RADAR KUDUS - Inter Milan pulang dari Stadion Mapei dengan pesan yang tak bisa diabaikan siapa pun di papan atas Serie A.
Kemenangan telak 5-0 atas Sassuolo pada giornata ke-24 Liga Italia 2025/2026 bukan hanya menegaskan posisi mereka di puncak klasemen, tetapi juga memotret jarak kualitas, kedalaman skuad, dan kematangan mental yang kini dimiliki I Nerazzurri.
Laga Minggu (8/2/2026) atau Senin dini hari WIB itu menyajikan banyak lapisan cerita. Ada rekor individu Lautaro Martinez, kontribusi tak langsung Jay Idzes dalam terciptanya gol, rapuhnya duet bek Sassuolo, hingga pesan simbolik bahwa Inter sedang berada pada fase paling berbahaya musim ini.
Awal Sulit, Tekanan Tuan Rumah
Menariknya, pertandingan tidak langsung berjalan satu arah. Sassuolo justru memulai laga dengan agresif.
Pressing tinggi dan penguasaan bola membuat Inter sempat kesulitan keluar dari tekanan. Dalam lima menit pertama, Andrea Pinamonti mendapat peluang emas dari jarak dekat, memaksa Yann Sommer melakukan penyelamatan penting.
Inter merespons dengan pendekatan pragmatis. Mereka tidak memaksakan tempo, menunggu celah, dan memanfaatkan bola mati. Strategi itu terbukti efektif.
Bola Mati, Awal Keruntuhan
Menit ke-11 menjadi titik balik. Sepak pojok Federico Dimarco diarahkan ke jantung pertahanan Sassuolo.
Yann Bisseck memenangi duel udara dan menyundul bola ke tanah. Pantulan yang sulit dibaca membuat Arijanet Muric terlambat bereaksi. Inter unggul 1-0, dan ritme laga perlahan berubah.
Gol ini memukul kepercayaan diri tuan rumah. Meski Sassuolo masih mencoba menekan, struktur pertahanan mereka mulai goyah.
Jay Idzes dan Tarik Muharemovic dipaksa bekerja ekstra menghadapi mobilitas lini depan Inter.
Dimarco Jadi Poros Serangan
Federico Dimarco tampil sebagai motor utama. Selain aktif dalam transisi, akurasi umpannya menjadi sumber masalah bagi Sassuolo. Tendangan bebasnya nyaris menggandakan skor jika tidak menghantam mistar.
Gol kedua akhirnya datang pada menit ke-28. Dimarco kembali mengirimkan umpan silang presisi yang disambar Marcus Thuram dengan sepakan first time. Skema sederhana, eksekusi klinis. Inter menjauh 2-0.
Sassuolo sempat berharap saat Kristian Thorstvedt mencetak gol menjelang turun minum.
Namun, VAR menganulirnya karena offside tipis Armand Lauriente. Babak pertama ditutup dengan keunggulan dua gol Inter, meski tuan rumah merasa tak sepenuhnya kalah bermain.
Jay Idzes dan Momen yang Mengubah Narasi
Babak kedua baru berjalan lima menit ketika momen krusial terjadi. Lemparan ke dalam Inter disapu Jay Idzes dengan sundulan. Alih-alih menjauhkan bahaya, bola justru jatuh di kaki Lautaro Martinez.
Tanpa ragu, kapten Inter itu mengontrol bola dan melepaskan setengah voli yang bersarang di gawang. Gol ketiga Inter sekaligus momen bersejarah bagi Lautaro.
Gol tersebut membuat penyerang Argentina itu mengoleksi 171 gol bersama Inter di semua kompetisi. Ia menyamai catatan Roberto Boninsegna dan naik ke posisi ketiga daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub.
Bagi Jay Idzes, ini adalah momen pahit. Bukan karena kesalahan fatal, melainkan karena satu keputusan kecil dalam sepersekian detik yang langsung dihukum oleh pemain kelas dunia.
Kartu Merah dan Keruntuhan Total
Tiga menit berselang, Inter kembali menghukum Sassuolo. Sepak pojok Dimarco—asis ketiganya malam itu—diselesaikan Manuel Akanji.
Protes keras pemain Sassuolo terhadap proses gol berujung kartu merah bagi Nemanja Matic. Sejak menit ke-55, tuan rumah bermain dengan sepuluh orang.
Situasi ini mengubah laga menjadi satu arah. Inter leluasa mengontrol bola, memutar tempo, dan menyerang tanpa tekanan berarti.
Thuram dan Dimarco nyaris menambah gol, sementara Sassuolo bertahan sekadar untuk membatasi kerusakan.
Penutup Elegan
Gol kelima datang jelang laga usai. Umpan lambung Petar Sucic sempat disentuh kepala Tarik Muharemovic, tetapi bola jatuh ke arah Luis Henrique. Dengan satu kontrol, pemain Brasil itu melepaskan voli keras yang tak terjangkau Muric.
Skor 5-0 menjadi penutup malam kelam Sassuolo.
Angle Berbeda: Pesan Kekuatan Inter
Lebih dari sekadar skor, kemenangan ini adalah pernyataan. Inter menunjukkan bahwa mereka mampu menang besar bahkan ketika sempat ditekan di awal laga.
Kedalaman skuad, efektivitas bola mati, dan ketajaman Lautaro menjadi kombinasi yang sulit ditandingi.
Cristian Chivu tak hanya membangun tim yang solid, tetapi juga efisien. Inter tidak membutuhkan dominasi mutlak untuk mencetak lima gol. Mereka hanya butuh momen, dan memanfaatkannya tanpa kompromi.
Dampak bagi Sassuolo
Bagi Sassuolo, kekalahan ini membuka pekerjaan rumah besar. Duet bek yang selama ini diandalkan terlihat kewalahan saat menghadapi variasi serangan.
Jay Idzes dan Muharemovic dipaksa menghadapi kualitas individu di atas rata-rata, dan hasilnya terlihat jelas.
Inter di Jalur Juara
Dengan kemenangan ini, Inter Milan kian kokoh di puncak klasemen Serie A. Lebih penting lagi, mereka mengirim sinyal kepada para pesaing: satu kesalahan kecil saja, dan Anda akan dihukum habis.
Musim masih panjang, tetapi Inter sedang berada di fase di mana mereka bukan hanya menang—mereka mendominasi cerita.
Editor : Mahendra Aditya