RADAR KUDUS - Perjalanan Ruben Amorim di Old Trafford akhirnya mencapai titik nadir. Manajemen Manchester United secara resmi mengumumkan pemecatan pelatih asal Portugal tersebut pada Senin (5/1/2026), mengakhiri masa bakti singkatnya selama 14 bulan.
Keputusan ini diambil kurang dari 24 jam setelah Amorim melontarkan pernyataan kontroversial yang mempertanyakan dukungan petinggi klub usai hasil imbang 1-1 kontra Leeds United di Elland Road, Minggu (4/1).
Baca Juga: Bukan Karena Hasil Buruk, Ini Alasan Manchester United Mengakhiri Kontrak Ruben Amorim
Konfrontasi Terbuka Jadi Pemicu Utama
Langkah drastis manajemen dipicu oleh komentar Amorim yang secara eksplisit menuntut peran lebih besar sebagai "manajer" daripada sekadar "pelatih kepala".
Dalam konferensi pers pascapertandingan, ia menyindir struktur departemen rekrutmen hingga direktur olahraga.
"Kedatangan saya ke sini untuk menjadi manajer, bukan sekadar pelatih kepala. Saya akan menjalankan tugas saya sampai dewan memutuskan untuk berubah," tegas Amorim dalam pernyataan yang kini menjadi kalimat perpisahannya.
Manajemen klub menilai komentar publik tersebut telah melewati batas profesionalisme, terutama saat klub sedang berupaya menjaga stabilitas di tengah investasi besar-besaran yang telah digelontorkan.
Rapor Merah: Rasio Kemenangan Hanya 38 Persen
Selain faktor disharmoni internal, statistik Amorim di lapangan menjadi pembenaran kuat bagi klub untuk melakukan perubahan.
Sejak ditunjuk menggantikan Erik ten Hag pada November 2024, Amorim gagal mengangkat performa Setan Merah ke level elit.
Dalam 63 pertandingan di seluruh kompetisi, ia hanya mampu mempersembahkan 24 kemenangan.
Rasio kemenangan yang hanya menyentuh angka 38 persen dianggap jauh di bawah standar minimum bagi klub sekaliber Manchester United. Saat ini, MU tertahan di posisi keenam klasemen sementara Liga Inggris.
Baca Juga: Darren Fletcher Ditunjuk jadi Pelatih Sementara Setelah Manchester United Pecat Amorim
Pernyataan Resmi Klub
Melalui situs resminya, pihak klub menyatakan bahwa langkah ini diambil demi menyelamatkan target musim ini.
"Pimpinan klub dengan berat hati memutuskan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan perubahan. Langkah ini diyakini akan memberi tim peluang terbaik untuk meraih posisi akhir setinggi mungkin di liga," tulis pernyataan tersebut.
Klub juga menegaskan bahwa meski posisi pelatih kepala sangat krusial, keberhasilan jangka panjang United bergantung pada kolaborasi lintas departemen yang solid, sebuah prinsip yang tampaknya sempat goyah di bawah kepemimpinan Amorim.
Menjaga Momentum Skuad Muda
Pihak klub menolak narasi adanya "sengketa kekuasaan" yang berkepanjangan. Sebaliknya, manajemen merasa skuad muda yang dimiliki United saat ini memiliki potensi besar dan membutuhkan kepemimpinan baru yang lebih selaras dengan visi strategis klub.
Meski Amorim sempat terlibat dalam proses rekrutmen pemain dan dijanjikan tambahan amunisi pada 2026, manajemen memilih untuk memutus kerja sama lebih awal guna menghindari stagnasi yang lebih dalam.(*)
Editor : Mahendra Aditya