Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tiga Pemain Muda Persija Jakarta Dipinjamkan, Alasannya Regenerasi?

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 7 Januari 2026 | 19:17 WIB
jehan pahlevi Pemain Anyar Persiku Kudus (Tangkapan Layar Instagram Jehanpahlevii)
jehan pahlevi Pemain Anyar Persiku Kudus (Tangkapan Layar Instagram Jehanpahlevii)

RADAR KUDUS - Persija Jakarta kembali menunjukkan bahwa pengelolaan pemain muda tak selalu harus ditandai dengan gemuruh transfer besar.

Menjelang rampungnya putaran pertama BRI Super League 2025/2026, manajemen Macan Kemayoran mengambil langkah senyap namun strategis: meminjamkan tiga pemain mudanya demi satu tujuan besar—mempercepat proses pendewasaan.

Tiga nama yang dilepas sementara adalah Alfriyanto Nico Saputro (22), Figo Dennis (19), dan Jehan Pahlevi (19).

Ketiganya diproyeksikan menjalani masa peminjaman hingga akhir musim. Bagi Persija, keputusan ini bukan sekadar rotasi skuad, melainkan bagian dari desain jangka panjang untuk memastikan regenerasi berjalan tanpa memutus kesinambungan kualitas.

Di tengah tuntutan hasil instan dan tekanan suporter, Persija memilih jalur yang lebih tenang.

Klub ibu kota ini memahami bahwa bakat muda tidak cukup diasah dari bangku cadangan. Mereka butuh jam terbang, atmosfer kompetisi, dan tekanan nyata—hal yang sering kali sulit didapat di tim dengan target juara.

Baca Juga: Wasit Jadi Sorotan, Mental PSS Sleman Diuji Usai Tumbang dari Kendal Tornado FC

Jam Terbang Lebih Penting dari Sekadar Seragam

Sepanjang musim ini, Nico, Figo, dan Jehan memang sempat merasakan atmosfer tim utama.

Nico mencatat lima penampilan dan satu assist, Figo dua kali turun ke lapangan, sementara Jehan sekali merasakan laga kompetitif.

Namun angka-angka tersebut dinilai belum cukup untuk membentuk karakter pemain yang siap memikul beban Persija di masa depan.

Baca Juga: Semen Padang FC Rekrut Jaime Giraldo Bek Tangguh Asal Kolombia

Direktur Olahraga Persija, Bambang Pamungkas, menegaskan bahwa peminjaman ini bukan keputusan teknis semata.

Ada dimensi mental dan psikologis yang menjadi pertimbangan utama. Menurutnya, bermain reguler di klub lain akan memaksa para pemain muda beradaptasi, menghadapi tekanan suporter yang berbeda, dan belajar menjaga konsistensi performa.

Dalam ekosistem sepak bola modern, peminjaman kerap menjadi jalan pintas menuju kematangan.

Persija tampaknya ingin meniru pola tersebut, menjadikan klub-klub lain sebagai laboratorium pembentukan karakter tanpa harus kehilangan aset.

Bukan Pengalaman Pertama, Tapi Tahap Baru

Bagi ketiga pemain ini, status pinjaman bukan hal asing. Nico, misalnya, pernah mencicipi kerasnya Liga 2 bersama PSIM Yogyakarta, lalu tampil reguler bersama Dewa United di Liga 1 musim 2024/2025 dengan 24 penampilan.

Pengalaman itu membentuknya menjadi pemain yang lebih siap secara fisik dan taktis.

Figo Dennis juga punya cerita serupa. Ia menjadi bagian penting dari skuad PSIM yang berhasil promosi ke Super League 2025/2026.

Baca Juga: Update Klasemen Liga 2 6 Januari 2026: Barito Putera Menjauh, Persaingan PSIS, Persiku dan Persipal di Zona Degradasi Kian Panas

Meski masih berusia 19 tahun, Figo telah merasakan dinamika kompetisi yang penuh tekanan, sesuatu yang tak bisa dibeli dengan latihan saja.

Sementara Jehan Pahlevi, atau Levi, sempat mengasah kemampuannya bersama Persiku Kudus dan tampil dalam 10 pertandingan.

Bagi pemain seusianya, angka tersebut merupakan modal penting untuk memahami tempo dan kerasnya sepak bola profesional.

Artinya, Persija tidak melepas pemain tanpa bekal. Mereka justru mengirim pemain yang sudah memiliki dasar pengalaman, dengan harapan lonjakan kualitas akan terjadi setelah menit bermain meningkat.

Baca Juga: Semua Bertahan Lawan Barito: Tantangan Baru Teco di Liga 2

Klub Tujuan Masih Misteri, Pesan Sudah Jelas

Hingga kini, Persija belum mengumumkan klub tujuan peminjaman ketiga pemain tersebut. Manajemen menyerahkan pengumuman kepada klub peminjam.

Meski demikian, ketidakpastian ini tak mengurangi makna keputusan Persija.

Yang jelas, klub tujuan harus mampu menjamin satu hal: kesempatan bermain reguler. Tanpa itu, skema peminjaman hanya akan menjadi formalitas tanpa dampak signifikan.

Persija diyakini selektif dalam memilih mitra, mengingat reputasi dan masa depan pemain yang dipertaruhkan.

Langkah ini juga mengirim pesan ke pemain muda lain di dalam skuad: jalur menuju tim utama terbuka, tetapi harus ditempuh lewat pembuktian, bukan sekadar status.

Regenerasi yang Tak Instan, Tapi Terencana

Keputusan meminjamkan Nico, Figo, dan Jehan semakin relevan jika dikaitkan dengan berakhirnya kerja sama Persija dengan Alwi Fadillah di awal Januari.

Kontrak yang tidak diperpanjang menunjukkan bahwa Persija kini lebih tegas dalam menentukan siapa yang masuk rencana jangka panjang.

Alih-alih menumpuk pemain muda tanpa kejelasan, Persija memilih memisahkan jalur: siapa yang dikembangkan lewat peminjaman, siapa yang dilepas, dan siapa yang siap bertahan di tim utama. Ini bukan langkah populer, tetapi mencerminkan manajemen modern yang berbasis evaluasi objektif.

Dalam jangka panjang, strategi ini berpotensi menyelamatkan Persija dari krisis regenerasi. Ketika pemain senior mulai menua, klub sudah memiliki stok pemain muda yang matang secara mental dan teknis—bukan sekadar berbakat di atas kertas.

Baca Juga: PSIS Belanja 12 Pemain Demi Menjauh dari Jurang Degradasi Taruhan Hidup-Mati Mahesa Jenar di Putaran Kedua Liga 2

Investasi Senyap untuk Masa Depan Macan Kemayoran

Peminjaman tiga pemain muda ini mungkin tak memicu euforia. Tidak ada headline bombastis atau transfer mahal. Namun justru di sinilah kekuatan keputusan Persija: sunyi, rasional, dan berorientasi masa depan.

Jika proses berjalan sesuai rencana, Nico, Figo, dan Jehan akan kembali ke Jakarta bukan sebagai pelapis, melainkan sebagai opsi serius.

Mereka akan membawa pengalaman, kepercayaan diri, dan kesiapan mental yang selama ini dicari Persija dalam membangun tim yang kompetitif dan berkelanjutan.

Bagi Persija, ini bukan soal kehilangan pemain sementara. Ini tentang memastikan Macan Kemayoran tetap punya taring di masa depan.

Editor : Mahendra Aditya
#Persija Jakarta #transfer persija #klasemen liga 1 #persija #Alfriyanto Nico Saputro #jakarta #bursa pemain liga 1 #bursa transfer liga 1 #liga 1