Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Janice Tjen Tampil Baik, Dapat Pujian dari Iga Swiatek saat Berjumpa di Qatar Open 2026

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 11 Februari 2026 | 16:05 WIB

Janice Tjen
Janice Tjen

RADAR KUDUS - Kekalahan tidak selalu berarti kemunduran. Di Doha, Qatar, Janice Tjen justru pulang membawa sesuatu yang lebih berharga dari sekadar kemenangan: pengakuan langsung dari petenis nomor dua dunia, Iga Swiatek.

Meski langkah Janice terhenti di babak kedua Qatar Open 2026, nama petenis Indonesia itu mendadak menjadi perbincangan setelah Swiatek membandingkan gaya bermainnya dengan Ash Barty, mantan petenis nomor satu dunia yang dikenal sebagai salah satu pemain paling komplet dalam sejarah tenis modern.

Bagi pemain yang tengah membangun reputasi di level WTA, perbandingan tersebut bukan pujian biasa. Itu adalah sinyal bahwa permainan Janice dibaca, dihormati, dan diingat oleh elite dunia.

Baca Juga: Format Baru AFC Untuk Asian Games 2026, Bikin Timnas Indonesia U-23 Tak Bisa Tampil


Skor Telak, Tapi Cerita Tak Sesederhana Angka

Swiatek memastikan tiket ke babak ketiga usai menang dua set langsung 6-0, 6-3 dalam laga yang berlangsung di Khalifa International Tennis and Squash Complex, Selasa (10/2/2026).

Set pertama memang berjalan cepat, mencerminkan jarak pengalaman di antara keduanya.

Namun di set kedua, Janice mulai menemukan ritme. Variasi pukulan, perubahan tempo, dan keberanian mengambil risiko membuat Swiatek harus keluar dari pola main rutinnya.

Justru di titik inilah kualitas Janice terlihat—bukan dari angka di papan skor, melainkan dari cara lawan harus beradaptasi.

Baca Juga: Harga Perak Antam Koreksi 11 Februari 2026, Turun Rp600, Pilihan Rasional Investor Logam Mulia


Pujian Langsung: Gaya Main yang “Tidak Biasa”

Usai pertandingan, Swiatek mengakui bahwa Janice menghadirkan tantangan yang tidak ia temui setiap pekan di tur WTA.

Ia menyebut gaya permainan Janice mengingatkannya pada Ash Barty—pemain yang dikenal dengan slice mematikan, variasi tak terduga, serta kecerdasan membaca situasi.

“Pilihan-pilihan pukulannya membuat saya harus menyesuaikan ritme. Rasanya seperti nostalgia, mengingatkan saya pada Ash Barty,” ujar Swiatek, dikutip dari Tennis Temple.

Dalam bahasa tenis profesional, pernyataan itu berarti satu hal: Janice punya identitas permainan.


Mengapa Perbandingan dengan Ash Barty Sangat Penting

Ash Barty bukan sekadar mantan juara Grand Slam. Ia adalah simbol tenis modern yang efisien, cerdas, dan tidak bergantung pada kekuatan semata.

Tiga gelar Grand Slam dan status nomor satu dunia ia raih tanpa harus bermain agresif sepanjang waktu.

Ketika Janice disandingkan dengan Barty, itu menandakan bahwa permainannya:

Bagi pemain muda atau non-unggulan, karakter seperti ini sering menjadi senjata utama untuk menembus level atas.

Baca Juga: PN Jaksel Tolak Praperadilan Richard Lee, Bukti Dianggap Cukup


Doha dan Momentum Mental Janice

Qatar Open 2026 menjadi panggung penting bagi Janice, bukan karena hasil akhir, melainkan pengalaman bertanding melawan salah satu pemain terbaik dunia dalam kondisi kompetitif.

Di turnamen elite seperti ini, pelajaran terbesar sering datang dari kekalahan. Janice kini memiliki referensi langsung: bagaimana ritme Swiatek, bagaimana tekanan level atas bekerja, dan apa yang masih perlu diasah.

Pujian dari Swiatek menegaskan bahwa Janice tidak sekadar “ikut bertanding”, melainkan ikut memengaruhi jalannya pertandingan.

Baca Juga: Marak Hoaks BSU, Waspadai Link Palsu dan Permintaan PIN atau Kode OTP


Swiatek: Nyaman di Doha, Tetap Waspada

Bagi Swiatek sendiri, kemenangan ini menjadi bagian dari langkah awalnya di Doha—kota yang ia akui memiliki tempat spesial dalam kariernya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada publik Qatar yang memberi dukungan sejak laga pembuka.

Namun di balik rasa nyaman tersebut, Swiatek menunjukkan satu hal: ia tidak meremehkan lawan, siapa pun peringkatnya.

Pengakuannya terhadap Janice menjadi bukti bahwa profesionalisme di level atas tidak hanya soal menang, tetapi juga menghargai kualitas lawan.


Janice Tjen dan Jalan Panjang Karier Internasional

Meski harus angkat koper lebih cepat, Janice membawa pulang modal penting: pengalaman, kepercayaan diri, dan pengakuan global.

Di dunia tenis, reputasi sering dibangun dari momen-momen seperti ini—saat seorang pemain membuat lawan kelas dunia harus mengingat namanya.

Jika konsistensi dan jam terbang terus meningkat, gaya bermain yang “tidak biasa” justru bisa menjadi pembeda Janice di tengah persaingan WTA yang padat.


Kekalahan yang Menaikkan Nilai

Jarang dibahas, tapi dalam tenis profesional, kekalahan berkualitas sering menaikkan nilai seorang pemain lebih cepat dibanding kemenangan biasa. Janice Tjen mengalaminya di Doha.

Ia kalah, tapi:

Semua itu adalah mata uang penting dalam karier jangka panjang.

Editor : Mahendra Aditya
#qatar open 2026 #petenis indonesia #Janice Tjen vs Iga Swiatek #janice tjen #Iga Swiatek #tenis lapangan #gaya bermain Janice Tjen mirip Ash Barty