Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

PSIS Semarang Dua Pekan Pemusatan Latihan di Yogyakarta, Tanpa Pelatih?

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 4 Februari 2026 | 18:26 WIB
Beto Goncalves PSIS Semarang
Beto Goncalves PSIS Semarang

RADAR KUDUS - PSIS Semarang memilih tidak diam di tengah jeda kompetisi Championship 2025/2026.

Ketika kompetisi berhenti sejenak selama dua pekan, Laskar Mahesa Jenar justru mengambil langkah tegas: menggelar pemusatan latihan di Yogyakarta.

Keputusan ini bukan agenda rutin, melainkan respons langsung atas performa yang belum memenuhi harapan.

Putaran kedua ditutup dengan hasil yang membuat PSIS terdampar di papan bawah. Dengan posisi rawan dan margin kesalahan yang semakin tipis, manajemen menyadari satu hal: waktu jeda tak boleh terbuang.

Yogyakarta pun dipilih sebagai lokasi untuk merapikan ulang fondasi tim sebelum putaran ketiga dimulai pada 15 Februari 2026.

Baca Juga: PSIS Semarang Krisis Pelatih, Kurniawan Dwi Yulianto Bisa Jadi Opsi

Latihan sebagai Alarm Bahaya, Bukan Agenda Formal

Asisten Manajer PSIS, Reza Handhika, menegaskan bahwa pemusatan latihan ini mencerminkan keseriusan klub dalam merespons situasi. Bagi PSIS, jeda kompetisi bukan masa istirahat, tetapi alarm bahaya yang menuntut tindakan cepat.

Manajemen ingin memastikan bahwa tim tidak sekadar menjalani latihan, tetapi benar-benar melakukan perbaikan. Fokusnya bukan hanya kebugaran, melainkan pembenahan kolektif: dari organisasi permainan, kedalaman skuad, hingga mental bertanding.

Yogyakarta Dipilih karena Realitas, Bukan Romantika

Pemilihan Yogyakarta bukan tanpa alasan teknis. Faktor cuaca di Semarang yang sering diguyur hujan membuat ketersediaan lapangan berkualitas menjadi terbatas. Dalam kondisi seperti ini, program latihan berisiko tidak berjalan optimal.

Yogyakarta menawarkan stabilitas yang dibutuhkan: lapangan yang lebih siap pakai dan cuaca yang relatif mendukung. Dalam konteks ini, lokasi bukan soal jarak, melainkan jaminan kualitas latihan—hal yang sangat krusial bagi tim yang sedang berjuang keluar dari tekanan papan bawah.

Baca Juga: 4 Pelatih Lokal yang Cocok untuk PSIS Semarang Setelah Pecat Jafri Sastra

Dipimpin Direktur Teknik, Menunggu Nahkoda Baru

Menariknya, pemusatan latihan ini dipimpin langsung oleh Direktur Teknik Angel Alfredo Vera, sembari PSIS masih dalam proses menunggu pelatih kepala baru. Situasi ini menunjukkan bahwa klub sedang berada dalam fase transisi penting.

Vera tidak hanya bertugas mengawal latihan, tetapi juga menjaga kesinambungan arah teknis agar tim tidak kehilangan identitas di tengah perubahan.

Peran direktur teknik menjadi sentral, terutama dalam memastikan evaluasi berjalan objektif dan tidak reaktif.

Evaluasi Menyeluruh: Siapa Bertahan, Siapa Pergi

Pemusatan latihan ini juga menjadi ruang evaluasi besar-besaran. PSIS masih memaksimalkan jendela transfer yang ditutup pada 6 Februari 2026. Artinya, keputusan soal pemain—baik yang dilepas maupun direkrut—akan sangat dipengaruhi oleh hasil penilaian selama latihan di Yogyakarta.

Manajemen menegaskan bahwa kewenangan teknis berada di tangan tim pelatih. Namun pesan yang ingin disampaikan jelas: tak ada posisi yang benar-benar aman. Setiap pemain dituntut menunjukkan kontribusi nyata, bukan sekadar status atau nama.

Target Bertahan: Ambisi Realistis di Tengah Tekanan

PSIS tidak berbicara muluk. Target mereka jelas dan realistis: bertahan di Championship. Hingga pekan ke-18, PSIS masih tertahan di posisi sembilan dengan koleksi 11 poin—angka yang belum cukup untuk merasa aman.

Putaran ketiga akan menjadi fase penentuan. Jika PSIS gagal memanfaatkan momentum ini, risiko terseret lebih dalam ke zona krisis akan semakin besar. Karena itu, dua pekan latihan di Yogyakarta bukan sekadar persiapan, tetapi investasi terakhir untuk membalikkan arah musim.

Masalah PSIS Bukan Hanya Teknis

Yang menarik, PSIS tidak hanya membenahi fisik dan taktik. Ada kesadaran bahwa masalah tim juga menyentuh aspek mental. Tekanan bertubi-tubi akibat hasil kurang maksimal kerap berdampak pada kepercayaan diri pemain.

Pemusatan latihan di luar kota diharapkan menciptakan suasana baru. Jauh dari sorotan rutin, tim diberi ruang untuk membangun ulang chemistry dan fokus pada target jangka pendek: tampil lebih disiplin, lebih solid, dan lebih efektif.

Dua Pekan yang Menentukan Arah Klub

Dalam kompetisi panjang, satu keputusan bisa menjadi pembeda antara selamat dan tenggelam. PSIS memilih bergerak, bukan menunggu. Dua pekan di Yogyakarta kini menjadi garis pemisah antara perbaikan dan kemunduran.

Jika latihan ini mampu melahirkan respons positif, PSIS punya peluang menjaga eksistensi mereka di Championship. Namun jika hasilnya stagnan, konsekuensinya tak hanya berdampak pada klasemen, tetapi juga pada arah kebijakan klub ke depan.

Bagi PSIS, ini bukan sekadar soal latihan. Ini tentang menyelamatkan musim sebelum terlambat.

Editor : Mahendra Aditya
#psis zona degradasi #zona degradasi #psis #Pemusatan latihan PSIS #PSIS Semarang #Liga 2