RADAR KUDUS - Kekalahan 0-3 dari Kendal Tornado bukan sekadar skor. Bagi PSIS Semarang, laga itu menjelma vonis. Dan bagi Jafri Sastra, satu malam di Stadion Jatidiri berubah menjadi akhir dari perjalanan singkat—namun sarat makna—bersama Mahesa Jenar.
Sabtu, 31 Januari 2026, manajemen PSIS resmi mengumumkan pemutusan kerja sama dengan pelatih berusia 60 tahun tersebut. Keputusan itu diambil tepat setelah putaran kedua Pegadaian Championship 2025/2026 berakhir, menyusul evaluasi menyeluruh yang dilakukan klub.
Secara formal, alasan pemecatan terdengar normatif: demi memperbaiki performa di putaran ketiga. Namun sepak bola selalu punya cerita di balik kalimat rapi. Dan cerita itu bernama tekanan, klasemen, serta rasa malu di kandang sendiri.
Baca Juga: Tak Kunjung Mentas dari Zona Degradasi, PSIS Pecat Jafri Sastra, Butuh Pelatih Seperti Ini
Kekalahan yang Menghapus Waktu
Jafri Sastra bukan pelatih tanpa reputasi. Ia datang ke PSIS membawa lisensi Pro AFC dan pengalaman lintas generasi. Namun waktu tidak berpihak. Baru beberapa bulan menjabat, ia harus angkat kaki sebelum sempat menanamkan fondasi yang utuh.
Dua kekalahan telak beruntun di kandang—masing-masing dari Deltras FC dan Kendal Tornado dengan skor identik 0-3—menjadi titik balik yang tak bisa ditawar. Di mata publik, itu bukan sekadar kehilangan poin, tetapi runtuhnya harga diri.
PSIS yang sedang berjuang keluar dari zona degradasi tak lagi punya ruang untuk eksperimen. Dan Jafri Sastra, terlepas dari niat dan rekam jejaknya, menjadi korban paling awal dari situasi genting itu.
Evaluasi Versi Manajemen
Asisten Manajer PSIS, Reza Handhika, menyebut keputusan tersebut lahir dari evaluasi akhir putaran kedua. Manajemen, kata dia, menilai perlu ada perubahan untuk menyelamatkan PSIS di fase krusial kompetisi.
Ucapan perpisahan disampaikan secara elegan. Tak ada tudingan terbuka. Tak ada drama berlebihan. Namun semua pihak memahami: posisi ke-9 Grup Timur dengan 11 poin dari 18 laga terlalu berbahaya untuk dibiarkan.
PSIS hanya terpaut tiga angka dari zona aman. Tapi dalam iklim Liga 2 yang keras dan tak mengenal belas kasihan, jarak itu bisa terasa sejauh jurang.
Baca Juga: Usai Pecat Jafri Sastra, PSIS Diisukan Incar Alfredo Vera
Siapa Jafri Sastra di Sepak Bola Indonesia
Lahir di Padang, 23 Mei 1965, Jafri Sastra adalah bagian dari generasi pelatih Indonesia yang tumbuh dari pengalaman lapangan, bukan sekadar teori. Ia dikenal menyukai pendekatan struktural dengan formasi 4-3-3 defensif—model yang menekankan keseimbangan dan disiplin.
Nama Jafri mulai mencuat saat membesut Semen Padang pada 2012–2014. Di sana, ia meraih gelar Liga Primer Indonesia 2013, melaju ke perempat final AFC Cup, dan menjuarai Indonesian Community Shield. Prestasi yang hingga kini masih menjadi referensi utama dalam kariernya.
Setelah itu, ia melanglang buana: Mitra Kukar (juara Turnamen Sudirman 2015), Persipura Jayapura, PSIS Semarang periode pertama (2018–2019), PSMS Medan, Persela Lamongan, hingga Sriwijaya FC.
Ia bukan pelatih instan. Ia pelatih proses.
Catatan Singkat, Bukan Catatan Buruk
Selama menangani PSIS di musim ini, Jafri Sastra mencatatkan tiga kemenangan penting. PSIS menaklukkan Persiba Balikpapan, Persipal FC, dan Persela Lamongan—semuanya dengan pendekatan pragmatis dan efisien.
Lebih menarik lagi, PSIS sempat mencatatkan tiga laga nirbobol di bawah asuhannya. Sebuah pencapaian yang nyaris tak terlihat pada fase sebelumnya.
Namun sepak bola tak memberi kredit jangka panjang. Empat kekalahan—dua di antaranya dengan margin besar—menghapus seluruh tabungan kepercayaan yang telah dikumpulkan.
Dalam kompetisi yang menuntut hasil instan, proses sering kali tak sempat bernapas.
Baca Juga: Kalah di Kandang, Persiba di Ambang Bahaya Meski Nishihara Terus Mencetak Gol
Masalah PSIS Bukan Sekadar Pelatih
Melepas Jafri Sastra memang keputusan besar. Namun itu bukan jawaban atas semua persoalan PSIS.
Mahesa Jenar masih bergulat dengan masalah klasik: identitas bermain yang kabur, transisi bertahan yang rapuh, serta inkonsistensi mental saat ditekan. Kebobolan enam gol dalam tiga laga terakhir menjadi alarm keras bahwa persoalan struktural belum tersentuh.
Skuad PSIS sebenarnya tidak kekurangan pengalaman. Pemain senior dan legiun asing sudah tersedia. Yang hilang adalah kesinambungan ide dan figur pemimpin yang sanggup menegakkan disiplin tanpa kompromi.
Warisan yang Terputus
Jafri Sastra meninggalkan PSIS tanpa sempat menuntaskan pekerjaannya. Warisan taktis yang mulai terbentuk—meski belum matang—terputus di tengah jalan.
Apakah keputusan ini tepat? Sejarah akan menjawab. Namun yang jelas, PSIS kini memasuki fase paling berbahaya musim ini: putaran ketiga tanpa ruang kesalahan.
Jika pengganti Jafri hanya solusi sementara, degradasi akan semakin dekat. Jika manajemen berani memilih figur dengan visi jangka menengah dan keberanian ekstrem, peluang bertahan masih terbuka.
Satu Malam, Satu Keputusan, Satu Nasib
Sepak bola sering kali kejam pada mereka yang datang dengan niat baik tapi waktu singkat. Jafri Sastra merasakannya di Semarang.
Ia datang membawa pengalaman panjang.
Ia pergi membawa satu kekalahan yang terlalu mahal.
Bagi PSIS, cerita ini belum berakhir.
Bagi Jafri Sastra, ini mungkin hanya satu bab yang tertutup—dari buku karier yang jauh lebih tebal.