RADAR KUDUS - Laga tandang Persela Lamongan ke markas PSIS Semarang pada Minggu (15/2/2026) bukan sekadar pertandingan pembuka putaran ketiga.
Di balik jadwal itu, tersimpan taruhan besar soal karakter, mental, dan arah baru Persela di fase paling menentukan kompetisi.
Dua pertemuan sebelumnya tak berpihak pada tim biru muda. Kekalahan demi kekalahan dari PSIS meninggalkan jejak psikologis yang tak ringan. Namun kali ini, Persela tak datang membawa dendam kosong. Mereka membawa agenda pembuktian.
Baca Juga: Putaran Ketiga Liga 2 Dimulai, Simak Jadwal Liga 2 Lengkapnya
Putaran Ketiga: Tidak Ada Ruang untuk Bernostalgia
Bagi Persela, putaran ketiga bukan tempat untuk meratapi masa lalu. Justru di fase inilah seluruh pekerjaan rumah harus dibayar lunas.
Pelatih kepala Bima Sakti Tukiman memilih pendekatan tegas namun realistis. Alih-alih mengungkit kekalahan lama, ia menanamkan satu pesan utama kepada pemain: fokus pada apa yang bisa dikendalikan.
“Pertandingan yang lalu sudah selesai. Yang sekarang, kita harus lebih siap,” menjadi nada utama dalam sesi internal tim.
Baca Juga: Skandal Oknum Wasit Liga 2 Diduga Jual Istri untuk Pria Lain, Begini Faktanya
Persiapan Dipadatkan, Intensitas Dinaikkan
Persela memaksimalkan waktu persiapan hingga Kamis (12/2/2026) sebelum bertolak ke Semarang. Program latihan dirancang lebih padat, bukan untuk menguras fisik, tetapi mengasah detail.
Fokus latihan mencakup:
-
Transisi bertahan ke menyerang
-
Ketahanan fisik jelang laga away
-
Pengambilan keputusan di momen krusial
Bima Sakti memahami betul bahwa laga tandang kerap dimenangkan bukan oleh tim paling dominan, melainkan tim yang paling disiplin.
Mental Tandang Jadi Fokus Utama
Jika ada satu aspek yang terus ditekankan dalam persiapan Persela, itu adalah mental bermain di luar kandang.
PSIS dikenal sebagai tim dengan atmosfer kandang yang kuat. Tekanan dari tribun, tempo tinggi sejak menit awal, dan pengalaman pemain lawan menjadi kombinasi berbahaya.
“Ini laga away. Mental itu kunci,” tegas Bima.
Ia menuntut pemain tetap tenang, tidak terpancing, dan mampu membaca ritme pertandingan. Kesalahan kecil di laga tandang sering kali berujung fatal.
Belajar dari Dua Kekalahan Tanpa Terjebak Trauma
Menariknya, kekalahan Persela dari PSIS di putaran pertama dan kedua tidak dijadikan beban, melainkan bahan evaluasi teknis.
Tim pelatih memutar ulang rekaman pertandingan, mengidentifikasi celah, dan mencari solusi praktis. Evaluasi dilakukan tanpa emosi berlebih.
Pendekatan ini menandai perubahan cara pandang Persela: lebih rasional, lebih dewasa, dan lebih siap menghadapi tekanan.
Bima Sakti dan Proyek Kedewasaan Tim
Sebagai mantan pelatih timnas kelompok umur, Bima Sakti membawa filosofi berbeda. Ia tidak sekadar menuntut hasil instan, tetapi membangun kedewasaan bermain.
Ia ingin para pemain:
-
Tidak panik saat ditekan
-
Berani mengambil keputusan
-
Bermain enjoy tanpa kehilangan disiplin
Menurutnya, pemain yang terlalu terbebani target justru rentan membuat kesalahan.
PSIS Bukan Lawan Sembarangan
Bima Sakti tidak menutup mata terhadap kualitas PSIS. Tim Mahesa Jenar dihuni pemain-pemain berpengalaman yang paham bagaimana mengelola pertandingan.
Kekuatan PSIS terletak pada:
-
Penguasaan tempo
-
Kedalaman skuad
-
Kemampuan mengunci keunggulan
Karena itu, Persela menyiapkan pendekatan fleksibel. Tidak selalu menekan, tidak pula sekadar bertahan.
Kondisi Tim Jadi Modal Penting
Kabar positif datang dari ruang ganti Persela. Seluruh pemain berada dalam kondisi bugar dan siap tampil. Tidak ada laporan cedera serius jelang keberangkatan ke Semarang.
Nama-nama senior seperti Hendro Siswanto diharapkan menjadi penyeimbang di lapangan, terutama dalam situasi sulit.
Kepemimpinan di atas lapangan akan sangat menentukan ketika tekanan meningkat.
Target Realistis: Poin di Semarang
Alih-alih memasang target bombastis, Persela memilih sikap realistis. Fokus utama adalah meraih poin, bukan sekadar tampil berani.
Pendekatan ini mencerminkan kedewasaan baru dalam manajemen target. Di putaran ketiga, satu poin di kandang lawan bisa menjadi aset berharga di klasemen akhir.
Laga Ini Lebih dari Sekadar Pertandingan
Bagi Persela, duel kontra PSIS adalah:
-
Ujian mental tandang
-
Tolok ukur progres tim
-
Penentu arah langkah di putaran ketiga
Hasil laga ini akan memberi sinyal jelas: apakah Persela benar-benar siap naik level, atau masih terjebak pola lama.
Persela Lamongan tidak datang ke Semarang hanya untuk membalas kekalahan. Mereka datang untuk menguji versi baru diri mereka sendiri.
Jika mampu keluar dari tekanan dan bermain sesuai rencana, hasil positif bukan hal mustahil. Putaran ketiga selalu milik tim yang paling siap secara mental, bukan sekadar teknis.
Editor : Mahendra Aditya