Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

PSGC Ciamis Promosi Liga 2, Pelatih: Ini Hasil Kerja Keras, Bukan Keberuntungan

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 10 Februari 2026 | 18:17 WIB

 

Tim PSGC Ciamis di Liga Nusantara 2025/2026
Tim PSGC Ciamis di Liga Nusantara 2025/2026

RADAR KUDUS - Kepastian lolosnya PSGC Ciamis ke Liga 2 Indonesia musim 2026 bukan sekadar pencapaian kompetisi.

Lebih dari itu, momen ini menjadi penanda kebangkitan sepak bola daerah yang sempat lama tenggelam dari panggung nasional.

Euforia yang meliputi Kabupaten Ciamis sejak awal pekan ini mencerminkan satu hal: PSGC bukan hanya milik pemain dan manajemen, melainkan milik masyarakatnya.

Baca Juga: RANS Nusantara, Dejan FC, dan PSGC Ciamis Resmi Naik Kasta Liga 2 Championship 2026–2027

Penyambutan resmi yang digelar Pemerintah Kabupaten Ciamis di Pendopo pada Senin (9/2/2026) menjelma menjadi perayaan rakyat.

Ribuan suporter turun ke jalan, mengiringi kepulangan skuad Laskar Singacala sejak tiba di stasiun hingga konvoi berakhir di pusat pemerintahan daerah.

Sepanjang rute utama kota, sorak-sorai dan yel-yel kebanggaan menggema, menandai ikatan emosional yang kuat antara klub dan publiknya.

Bupati Ciamis Herdiat Sunarya hadir langsung menyambut para pemain dan ofisial. Dalam kapasitasnya sebagai kepala daerah sekaligus CEO PSGC Ciamis, Herdiat menegaskan bahwa promosi ini merupakan buah kerja kolektif yang panjang dan melelahkan.

Ia menyebut keberhasilan menembus Liga 2 sebagai hasil konsistensi, disiplin, serta kepercayaan yang dijaga bersama dalam situasi apa pun.

Baca Juga: 57 Pemain Asing di Liga 2 Championship, Didominasi dari Brasil

Menurut Herdiat, prestasi PSGC bukan hanya tentang naik kasta kompetisi, melainkan tentang memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap potensi sepak bola Ciamis.

Ia mengingatkan bahwa penantian menuju level ini tidak singkat, bahkan memakan waktu lebih dari satu dekade sejak momen terakhir PSGC bersaing di level nasional secara kompetitif.

“Ini bukan kemenangan satu tim. Ini kemenangan seluruh warga Ciamis. Ada doa, ada kesabaran, dan ada keyakinan yang tidak pernah putus,” ujar Herdiat di hadapan pemain dan suporter.

Jika menengok ke belakang, PSGC pernah mencatatkan prestasi penting pada 2013 saat berhasil promosi dari Divisi I ke Divisi Utama Liga Indonesia.

Setahun berselang, performa impresif membuat klub asal Tatar Galuh ini mulai diperhitungkan. Namun dinamika kompetisi nasional yang terus berubah membuat PSGC kembali harus memulai dari bawah.

Kini, lebih dari sepuluh tahun setelah masa emas itu, PSGC kembali mencetak sejarah. Promosi ke Liga 2 2026 menjadi bukti bahwa semangat klub tidak pernah padam, meski harus melewati fase sulit dan transisi panjang. Bagi Ciamis, ini bukan nostalgia, tetapi babak baru.

Dari sudut pandang pembangunan olahraga daerah, capaian PSGC memiliki arti strategis. Pemerintah Kabupaten Ciamis melihat momentum ini sebagai pintu masuk untuk memperkuat pembinaan usia muda dan ekosistem sepak bola lokal.

Harapannya, keberhasilan PSGC dapat menular ke sektor lain, termasuk pencarian bakat, pembinaan akademi, hingga peningkatan fasilitas olahraga.

Di balik kesuksesan tersebut, peran pelatih kepala Herry Kiswanto menjadi faktor krusial. Ia harus meramu komposisi pemain yang tidak homogen—mulai dari pemain muda, setengah matang, hingga senior—dalam satu tim yang solid. Tantangan terbesar bukan semata taktik, melainkan manajemen emosi dan konsistensi performa.

Herry mengakui bahwa karakter pemain muda kerap fluktuatif. Grafik permainan bisa naik tajam, lalu turun tanpa diduga.

Situasi ini menuntut pendekatan berbeda, terutama dalam komunikasi dan psikologi pemain. Ia menekankan pentingnya memahami fase perkembangan pemain, bukan sekadar menuntut hasil instan.

“Melatih pemain muda itu ada seninya. Tidak bisa disamakan dengan senior. Harus sabar, harus diajak bicara, dan harus diberi ruang untuk berkembang,” kata Herry.

Persaingan di fase penentuan promosi juga disebut berlangsung ketat. Setiap laga menjadi ujian mental dan strategi.

Evaluasi dilakukan hampir setiap hari, baik terhadap performa individu maupun kolektif. Dari proses itulah tim perlahan menemukan bentuk terbaiknya hingga akhirnya memastikan tiket ke Liga 2.

Bagi Herry, promosi ini adalah hasil dari konsistensi kerja, bukan keberuntungan. Ia juga menekankan bahwa perjalanan PSGC belum selesai.

Tantangan sesungguhnya justru baru dimulai saat berlaga di Liga 2, kompetisi dengan intensitas dan tekanan yang jauh lebih tinggi.

Ia berharap dukungan masyarakat Ciamis tetap terjaga, tidak hanya saat tim berada di puncak euforia, tetapi juga ketika menghadapi masa sulit. Menurutnya, dukungan suporter memiliki dampak langsung terhadap mental pemain, terutama di laga-laga krusial.

“Kalau ingin PSGC benar-benar kuat, dukungan itu harus konsisten. Bukan hanya saat menang, tapi juga saat kalah,” ujarnya.

Penyambutan meriah di Pendopo Ciamis menjadi simbol kuat dari sinergi tiga elemen: tim, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Ketiganya saling menguatkan dalam satu tujuan—mengembalikan marwah sepak bola Ciamis di level nasional.

Dengan promosi ke Liga 2 2026, PSGC tidak hanya membawa nama klub, tetapi juga identitas daerah.

Di tengah ketatnya persaingan sepak bola Indonesia, Ciamis kini kembali punya wakil yang siap bersaing dan membuktikan diri.

Jika momentum ini mampu dijaga dengan tata kelola yang sehat, pembinaan berkelanjutan, dan dukungan publik yang konsisten, PSGC Ciamis berpotensi menjadi lebih dari sekadar peserta Liga 2.

Ia bisa tumbuh menjadi simbol kebangkitan sepak bola daerah yang dibangun dari akar rumput, bukan semata ambisi sesaat.

Editor : Mahendra Aditya
#Persiba vs PSGC Ciamis #ciamis #Psgc ciamis vs persiba bantul #promosi Liga 2 #psgc ciamis promosi liga 2 #psgc ciamis #promosi Liga 2 Championship 2026 #Liga 2