyak pengikut. Dalam situasi politik yang tidak menentu, ia kemudian berpindah ke pedesaan di Jawa Timur.

Perjalanan hidup Tan Malaka berakhir tragis. Pada tahun 1949, ia ditangkap dan dieksekusi di wilayah Kediri, Jawa Timur. Selama puluhan tahun, lokasi makamnya tidak diketahui hingga akhirnya ditemukan oleh sejarawan Belanda, Harry A. Poeze, di kawasan Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, di lereng Gunung Wilis.

Pada 16 Februari 2017, keluarga memindahkan jenazah Tan Malaka ke kampung halamannya di Nagari Pandam Gadang, Sumatera Barat, sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya.

Kini, Tan Malaka dikenang sebagai salah satu tokoh besar bangsa yang memberikan kontribusi penting terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pemikiran dan perjuangannya menjadikannya sosok yang kerap dijuluki sebagai "Bapak Republik Indonesia", meskipun kiprahnya dalam sejarah masih belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. (Akbar Anayaka)

Editor : Mahendra Aditya
Sumber : Detik.com
pahlawan bangsa pahlawan