REMBANG – Pelatih PSIR Rembang, Budiardjo Thalib, mengungkapkan bahwa mencetak tiga gol dalam laga krusial bukanlah perkara mudah.
Ia mengaku harus mengambil keputusan ekstrem demi mengejar defisit gol.
"Alhamdulillah, perjuangan kami membuahkan hasil. Kami harus bermain dengan tempo tinggi karena targetnya menang lebih dari dua gol. Saya memasukkan lima pemain bertipe menyerang sekaligus untuk membongkar pertahanan lawan," ujar Budiardjo usai laga.
Eks pelatih Persik Kediri ini juga menegaskan bahwa kunci kemenangan timnya adalah kesetaraan di dalam skuad. Baginya, tidak ada istilah "anak emas" di dalam tim Laskar Dampo Awang.
"Di mata saya, semua pemain sama. Tidak ada bintang atau anak emas. Siapa pun yang bekerja keras di lapangan selama 2x45 menit, dialah yang layak bermain untuk PSIR," tegasnya.
Di sisi lain, kekalahan ini menjadi pil pahit bagi kubu tamu. Pelatih PSIK Klaten, Koco Pramono, memilih untuk berbesar hati dan tidak banyak berkomentar mengenai proses terjadinya gol-gol yang bersarang di gawang timnya.
"Selamat untuk kemenangan PSIR yang lolos ke delapan besar. Kami akui, bermain di laga tandang ini memang sulit dan kami harus menerima kekalahan ini," tutur Koco singkat.
Kesedihan mendalam juga dirasakan para pemain PSIK. Salah satu perwakilan pemain menyebut kekalahan di menit-menit akhir tersebut sangat menyakitkan.
Meski begitu, mereka tetap mengapresiasi tensi pertandingan yang luar biasa.
"Pertandingannya cukup mengerikan, kedua tim sama-sama tidak mau kalah. Sangat seru, tapi hasilnya menyakitkan bagi kami. Ini jadi motivasi agar tahun depan kami bisa lebih kompak dan meraih juara," ungkapnya.
Usai merayakan kemenangan emosional ini, PSIR Rembang tidak bisa bersantai lama. Mereka sudah dinanti lawan-lawan tangguh di fase berikutnya.
"Selanjutnya kami akan bersiap menghadapi Cilacap dan Boyolali di babak delapan besar. Semua tim punya persiapan yang sama matangnya dan pemain-pemain yang bagus. Kami mohon doa dari masyarakat Rembang agar terus melaju," pungkas Budiardjo. (noe/ali)
Editor : Ali Mustofa