Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

PSIS Semarang Susun Puzzle Pemain pada bursa transfer untuk Bertahan di Liga 2 Championship 2025–2026

Mahendra Aditya Restiawan • Senin, 9 Februari 2026 | 19:32 WIB
Pemain PSIS Semarang sedang melakukan pemanasan
Pemain PSIS Semarang sedang melakukan pemanasan

RADAR KUDUS - Di tengah hiruk-pikuk bursa transfer paruh musim Championship 2025–2026, PSIS Semarang memilih jalur sunyi.

Tanpa konferensi pers megah, tanpa video pengumuman bombastis, Mahesa Jenar justru menyelipkan dua nama baru di detik-detik akhir tenggat.

Langkah ini bukan sekadar belanja pemain—ini soal bertahan hidup.

Dua pemain yang didaftarkan adalah Fridolin Kristof Yoku, gelandang bertahan milik Persipura Jayapura, serta Thaufan Hidayat, striker Deltras FC. Keduanya resmi tercatat di sistem operator liga, meski belum diperkenalkan secara formal ke publik.

Dalam konteks posisi PSIS yang masih rawan di klasemen Grup B (Timur), keputusan ini mengandung pesan jelas: PSIS tidak sedang membangun tim glamor, melainkan tim yang tahan banting.

Baca Juga: Checklist PSIS Semarang, Sudah Borong 19 Pemain dan Laga Ujicoba, Tinggal Buktikan pada Putaran Ketiga Liga 2 Championship 2025/2026


Bukan Soal Nama, Tapi Fungsi

Jika ditelisik, dua rekrutan ini bukan tipikal pemain yang memantik euforia suporter. Namun justru di situlah letak kalkulasinya.

Fridolin Kristof Yoku (28) adalah gelandang bertahan dengan profil pekerja. Ia bukan pemain dengan statistik mencolok, tetapi dikenal disiplin menjaga ruang, kuat duel, dan konsisten dalam menjaga ritme permainan.

Di tengah lini PSIS yang kerap kehilangan keseimbangan pada putaran sebelumnya, kehadiran Yoku berfungsi sebagai penyeimbang.

Sementara itu, Thaufan Hidayat (32) hadir membawa pengalaman. Striker asal Gresik ini sudah mencatat 2 gol dan 2 assist dari 8 laga bersama Deltras FC musim ini. Angka yang mungkin terlihat sederhana, tetapi relevan untuk tim yang membutuhkan efisiensi, bukan sekadar jumlah peluang.

PSIS tampaknya sadar betul bahwa masalah mereka bukan hanya taktik, melainkan kedalaman skuad dan konsistensi kontribusi.

Baca Juga: Putaran Ketiga Liga 2 PSIS Semarang, Setiap Laga Adalah Final!


Rekrutan ke-18 dan 19: Cermin Musim yang Tidak Normal

Masuknya Yoku dan Thaufan menjadikan mereka rekrutan ke-18 dan 19 PSIS pada paruh musim ini—angka yang tidak lazim.

Fakta ini menunjukkan satu hal: PSIS sedang menjalani musim penuh koreksi. Banyaknya keluar-masuk pemain menjadi refleksi pencarian formula yang tak kunjung tuntas sejak awal kompetisi.

Alih-alih menutup mata, manajemen memilih bersikap adaptif. Risiko besar, tetapi lebih berbahaya jika bertahan dengan komposisi yang sudah terbukti rapuh.


TC Yogyakarta: Ruang Evaluasi, Bukan Sekadar Pemanasan

Saat dua pemain anyar belum bergabung, PSIS menjalani training camp (TC) di Yogyakarta. Agenda ini bukan hanya pemanasan jelang putaran ketiga, tetapi ruang evaluasi besar-besaran.

Uji coba melawan UAD FC (Liga 4) memang berakhir dengan skor telak 9-0, namun skor besar bukan fokus utama. Yang lebih penting adalah bagaimana pemain merespons sistem baru yang sedang diuji.

Laga tersebut menjadi panggung bagi Krisna Jhon, striker muda PSIS yang mencetak 5 gol. Empat gol lain disumbangkan Beto Goncalves, M. Rio, Ocvian Chanigio, dan Tegar Infantrie.

Hasil ini memberi sinyal bahwa PSIS masih punya potensi ofensif—asal sistemnya berjalan.

Baca Juga: Selain Andalkan 19 Rekrutan Pemain Baru, PSIS Semarang Dapat Support Penuh dari Panser Biru dan Snex


Tanpa Pelatih Kepala, PSIS Bertaruh pada Struktur

Uniknya, PSIS masih belum menunjuk pelatih kepala definitif usai memecat Jafri Sastra di akhir putaran kedua. Posisi strategis itu sementara ditopang oleh Alfredo Vera sebagai direktur teknik.

Dalam situasi normal, kondisi ini bisa menjadi bumerang. Namun PSIS memilih pendekatan berbeda: menguatkan struktur dan data, bukan figur semata.

“Terlepas dari hasil, kami ingin mengobservasi dan menganalisis pemain untuk sistem yang sedang dikembangkan,” ujar Alfredo Vera.

Pernyataan ini menegaskan bahwa PSIS tidak ingin sekadar reaktif. Mereka membangun keputusan berbasis data performa, bukan insting sesaat.


Target Realistis: Bertahan Lebih Dulu

Berbeda dari klub-klub yang lantang berbicara promosi, PSIS justru memasang target paling jujur: bertahan di kasta kedua.

Saat ini Mahesa Jenar berada di peringkat ke-9 Grup B (Timur)—zona yang belum sepenuhnya aman. Putaran ketiga akan menjadi fase penentuan, bukan hanya soal poin, tetapi juga arah masa depan klub.

Masuknya pemain berpengalaman seperti Thaufan dan pekerja lini tengah seperti Yoku memperlihatkan bahwa PSIS memilih jalan rasional, bukan ambisi kosong.


Bursa Senyap, Efek Panjang

Langkah PSIS menambah pemain di menit akhir bursa menyiratkan strategi yang jarang dibahas: tim yang bertahan seringkali dibangun tanpa sorotan.

Tidak semua klub butuh transfer bombastis. Kadang, yang dibutuhkan adalah pemain yang tahu perannya, mau bekerja dalam sistem, dan tidak membawa ego berlebih.

Jika dua rekrutan ini mampu beradaptasi cepat, PSIS bisa mendapatkan lebih dari sekadar tambahan tenaga—mereka bisa mendapatkan stabilitas.

Editor : Mahendra Aditya
#pemain baru psis #Liga 2 Championship 2025 2026 #Liga 2 Championship Grup Timur #transfer pemain psis semarang #psis #PSIS Semarang #pemain baru psis semarang #Liga 2 #Liga 2 Championship