RADAR KUDUS - Sepak bola akar rumput Indonesia kembali tersentak. Dua aksi kekerasan ekstrem di Liga 4 musim 2025/2026 bukan hanya mencoreng sportivitas, tetapi juga membuka borok lama: pembinaan mental pemain yang rapuh sejak level paling bawah.
Insiden tendangan kungfu yang terjadi di dua wilayah berbeda berujung pada hukuman paling berat—larangan beraktivitas seumur hidup.
Namun persoalannya tak berhenti pada sanksi. Yang lebih mengkhawatirkan, kejadian ini muncul justru di kompetisi yang digadang-gadang sebagai fondasi masa depan sepak bola nasional.
Dua Aksi Brutal, Dua Karier Tamat
Pelaku pertama adalah Muhammad Hilmi Gimnastiar, pemain PS Putra Jaya Pasuruan, yang tertangkap kamera melayangkan tendangan ke arah dada lawan dalam laga fase provinsi Liga 4 Jawa Timur.
Insiden kedua melibatkan Dwi Pilihanto dari KAFI Jogja, yang melakukan tendangan ke kepala pemain lawan di ajang Liga 4 wilayah Yogyakarta.
Kedua aksi tersebut dinilai melampaui batas pelanggaran biasa. Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI setempat tak memberi ruang kompromi. Vonisnya tegas: skorsing seumur hidup dari seluruh aktivitas sepak bola di bawah naungan PSSI.
Keputusan ini sekaligus mengirim pesan keras bahwa kekerasan bukan bagian dari kompetisi, bahkan di level amatir sekalipun.
Baca Juga: Jadwal Padat Super League 2025–2026, Klasemen Ketat, Setiap Tim Tak Boleh Setengah-Setengah
Liga 4: Kompetisi Paling Bawah, Beban Paling Berat
Ironisnya, Liga 4 justru dirancang sebagai wadah pembinaan, bukan arena pelampiasan emosi. Kompetisi ini menempati level keempat piramida sepak bola Indonesia dan menjadi satu-satunya liga berstatus amatir berskala nasional.
Liga 4 baru memasuki musim kedua sejak pertama kali digelar pada 2024/2025. Kehadirannya melengkapi struktur baru setelah perubahan nomenklatur: Liga 1 menjadi Super League, Liga 2 menjadi Championship, dan Liga 3 bertransformasi menjadi Liga Nusantara.
Baca Juga: Kas Hartadi Lengser, PSMS Medan Bertaruh pada Eko Purdjianto untuk Bertahan di Liga 2
Di atas kertas, Liga 4 adalah tempat belajar. Di lapangan, dua insiden ini justru menunjukkan bahwa nilai-nilai dasar sepak bola belum sepenuhnya tertanam.
Format Baru, Tantangan Baru
Musim 2025/2026 membawa perubahan besar. Jika sebelumnya Liga 4 dimulai dari fase provinsi, kini kompetisi dibuka dari tingkat kabupaten/kota. Fase regional ini memperebutkan Piala Bupati atau Piala Wali Kota, berlangsung sejak Agustus hingga September 2025.
Setelah itu, tim terbaik melaju ke fase provinsi (Piala Gubernur) yang bergulir hingga Februari 2026, sebelum akhirnya menembus putaran nasional pada April–Mei 2026.
Pembukaan fase regional bahkan dihadiri langsung Ketua Umum PSSI Erick Thohir, bersama sejumlah kepala daerah. Ini menandakan betapa seriusnya Liga 4 ditempatkan sebagai tulang punggung pembinaan.
Namun insiden kekerasan tersebut justru menjadi tamparan telak bagi konsep besar itu.
Baca Juga: Bukan Striker Mahal, Tapi Efektif: Ryo Watanabe Masuk Radar Kabau Sirah
Ketika Ambisi Mengalahkan Akal Sehat
Angle yang jarang disorot adalah tekanan psikologis di level amatir. Banyak pemain Liga 4 bukan sekadar bermain untuk klub, tetapi membawa mimpi pribadi, harga diri daerah, bahkan harapan ekonomi. Minimnya pendampingan psikologis dan edukasi fair play membuat emosi mudah meledak.
Berbeda dengan liga profesional yang memiliki sport psychologist, Liga 4 masih bergantung pada pendekatan tradisional. Pelatih merangkap pendidik karakter, wasit minim perlindungan, dan pengawasan seringkali terbatas.
Dalam konteks ini, tendangan kungfu bukan sekadar pelanggaran individu—melainkan produk sistem yang lalai membentuk karakter.
PSSI Soroti Pembinaan, Bukan Sekadar Hukuman
PSSI menegaskan bahwa Liga 4 membawa semangat perserikatan, melibatkan pemerintah daerah dan membuka peluang penggunaan APBD untuk pembinaan sepak bola.
Regulasi ini seharusnya dimanfaatkan bukan hanya untuk operasional, tetapi juga pendidikan etika bertanding.
Liga 4 dirancang sebagai panggung awal bagi talenta lokal. Jika sejak level ini pemain sudah mengedepankan kekerasan, maka jalur menuju sepak bola profesional akan dipenuhi masalah serupa di masa depan.
Baca Juga: Gegara Insiden Tendangan Kungfu, Liga 4 Butuh Standar Nasional yang Tegas
Janji Erick Thohir dan Ujian Nyata
Kehadiran Liga 4 merupakan bagian dari janji Erick Thohir saat mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PSSI. Ia menilai struktur kompetisi Indonesia terlalu sempit dan minim ruang bermain bagi pemain muda.
Namun kasus ini menjadi ujian nyata. Menambah kompetisi tanpa memperkuat pembinaan karakter hanya akan melipatgandakan persoalan.
Liga 4 seharusnya menjadi sekolah sepak bola. Dua insiden ini menunjukkan bahwa sekolah itu masih kekurangan kurikulum tentang sportivitas, disiplin, dan kontrol emosi.
Pelajaran Mahal dari Level Terbawah
Sanksi seumur hidup mungkin menutup karier dua pemain, tetapi pertanyaan besarnya: apakah sistem sudah cukup mencegah kejadian serupa terulang?
Jika tidak ada pembenahan serius, Liga 4 berisiko menjadi arena konflik, bukan laboratorium bakat. Sepak bola Indonesia tak kekurangan pemain berbakat—yang langka justru pemain berkarakter kuat.
Editor : Mahendra Aditya