Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

PSIS Semarang Krisis Pelatih, Kurniawan Dwi Yulianto Bisa Jadi Opsi

Mahendra Aditya Restiawan • Senin, 2 Februari 2026 | 19:41 WIB
Kurniawan Dwi Yulianto
Kurniawan Dwi Yulianto

RADAR KUDUS - PSIS Semarang tidak sedang mengganti pelatih. Mereka sedang memilih nasib.

Pemecatan Jafri Sastra menjadi sinyal paling keras bahwa musim Liga 2 Pegadaian Championship 2025/2026 telah berubah menjadi fase darurat. Lima laga cukup untuk membuktikan bahwa masalah PSIS lebih dalam dari sekadar taktik di papan strategi.

Waktu habis, kesabaran menipis, dan sembilan pertandingan tersisa kini menjelma menjadi garis hidup terakhir Mahesa Jenar.

Di titik ini, setiap keputusan manajemen bukan lagi soal visi jangka panjang atau filosofi sepak bola. Ini soal bertahan hidup.

Bukan Pergantian Pelatih Biasa

Jafri Sastra datang dengan ekspektasi, tetapi pergi dengan kegagalan sinkronisasi. Bukan karena ia tak diberi waktu, melainkan karena hasil tak memberi ruang kompromi. Putaran krusial Liga 2 bukan tempat belajar, melainkan medan perang untuk tim yang terjebak di papan bawah.

PSIS kini terikat regulasi ketat: pelatih lokal, lisensi minimal AFC A. Namun tekanan publik menuntut lebih dari sekadar kelengkapan administratif. Yang dicari adalah sosok yang siap masuk ke ruang ganti panas, meredam kegelisahan pemain, dan langsung memetik poin.

Dalam konteks ini, empat nama mencuat sebagai opsi paling realistis. Bukan karena popularitas, melainkan karena status bebas kontrak dan pengalaman menghadapi situasi genting.


1. Sudirman: Stabilitas Tanpa Janji Surga

Sudirman adalah tipe pelatih yang jarang menjual mimpi. Ia hadir dengan ketenangan, disiplin, dan pendekatan struktural yang sederhana.

Pengalamannya sebagai asisten di Persija Jakarta dan tim nasional usia muda memberinya keunggulan dalam manajemen ruang ganti—aspek yang justru paling dibutuhkan PSIS saat ini. Kariernya sebagai pelatih kepala Persiku Kudus memang tak berjalan panjang, namun konteks tim yang labil kala itu tak bisa diabaikan.

Bagi PSIS, Sudirman adalah pilihan aman. Ia mungkin bukan sosok revolusioner, tetapi cukup realistis untuk mengamankan poin-poin krusial. Dalam situasi darurat, stabilitas sering kali lebih berharga daripada ambisi besar.

Risiko: minim kejutan taktik
Keunggulan: kontrol emosional tim


2. Ilham Romadhona: Tukang Beresin Tim Bermasalah

Ilham Romadhona bukan nama yang sering menghiasi headline, tapi justru di situlah keunikannya. Ia kerap masuk ke tim dengan kondisi setengah runtuh—dan mencoba menyusunnya ulang.

Dengan lisensi AFC A dan pengalaman menangani PSPS Pekanbaru, PSCS Cilacap, serta kelompok usia Barito Putera, Ilham terbiasa bekerja dengan keterbatasan. Keterlibatannya di Timnas U-19 dan U-20 juga menjadi nilai tambah, mengingat PSIS dihuni banyak pemain muda yang butuh sentuhan psikologis.

Ilham bukan pelatih yang gemar drama. Ia bekerja cepat, merombak struktur permainan, dan berani membuat keputusan tidak populer.

Risiko: hasil instan tak selalu konsisten
Keunggulan: keberanian dan adaptasi cepat


3. Kurniawan Dwi Yulianto: Pilihan Besar dengan Risiko Besar

Nama Kurniawan Dwi Yulianto adalah simbol taruhan berani. Lisensi Pro AFC, pengalaman internasional, dan wawasan modern sepak bola membuatnya berada satu level di atas kandidat lain secara akademis.

Pengalamannya melatih Sabah FC di Malaysia, keterlibatan di Como 1907 Italia, hingga jabatan Direktur Teknik PSPS Pekanbaru menandakan bahwa Kurniawan bukan sekadar pelatih lapangan. Ia arsitek.

Namun pertanyaan besarnya: apakah PSIS sedang butuh arsitek atau petugas pemadam kebakaran?

Kurniawan ideal untuk proyek jangka menengah-panjang. Tetapi sembilan laga tersisa tak memberi ruang membangun fondasi perlahan.

Risiko: adaptasi taktik butuh waktu
Keunggulan: kualitas dan visi modern


4. Seto Nurdiantoro: Spesialis Situasi Kritis

Jika Liga 2 punya definisi “pelatih zona rawan”, maka Seto Nurdiantoro adalah representasinya. Prestasi membawa PSS Sleman promosi ke Liga 1 pada 2018 masih relevan hingga hari ini.

Seto terbiasa hidup di bawah tekanan suporter, target promosi, dan ekspektasi tinggi. Lisensi Pro AFC serta pengalaman panjang di PSIM dan PSS membuatnya matang secara mental.

Meski perpisahan dengan PSIM musim lalu menyisakan cerita pahit, reputasinya sebagai pelatih kompetitif tak luntur. Untuk PSIS yang butuh hasil cepat, Seto menawarkan satu hal yang langka: pengalaman bertahan di situasi hidup-mati.

Risiko: pendekatan keras
Keunggulan: mentalitas bertanding


Masalah PSIS Sesungguhnya: Kepemimpinan, Bukan Skema

Empat nama, empat karakter, empat jalan berbeda. Namun masalah PSIS sejatinya bukan sekadar siapa yang berdiri di pinggir lapangan. Ini soal arah dan keberanian manajemen mengambil keputusan tegas.

Sembilan laga tersisa tidak membutuhkan sepak bola indah. Yang dibutuhkan adalah:

Satu kesalahan lagi bisa berarti degradasi dan efek domino yang panjang—finansial, psikologis, hingga reputasi klub.

Editor : Mahendra Aditya
#klasemen liga 2 #psis #calon pelatih PSIS #Jadwal Liga 2 #Jafri Sastra dipecat #PSIS Semarang #Liga 2 #jafri sastra