Radar Kudus- Video Assistant Referee (VAR) telah mengubah cara pertandingan sepak bola dijalankan sejak pertama kali diperkenalkan pada Piala Dunia 2018. Teknologi ini diterapkan untuk membantu wasit mengambil keputusan yang lebih akurat dan meminimalkan kesalahan dalam situasi-situasi krusial, seperti penentuan gol, offside, penalti, dan kartu merah.
Sebelum adanya VAR, keputusan pertandingan sepenuhnya bergantung pada penilaian wasit di lapangan. Kini, setiap keputusan penting dapat ditinjau kembali melalui tayangan ulang video sehingga diharapkan mampu meningkatkan keadilan dalam pertandingan.
Meski demikian, penggunaan VAR masih memicu perdebatan di kalangan penggemar sepak bola. Pada Piala Dunia 2026, sejumlah keputusan wasit setelah meninjau VAR kembali menjadi sorotan. Salah satunya terjadi dalam pertandingan Kolombia melawan Portugal. Gol Kolombia pada masa injury time dianulir setelah tayangan VAR menunjukkan ujung kaki pencetak gol berada dalam posisi offside. Keputusan tersebut membuat Kolombia harus puas mengakhiri laga dengan hasil imbang.
Kontroversi serupa juga terjadi pada pertandingan Argentina melawan Mesir. Gol yang dicetak Mostafa Zico dibatalkan setelah VAR menemukan adanya pelanggaran terhadap Lisandro Martínez dalam proses terciptanya gol. Keputusan tersebut kembali memunculkan perdebatan mengenai penggunaan teknologi dalam sepak bola.
Keberadaan VAR dinilai mampu meningkatkan akurasi keputusan wasit dan menegakkan keadilan di lapangan. Namun, di sisi lain, sebagian penggemar menilai proses peninjauan VAR dapat mengurangi ritme permainan dan mengurangi keseruan pertandingan karena sering menghentikan jalannya laga untuk beberapa saat. (Akbar Anayaka)
Editor : uinbroadcasting