Jakarta - Keunggulan Indonesia ternyata belum menjadi akhir cerita. Jepang kembali menemukan celah di saat-saat paling menegangkan. Dalam situasi bertahan total, Indonesia dipaksa turun terlalu dalam hingga tekanan Jepang menumpuk di depan gawang.
Petaka datang ketika sebuah kemelut terjadi di area berbahaya. Bola liar memantul di depan gawang Ahmad Habiebie. Dalam upaya refleks menghalau ancaman, salah satu pemain Indonesia tak sengaja menyentuh bola dengan tangan di jarak yang sangat dekat.
Wasit tanpa ragu menunjuk titik putih.
Protes sempat dilayangkan. Pemain Indonesia mencoba menjelaskan bahwa sentuhan terjadi dalam jarak yang nyaris mustahil dihindari. Namun keputusan tak berubah. Penalti untuk Jepang.
Shimizu kembali maju. Sosok yang sebelumnya sudah memukul mental Indonesia kini berdiri sebagai eksekutor di momen paling menentukan.
Dengan langkah tenang dan tatapan dingin, Shimizu melepaskan tembakan penalti ke sisi kiri gawang. Habiebie sudah bergerak ke arah yang benar, tetapi bola melaju terlalu kencang dan terlalu presisi.
Gol.
Skor kembali imbang.
Shimizu lagi-lagi menjadi mimpi buruk. Jepang kembali hidup. Indonesia kembali diuji.
Gol penalti ini menegaskan betapa tipisnya batas antara euforia dan kekecewaan di level semifinal Asia. Dalam hitungan menit, keunggulan Indonesia terhapus, dan pertandingan kembali berubah menjadi pertarungan mental tanpa ampun.
Di sisa waktu, bukan lagi soal siapa yang paling dominan, melainkan siapa yang mampu bertahan dari tekanan, kesalahan kecil, dan keberanian mengambil keputusan di bawah sorotan sejarah.
Editor : Mahendra Aditya