Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Anfield Tak Lagi Angker: City Akhiri Kutukan 89 Tahun atas Liverpool

Mahendra Aditya Restiawan • Senin, 9 Februari 2026 | 07:49 WIB

 

 

Haaland selebrasi gol
Haaland selebrasi gol

RADAR KUDUS - Sejarah panjang rivalitas Manchester City dan Liverpool akhirnya berbelok tajam di Anfield.

Kemenangan 2-1 pada pekan ke-25 Liga Inggris 2025/2026 bukan sekadar tiga poin bagi City.Hasil ini memutus penantian hampir satu abad—tepatnya 89 tahun—untuk menaklukkan Liverpool dua kali dalam satu musim liga. Sebuah rekor buruk yang selama puluhan tahun menjadi bayang-bayang, kini resmi runtuh.

Pertandingan Minggu (8/2/2026) WIB itu menyajikan ironi klasik sepak bola. City tampil dominan sejak awal, menguasai bola, menekan lini tengah, dan memaksa Liverpool bertahan lebih dalam.

Namun, dominasi tak selalu identik dengan keunggulan skor. Justru tuan rumah yang lebih dulu bersorak lewat satu momen brilian.

Baca Juga: Arne Slot Kritik Wasit Buntut Kalahnya Liverpool dari Manchester City

Gol Indah, Dominasi yang Tertunda

Menit ke-74 menjadi titik ledak Anfield. Dominik Szoboszlai mengeksekusi tendangan bebas dari jarak jauh dengan teknik knuckle shot.

Bola meluncur liar, membentur tiang, lalu bersarang di gawang Gianluigi Donnarumma. Sebuah gol yang lahir dari kualitas individu, bukan dari alur dominasi permainan.

City tertampar, tetapi tidak goyah. Respons mereka cepat dan terukur. Sepuluh menit berselang, tekanan berlapis membuahkan hasil. Erling Haaland memenangi duel udara, bola jatuh ke area berbahaya, dan Bernardo Silva menyambarnya dengan sentuhan ringan. Skor kembali seimbang, dan atmosfer stadion berubah.

Puncak drama datang di masa injury time. Pelanggaran Alisson Becker terhadap Matheus Nunes berujung penalti. Haaland, yang sepanjang laga menjadi pusat perhatian bek Liverpool, maju sebagai algojo. Tanpa ragu, ia mengirim bola ke gawang dan memastikan kemenangan City pada menit ke-90+2.

Rekor yang Akhirnya Patah

Di balik skor 2-1, tersembunyi makna historis yang jauh lebih besar. Menurut data Whoscored, kemenangan ini menandai pertama kalinya Manchester City mampu meraih kemenangan back-to-back atas Liverpool dalam satu musim Liga Inggris sejak 1936/1937.

Pada musim tersebut—era ketika sepak bola Inggris masih jauh dari hiruk-pikuk global—City menang 5-0 di Anfield dan 5-1 di kandang sendiri. Setelah itu, selama 89 tahun, skenario serupa tak pernah terulang.

Liverpool selalu menemukan cara untuk setidaknya menahan, atau membalas, kemenangan City di musim yang sama.

Musim 2025/2026 akhirnya menghapus kutukan itu. City menang 3-0 di Etihad pada pertemuan pertama, lalu menutupnya dengan kemenangan 2-1 di Anfield. Dua stadion, dua hasil, satu pesan: dominasi lama Liverpool atas City di liga domestik tak lagi absolut.

Lebih dari Sekadar Statistik

Kemenangan ini terasa istimewa bukan hanya karena rekor. Ia datang di momen krusial perburuan gelar. Sebelum bertandang ke Anfield, City tertinggal sembilan poin dari Arsenal di puncak klasemen. Kekalahan akan membuat jarak melebar dan nyaris menutup pintu juara.

Hasil di Anfield memangkas selisih menjadi enam poin. Secara matematis, peluang masih terbuka. Secara psikologis, kemenangan ini memberi suntikan keyakinan besar.

Bernardo Silva, yang mencetak gol penyeimbang, mengakui betapa beratnya tekanan sebelum laga. Ia menegaskan bahwa seluruh tim sadar, kegagalan di Anfield bisa menjadi titik akhir ambisi musim ini.

“Jika kami kalah, perburuan gelar mungkin sudah selesai,” ujarnya. Pernyataan itu mencerminkan betapa laga ini dipandang sebagai partai penentu, bukan sekadar jadwal rutin.

Yang kerap luput dari sorotan adalah pergeseran mentalitas. Selama bertahun-tahun, Anfield dikenal sebagai medan yang sulit—bahkan menakutkan—bagi City.

Banyak tim datang dengan beban sejarah. Kali ini berbeda. City bermain dengan kesabaran, menerima ketertinggalan, lalu menghukum.

Liverpool, sebaliknya, tampak rapuh saat momentum berbalik. Gol Szoboszlai sempat menjadi simbol perlawanan, tetapi keunggulan itu tak bertahan lama.

Dalam konteks persaingan elite, kegagalan mengelola momen sering kali lebih menentukan daripada statistik penguasaan bola.

Dampak Ganda bagi Liverpool

Bagi Liverpool, kekalahan ini membawa konsekuensi serius. Target menembus lima besar kian terjal. The Reds kini tertinggal empat poin dari Chelsea yang menghuni posisi kelima.

Situasi makin rumit karena Everton mengintai dari belakang dengan selisih hanya dua poin.

Tekanan datang dari dua arah: ke atas dan ke bawah. Kekalahan di kandang, terlebih dengan latar sejarah yang dipatahkan, memperbesar sorotan terhadap konsistensi dan daya saing mereka musim ini.

City dan Narasi Musim

Bagi Manchester City, kemenangan ini menambah lapisan baru dalam narasi musim 2025/2026. Ini bukan hanya tentang mengejar Arsenal, melainkan tentang membuktikan bahwa mereka mampu menembus batas-batas historis yang selama ini menghambat.

Mematahkan rekor 89 tahun di kandang lawan sekelas Liverpool adalah pernyataan. Bahwa City kini tak sekadar kuat secara teknis, tetapi juga matang secara mental.

Musim masih panjang, perburuan gelar belum selesai. Namun, Anfield telah memberi satu kepastian: ada sejarah yang berubah, dan arah persaingan yang tak lagi sama.

Editor : Mahendra Aditya
#Haaland #dominic szoboszlai #arne slot #Head to head Man City vs Liverpool #klasemen liga Inggris 2026 #susunan pemain man city vs liverpool #man city #Prediksi Man City vs Liverpool #liverpool #man city vs liverpool