RADAR KUDUS - Stadion Pakansari, Bogor, Jumat sore itu menjadi saksi lahirnya satu pesan tegas dari FC Bekasi City.
Bukan sekadar kemenangan, melainkan deklarasi: mereka datang bukan untuk sekadar numpang lewat di Pegadaian Championship 2026 Wilayah Barat. Skor telak 4-0 atas Persikad Depok adalah bentuk dominasi utuh—taktis, mental, dan eksekusi.
Persikad yang tampil sebagai tuan rumah justru terlihat gagap sejak peluit awal. Bekasi City bermain dengan tempo tinggi, pressing rapat, dan disiplin antar lini.
Julukan Kuda Hitam bukan lagi sekadar pelengkap cerita—di Pakansari, mereka menjelma jadi ancaman nyata.
Gol Cepat dan Efek Psikologis
Pertandingan baru berjalan 11 menit ketika Ezheciel N’Douassel memecah kebuntuan. Berawal dari situasi kemelut di kotak penalti, striker asing Bekasi City itu menunjukkan naluri predatornya. Tanpa ragu, bola disambar dan bersarang di gawang Persikad.
Gol cepat ini bukan hanya mengubah papan skor, tetapi juga ritme permainan. Persikad dipaksa keluar dari rencana awal. Mereka mencoba merespons dengan meningkatkan intensitas serangan, namun transisi mereka terlalu lambat untuk mengimbangi kecepatan Bekasi City.
Menjelang akhir babak pertama, publik tuan rumah sempat bersorak ketika Persikad mencetak gol. Namun harapan itu seketika runtuh—bendera asisten wasit terangkat. Offside. Momen ini menjadi titik balik mental. Dari potensi menyamakan kedudukan, Persikad justru masuk ruang ganti dengan frustrasi.
Babak Kedua: Bekasi City Mengunci Kontrol
Alih-alih menurunkan tempo, Bekasi City justru meningkatkan tekanan selepas jeda. Hasilnya terlihat di menit ke-51. R. Ramadhan melepaskan sepakan akurat yang tak mampu dibendung kiper Persikad. Skor berubah 2-0, dan atmosfer Pakansari kian sunyi.
Petaka bagi Persikad datang hanya satu menit berselang. Nasution diganjar kartu merah setelah pelanggaran keras.
Bermain dengan 10 orang menghadapi tim seefektif Bekasi City adalah resep bencana—dan itulah yang terjadi.
Dengan keunggulan jumlah pemain, Bekasi City bermain lebih sabar namun mematikan. Mereka tidak terburu-buru, memutar bola, menunggu celah. Pada menit ke-70, Saldi Amiruddin memastikan laga praktis selesai. Gol ketiga lahir dari skema serangan rapi yang memperlihatkan jarak antarlini Persikad yang kian renggang.
Penutup yang Menegaskan Superioritas
Di masa injury time yang panjang, Persikad mencoba sekadar bertahan. Namun Bekasi City masih lapar. Pada menit 90+13, Ezheciel N’Douassel kembali mencatatkan namanya di papan skor. Sundulan tajam memanfaatkan sepak pojok menjadi penutup sempurna malam dominasi tim tamu.
Peluit panjang berbunyi. Skor akhir 4-0. Tanpa perdebatan.
Bukan Kemenangan Biasa
Hasil ini membawa Bekasi City mengoleksi 27 poin dan melonjak ke peringkat tiga klasemen Wilayah Barat Pegadaian Championship 2026. Lebih dari itu, kemenangan ini memperlihatkan kematangan tim—baik dalam mengelola emosi laga tandang, memanfaatkan momentum, hingga menjaga konsistensi permainan.
Sebaliknya, Persikad harus bercermin. Kekalahan telak di kandang sendiri bukan hanya soal hasil, tetapi alarm keras soal koordinasi lini belakang dan ketahanan mental saat ditekan.
Bekasi City dan Status Baru
Jika sebelumnya Bekasi City disebut kuda hitam, kini status itu mulai berubah. Mereka tampil sebagai tim dengan identitas jelas: agresif, efisien, dan tak ragu menghukum kesalahan lawan. Liga masih panjang, tetapi pesan dari Pakansari sudah sampai ke semua pesaing.
Bekasi City bukan lagi sekadar pengganggu. Mereka penantang.
Editor : Mahendra Aditya