RADAR KUDUS - Persija Jakarta mengambil langkah tak biasa jelang bergulirnya putaran kedua Super League 2025/2026.
Bukan soal mendatangkan pemain bintang, melainkan membuka jalan bagi regenerasi dengan meminjamkan tiga talenta muda: Alfriyanto Nico Saputro, Figo Dennis, dan Jehan Pahlevi.
Keputusan ini menegaskan satu hal—Macan Kemayoran tengah membangun masa depan, bukan sekadar mengejar hasil instan.
Langkah peminjaman ini bukan bentuk pelepasan, melainkan investasi. Persija memilih memberi ruang tumbuh bagi pemain muda di lingkungan yang lebih kompetitif dan konsisten dari sisi menit bermain.
Dalam dinamika sepak bola modern, jam terbang adalah mata uang paling berharga bagi pemain usia 19–22 tahun. Klub sadar, bakat tanpa kesempatan hanya akan stagnan.
Baca Juga: Di Balik Kekalahan Sriwijaya FC: Kiper Berjuang Sendiri Tanpa Pelatih, Alarm Bahaya Liga 2
Bukan Cadangan, Tapi Proyek Masa Depan
Direktur Olahraga Persija, Bambang Pamungkas, menegaskan bahwa kebijakan ini dirancang sebagai bagian dari kurikulum pembinaan klub.
Menurutnya, masa peminjaman bukan sekadar mengisi daftar pemain di klub lain, melainkan fase pembelajaran krusial untuk membentuk karakter bertanding.
Persija ingin ketiga pemain ini menghadapi tekanan nyata—tuntutan menang, ekspektasi suporter, hingga persaingan internal.
Hal-hal yang tak selalu bisa diperoleh saat berada di bangku cadangan klub besar. Ketika kembali, mereka diharapkan bukan lagi sekadar prospek, melainkan opsi siap pakai.
Baca Juga: Juan Mera Datang, Persiraja Tak Lagi Sekadar Bertahan: Ambisi Promosi Kini Lebih Nyata
Rekam Jejak yang Sudah Teruji
Alfriyanto Nico Saputro menjadi contoh paling matang. Musim ini ia sempat mencicipi lima laga bersama Persija dan menyumbang satu assist.
Pengalaman Nico sejatinya sudah teruji sejak dipinjamkan ke Dewa United pada Liga 1 2024/2025 dengan catatan 24 penampilan. Bahkan sebelumnya, ia lebih dulu merasakan kerasnya Liga 2 bersama PSIM.
Sementara itu, Figo Dennis dan Jehan Pahlevi berada di fase awal kurva karier. Figo pernah menjadi bagian penting PSIM Yogyakarta saat menembus promosi ke Super League, mengoleksi delapan penampilan.
Adapun Jehan Pahlevi menempa diri bersama Persiku Kudus dengan total 10 laga. Ketiganya bukan nama asing di sepak bola nasional, hanya menunggu momentum untuk naik level.
Langkah Senyap, Dampak Panjang
Keputusan Persija ini menarik karena diambil di tengah tekanan kompetisi papan atas. Alih-alih menumpuk pemain, klub memilih merampingkan skuad demi keseimbangan ruang ganti.
Ini menjadi sinyal bahwa Persija tak ingin terjebak dalam siklus tambal sulam setiap musim.
Strategi ini juga memberi pesan kuat kepada akademi: jalur menuju tim utama itu nyata. Bagi pemain muda lainnya, peminjaman bukan hukuman, melainkan jalan alternatif menuju panggung utama.
Filosofi ini sejalan dengan tren klub-klub elite Asia yang mulai mengedepankan kesinambungan pemain lokal.
Baca Juga: Liga 2 Grup Timur Memanas: Satu Kekalahan Bisa Menggagalkan Promosi Liga 1
Menunggu Pelabuhan Baru
Hingga kini, Persija belum mengumumkan klub tujuan ketiga pemain tersebut. Namun manajemen memastikan proses finalisasi berjalan dan pengumuman akan dilakukan dalam waktu dekat.
Yang jelas, ketiganya akan mendapatkan menit bermain lebih stabil—hal yang sulit dijamin jika tetap bertahan di Jakarta.
Putaran kedua Super League akan menjadi panggung pembuktian. Jika Nico, Figo, dan Jehan mampu berkembang sesuai rencana, Persija bisa menuai keuntungan ganda: skuad lebih matang tanpa biaya transfer, serta fondasi jangka panjang yang kokoh.
Dalam sepak bola modern, juara tak selalu dibangun dengan belanja besar. Kadang, ia lahir dari keputusan sunyi yang tepat waktu.
Editor : Mahendra Aditya