RADAR KUDUS - Kemenangan yang dinanti akhirnya tiba bagi Daejeon JungKwanJang Red Sparks.
Usai melewati fase terberat musim ini, tim asal Daejeon itu sukses mematahkan rentetan 11 kekalahan beruntun setelah menundukkan Incheon Heungkuk Life Insurance Pink Spiders pada putaran keenam Liga Voli Korea 2025–2026.
Bermain di Chungmu Gymnasium, Minggu (22/2/2026), Red Sparks menang 3-1 (25-16, 23-25, 25-23, 25-21).
Secara posisi klasemen, hasil ini belum mengangkat mereka dari dasar tabel. Namun secara mental, kemenangan ini bernilai jauh lebih besar.
Sesaat setelah poin terakhir tercipta, Nohran tampak tak kuasa menahan emosi. Ia menunduk, menutup wajah, lalu menangis bahagia di tengah lapangan.
Tangis itu bukan sekadar luapan kegembiraan, melainkan pelepasan beban panjang yang selama berminggu-minggu menghantui tim.
Akhir dari Periode Paling Melelahkan
Red Sparks memasuki laga ini dengan tekanan berlapis. Kepergian Megawati Hangestri Pertiwi ke Indonesia, disusul badai cedera yang menghantam pemain inti, membuat performa tim anjlok drastis. Kekalahan demi kekalahan bukan hanya menggerus poin, tetapi juga rasa percaya diri.
Dalam kondisi seperti itu, kemenangan atas Pink Spiders menjadi titik balik penting. Bukan karena siapa lawannya, melainkan karena Red Sparks akhirnya kembali memegang kendali atas permainan mereka sendiri.
Baca Juga: Red Sparks Akhiri 11 Kekalahan Beruntun, Menang atas Pink Spiders di Daejeon
Start Meyakinkan, Keyakinan Tumbuh
Sejak set pertama, Red Sparks tampil dengan energi berbeda. Servis diarahkan lebih agresif, pertahanan lebih disiplin, dan serangan dijalankan tanpa ragu. Set pembuka ditutup dengan skor telak 25-16—sebuah pernyataan bahwa malam itu mereka datang bukan untuk mengulang luka lama.
Pink Spiders bangkit di set kedua dan mencuri kemenangan 25-23. Namun kali ini Red Sparks tak goyah. Mereka tetap tenang, saling menguatkan, dan menjaga ritme permainan.
Set Ketiga Menguji Mental
Set ketiga menjadi ujian sesungguhnya. Reli panjang, selisih poin tipis, dan tekanan di angka krusial memaksa kedua tim bertarung hingga batas.
Red Sparks keluar sebagai pemenang 25-23, bukan karena dominasi, melainkan karena ketepatan mengambil keputusan di momen genting.
Momentum itu berlanjut ke set keempat. Pink Spiders mencoba memaksakan laga berlanjut ke set penentuan, tetapi Red Sparks menutup rapat semua celah. Skor 25-21 memastikan kemenangan yang telah lama dinanti.
Zanette Tajam, Park Yeo-reum Menjawab Kepercayaan
Elisa Zanette menjadi tumpuan utama dengan 29 poin, menjaga konsistensi serangan dari awal hingga akhir laga.
Namun sorotan emosional tertuju pada Park Yeo-reum. Pemain yang kerap memulai laga dari bangku cadangan itu tampil luar biasa dengan 20 poin, dua blok, 17 penyelamatan, dan tingkat keberhasilan serangan 40,9 persen.
Penampilannya menjadi simbol bahwa Red Sparks masih memiliki kedalaman skuad yang bisa diandalkan.
Pink Spiders Tersandung
Bagi Pink Spiders, kekalahan ini terasa menyesakkan. Ambisi mendekati papan atas kembali tertahan. Tim yang pernah diperkuat legenda voli Korea Kim Yeon-koung itu tetap tertahan di posisi ketiga dengan 53 poin.
Pelatih Tomoka Yoshihara mengkritik akurasi permainan timnya. Ia menilai terlalu banyak kesalahan dalam transisi serangan, servis yang kurang menekan, serta pengambilan keputusan yang rapuh di poin-poin krusial.
Air Mata yang Menjadi Simbol
Tangisan Nohran di akhir laga menjadi gambaran paling jujur dari arti kemenangan ini. Bukan soal poin, bukan pula soal peringkat, melainkan tentang pembebasan dari tekanan panjang yang membelit ruang ganti.
Kemenangan ini memutus narasi negatif yang selama ini menghantui Red Sparks. Mereka kembali memiliki alasan untuk percaya bahwa kerja keras masih berarti.
Bukan Garis Akhir
Putaran keenam masih panjang. Red Sparks masih harus berjuang memperbaiki konsistensi dan hasil. Namun kemenangan atas Pink Spiders telah mengubah atmosfer tim.
Ini bukan akhir perjalanan, melainkan awal kebangkitan.
Dan malam itu, lewat air mata Nohran, Red Sparks menunjukkan satu hal sederhana: mereka belum menyerah.
Editor : Mahendra Aditya