RADAR KUDUS - Persebaya Surabaya tak lagi hanya mengandalkan semangat dan sejarah besar. Di tangan Bernardo Tavares, Bajul Ijo mulai menjelma menjadi tim dengan struktur permainan yang matang, khususnya di sektor paling krusial: lini tengah.
Pelatih asal Portugal itu kembali menunjukkan insting tajamnya dalam membaca kebutuhan tim. Setelah melalui paruh pertama BRI Super League 2025/2026 yang penuh fluktuasi, Tavares menemukan formula baru yang perlahan mengubah wajah permainan Persebaya.
Kuncinya terletak pada kombinasi energi, kecepatan, dan kecerdasan bermain yang berpadu di jantung lapangan.
Nama-nama seperti Bruno Moreira, Gali Freitas, dan Francisco Rivera kini menjadi poros utama permainan.
Trio ini bukan sekadar deretan pemain tengah, melainkan “mesin penggerak” yang membuat tempo Persebaya hidup—cepat saat menyerang, rapat ketika bertahan.
Trio Tengah yang Mengubah Ritme
Berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang cenderung bertumpu pada sayap atau bola panjang, Tavares kini menaruh kepercayaan besar pada dominasi lini kedua.
Bruno Moreira bertindak sebagai penghubung antar lini, Gali Freitas menjadi pemecah kebuntuan dengan pergerakan vertikal agresif, sementara Francisco Rivera menghadirkan ketenangan lewat distribusi bola yang presisi.
Kehadiran Malik Risaldi melengkapi kepingan puzzle tersebut. Pemain ini memberi dimensi tambahan lewat mobilitas tinggi dan keberanian menekan lawan sejak area tengah. Kombinasi ini membuat Persebaya tak lagi mudah ditebak.
Efektivitas racikan tersebut langsung terlihat saat Persebaya menaklukkan Malut United FC, tim bertabur bintang, pada pekan ke-17 di Stadion Gelora Bung Tomo. Dua gol Gali Freitas menjadi bukti konkret bahwa kekuatan Persebaya kini tak hanya soal determinasi, tetapi juga eksekusi taktis.
Kecepatan Jadi Senjata Utama
Tavares tak menampik bahwa karakter pemain cepat menjadi fondasi utama skema barunya. Menurutnya, kecepatan bukan hanya soal sprint, tetapi tentang bagaimana pemain mengambil keputusan dalam waktu singkat.
Bruno, Gali, dan Malik adalah contoh pemain dengan akselerasi berpikir dan bergerak. Mereka mampu memanfaatkan ruang sempit, melakukan transisi cepat dari bertahan ke menyerang, serta memaksa lawan kehilangan struktur permainan.
Pendekatan ini membuat Persebaya lebih agresif tanpa kehilangan keseimbangan. Saat menyerang, mereka berani menekan. Ketika kehilangan bola, transisi bertahan dilakukan dengan disiplin.
Mental Kompetitif ala Tavares
Pengalaman panjang Tavares di Liga Indonesia bersama PSM Makassar menjadi modal besar. Ia paham betul bahwa putaran kedua selalu menghadirkan tantangan berbeda. Tim-tim akan berbenah, peta kekuatan berubah, dan persaingan semakin ketat.
Karena itu, kemenangan atas Malut United tak membuatnya larut dalam euforia. Fokusnya tetap pada proses: latihan, pemulihan fisik, dan persiapan laga berikutnya.
Baginya, konsistensi adalah kunci untuk kembali membawa Persebaya bersaing di papan atas. Saat ini Bajul Ijo memang masih tertahan di peringkat tujuh dengan 28 poin, namun fondasi permainan mulai terlihat solid.
Putaran Kedua, Ujian Sebenarnya
Laga kontra PSIM Yogyakarta pada awal putaran kedua akan menjadi tolok ukur sejauh mana transformasi Persebaya berjalan.
Bermain di kandang lawan selalu menuntut kedewasaan taktik dan mental, dua aspek yang tengah dibangun Tavares secara perlahan.
Jika trio lini tengah mampu menjaga performa dan kedalaman skuad tetap terjaga dari cedera, Persebaya berpeluang menjadi kuda hitam yang mengganggu dominasi tim-tim papan atas.
Lebih dari sekadar hasil, perubahan terbesar Persebaya musim ini adalah identitas permainan. Mereka kini tampil lebih terstruktur, sabar, dan tahu kapan harus menekan.
Inilah Persebaya versi baru—lebih modern, lebih efektif, dan tak lagi bergantung pada satu bintang saja.
Editor : Mahendra Aditya