RADAR KUDUS - PSPS Pekanbaru memilih bergerak tanpa banyak gembar-gembor. Di tengah ketatnya persaingan Liga 2 musim 2025/2026, klub berjuluk Askar Bertuah ini menyalakan alarm ambisi lewat perekrutan tiga pemain baru sekaligus.
Langkah tersebut bukan sekadar tambal sulam, melainkan pesan tegas: PSPS belum menyerah pada mimpi promosi.
Tiga nama diumumkan manajemen pada pertengahan Januari 2026—Dendi Agustian Maulana, Achmad Riyadi, dan Hendika Pratama.
Ketiganya datang dari latar klub berbeda, membawa karakter permainan yang saling melengkapi.
Jika dibaca lebih dalam, rekrutmen ini adalah respons langsung atas kebutuhan taktis dan psikologis tim di fase paling rawan kompetisi.
Baca Juga: Deltras FC Tak Gegabah di Bursa Transfer: Antara Evaluasi Tim dan Kebutuhan Skuad
Bukan Panik, Ini Kalkulasi
Perombakan skuad di tengah musim kerap diasosiasikan dengan kepanikan. Namun dalam konteks PSPS Pekanbaru, langkah ini justru mencerminkan kalkulasi matang.
Tim pelatih dan manajemen melihat celah: kompetisi masih panjang, jarak poin belum menganga, dan momentum bisa berubah hanya dalam dua hingga tiga kemenangan beruntun.
Saat ini PSPS berada di papan tengah klasemen dengan 20 poin dari 16 laga. Posisi itu memang belum ideal, tetapi juga belum menutup peluang. Dalam Liga 2 yang penuh kejutan, satu kemenangan kandang bisa langsung mendongkrak posisi dua hingga tiga tingkat.
Dendi Agustian: Jawaban untuk Fleksibilitas Bertahan
Nama Dendi Agustian Maulana bukan asing di Liga 2. Pengalamannya bersama Sriwijaya FC membentuknya sebagai pemain bertahan serba guna—mampu bermain di kiri maupun kanan. Kehadirannya memberi PSPS satu hal krusial: fleksibilitas formasi.
Dalam laga-laga krusial, pelatih kerap dipaksa beradaptasi cepat. Dendi memungkinkan perubahan skema tanpa harus mengganti struktur utama tim. Ia bisa bertahan, naik membantu serangan, atau mengunci sayap lawan yang agresif.
Achmad Riyadi dan Masalah Lama PSPS
Jika ada satu pekerjaan rumah PSPS musim ini, itu adalah konsistensi lini belakang. Di sinilah Achmad Riyadi diharapkan menjadi kepingan yang hilang. Bek tengah eks Persipal Palu ini dikenal kuat dalam duel udara dan disiplin menjaga area.
Bagi PSPS, Achmad bukan sekadar tambahan pemain, tetapi investasi stabilitas. Dalam kompetisi yang sering ditentukan oleh satu gol, pertahanan solid seringkali lebih bernilai daripada lini depan flamboyan.
Hendika Pratama: Variasi Serangan yang Dibutuhkan
Sektor depan PSPS kerap bergantung pada pola serangan yang mudah terbaca lawan. Kehadiran Hendika Pratama, penyerang muda dari Persikopa Pariaman, memberi opsi baru.
Ia bukan tipikal striker statis, melainkan pemain yang aktif membuka ruang.
Hendika memberi dimensi berbeda: mobilitas, tekanan awal, dan transisi cepat. Bagi PSPS, ini penting untuk menghadapi tim-tim yang bertahan rapat dan mengandalkan serangan balik.
Baca Juga: Jadwal Bola 23–24 Januari 2026: Malam Penentu Nasib Persija, Inter, dan Papan Klasemen
Strategi Regenerasi yang Konsisten
Sekretaris PSPS Pekanbaru, M. Teza Taufik, menegaskan bahwa rekrutmen ini sejalan dengan filosofi klub: memberi ruang bagi pemain muda berkembang tanpa mengorbankan daya saing.
Pendekatan ini bukan hal baru. Dalam beberapa musim terakhir, PSPS dikenal berani memberi menit bermain kepada pemain muda. Pelatih kepala Aji Santoso menjadi figur sentral dalam keberanian tersebut. Ia dikenal tak ragu menurunkan pemain yang dianggap siap, meski belum berlabel bintang.
Lebih dari 10 Rekrutan, PSPS Bangun Ulang Identitas
Dengan tambahan tiga pemain ini, total rekrutan PSPS musim ini telah mencapai 13 nama. Angka itu mencerminkan upaya menyusun ulang identitas tim. Tidak semua bertahan, tidak semua dilepas, tetapi semua dievaluasi.
Keputusan melepas kapten tim Achmad Faris menjadi bukti bahwa manajemen siap mengambil langkah tidak populer demi kepentingan jangka panjang. Dalam sepak bola profesional, sentimentalitas seringkali menjadi jebakan.
Baca Juga: Derbi Borneo di Batakan: Persiba Cari Jati Diri, Barito Putera Jaga Takhta
Ujian Pertama: Adhyaksa FC
Rekrutan baru tak punya waktu adaptasi panjang. Laga melawan Adhyaksa FC di Stadion Kaharuddin Nasution menjadi ujian awal. Bukan hanya soal hasil, tetapi juga soal sinyal: apakah PSPS benar-benar berubah, atau hanya berganti wajah.
Kemenangan di laga ini akan menghidupkan kembali kepercayaan diri tim dan publik. Kekalahan, sebaliknya, akan memunculkan pertanyaan besar tentang efektivitas strategi tambal sulam.
Promosi Masih Mungkin, Tapi Tak Ada Ruang Salah
Liga 2 tidak memberi banyak kesempatan kedua. Setiap pekan yang terlewat tanpa poin maksimal mempersempit ruang gerak. PSPS Pekanbaru sadar betul akan hal ini.
Dengan skuad yang kini lebih dalam dan bervariasi, bola ada di tangan tim pelatih dan pemain. Apakah tiga rekrutan ini akan menjadi pembeda, atau hanya nama tambahan dalam daftar panjang Liga 2?
Yang jelas, PSPS sudah memilih untuk bertaruh—dan taruhan itu dimulai sekarang.
Editor : Mahendra Aditya