SEMARANG - Perubahan besar tengah bergulir di tubuh PSIS Semarang. Bukan hanya soal hasil di lapangan, melainkan arah baru klub yang kini memasuki fase paling krusial sejak terdegradasi dari Liga 1.
Masuknya manajemen anyar di bawah kendali Datu Nova Fatmawati perlahan menggeser narasi lama: PSIS tidak lagi sekadar bertahan, tetapi mulai merancang jalan pulang.
Musim ini, Mahesa Jenar sempat tercecer. Terlempar ke Liga Championship, performa PSIS bahkan sempat menyentuh titik terendah di dasar klasemen grup timur.
Situasi itu membuat banyak pihak pesimistis—bahkan sebagian suporter mulai mempertanyakan daya saing klub kebanggaan Panser Biru dan Snex tersebut.
Namun arah angin berubah sejak peralihan kepemilikan saham mayoritas. Alih-alih melakukan manuver instan, manajemen baru memilih pendekatan yang lebih terstruktur: memperkuat kedalaman skuad dengan kombinasi pemain berpengalaman, eks Liga 1, dan tenaga muda yang lapar pembuktian.
Hasilnya, PSIS perlahan keluar dari zona merah dan mulai memperlihatkan identitas baru.
Yang menarik, strategi rekrutmen PSIS musim ini tidak mengandalkan satu dua nama besar semata.
Total 14 pemain anyar didatangkan, sebagian besar memiliki jam terbang tinggi di sepak bola nasional. Ini bukan belanja panik, melainkan upaya membangun fondasi kompetitif di tengah kerasnya Liga 2.
Sosok Rafinha menjadi salah satu simbol ambisi itu. Penyerang yang pernah merumput di level tertinggi Liga 1 ini diharapkan menjadi mesin gol sekaligus magnet kepercayaan diri tim.
Baca Juga: Liga 2 Pekan ke-15: Nasib Barito, PSS, PSIS, hingga PSMS di Titik Balik
Dalam kompetisi sepadat Liga 2, kehadiran striker berpengalaman kerap menjadi pembeda—bukan hanya dari sisi gol, tetapi juga kepemimpinan di ruang ganti.
Tak berhenti di situ, PSIS juga memanfaatkan jalur peminjaman dari klub elite Liga 1. Nama Alwi Fadilah (Persija Jakarta) dan Rangga Sumarna (Borneo FC) memberi gambaran jelas: PSIS kini cukup dipercaya untuk menjadi tempat berkembang pemain dari tim papan atas. Dua pemain ini menambah variasi taktik sekaligus energi baru di sektor yang sebelumnya rapuh.
Kekuatan PSIS semakin terasa dengan masuknya sejumlah pemain dari Persela Lamongan, klub yang dikenal sarat pemain berkarakter pekerja keras.
Kehadiran nama-nama seperti Esteban Vizcarra, Oktavio Dutra, hingga Alberto Goncalves bukan sekadar menambah daftar pemain senior, tetapi juga menyuntikkan mentalitas bertarung yang dibutuhkan di kompetisi kasta kedua.
Liga 2 bukan panggung glamor. Jadwal padat, tekanan suporter lokal, dan medan laga yang tak selalu ideal menuntut lebih dari sekadar skill.
Di titik inilah PSIS tampak belajar dari masa lalu: mereka membangun skuad yang siap “berperang”, bukan hanya tampil cantik.
Menjelang laga tandang melawan PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo, publik Semarang mulai menaruh harapan baru.
Pertandingan ini bukan hanya soal tiga poin, melainkan ujian awal bagi proyek rekonstruksi PSIS. Manajemen telah bekerja, kini giliran pemain menjawab di lapangan.
Daftar 14 rekrutan anyar PSIS menunjukkan satu pesan tegas: Mahesa Jenar tak ingin berlama-lama di Liga 2.
Dengan kombinasi pengalaman, kedalaman skuad, dan arah manajemen yang lebih rapi, PSIS sedang membangun ulang reputasinya—pelan, senyap, tapi terukur.
Jika konsistensi bisa dijaga, langkah PSIS musim ini bisa menjadi kisah kebangkitan yang tak banyak diprediksi.
Bukan sensasi sesaat, melainkan proyek jangka menengah untuk kembali ke habitat aslinya: Liga 1.
Daftar 14 Pemain Anyar PSIS Semarang
-
Tegar Infantrie (pinjaman Persita Tangerang)
-
Fahmi Al Ayyubi (bebas transfer)
-
Gustur Cahyo (bebas transfer)
-
Wawan Febrianto (Persela Lamongan)
-
Ocvian Chanigio (Persela Lamongan)
-
Esteban Vizcarra (Persela Lamongan)
-
Oktavio Dutra (Persela Lamongan)
-
Alberto Goncalves (Persela Lamongan)
-
Aldair Simanca (pinjaman Borneo FC)
-
Raffinha (PSIM Yogyakarta)
-
Denilson Rodriguez (CA Atenas)
-
Marion Londok (Persela Lamongan)
-
Alwi Fadilah (Persija Jakarta)
-
Rangga Sumarna (Borneo FC)