RADAR KUDUS - Kemenangan pertama PSIS Semarang di tahun 2026 memang terasa melegakan. Stadion Jatidiri kembali bernapas, pemain tersenyum, suporter bersorak.
Namun jika melihat tabel klasemen dengan kepala dingin, satu fakta tak bisa dihindari: PSIS belum aman.
Tambahan poin memang mengangkat Laskar Mahesa Jenar dari dasar klasemen, tetapi jarak dengan zona paling berbahaya masih terlalu dekat untuk merasa tenang.
Liga 2 Championship musim 2025/2026 belum memberi ruang untuk lengah, terutama bagi tim yang masih berkutat di papan bawah.
Baca Juga: Panser Biru dan Snex Jadi Pemain ke-12, PSIS Akhirnya Menang di Jatidiri!
Posisi 9 Masih Zona Bahaya
Hingga pekan ke-14, PSIS Semarang mengoleksi 8 poin. Angka itu sama persis dengan Persiku, pesaing langsung di papan bawah.
PSIS kini berada di peringkat 9—posisi yang secara aturan masih harus menjalani playoff degradasi.
Lebih mengkhawatirkan lagi, jarak dengan dasar klasemen sangat tipis. Persipal Palu, yang berada di posisi terbawah, hanya terpaut dua poin dengan koleksi 6 angka.
Artinya, satu hasil buruk saja bisa membuat PSIS kembali tergelincir ke posisi 10, zona degradasi langsung ke Liga Nusantara.
Kemenangan memang penting, tetapi klasemen menunjukkan satu pesan tegas: perjuangan PSIS masih panjang dan belum selesai.
Baca Juga: 5.448 Suporter Padati Jatidiri Saat PSIS Kalahkan Persipal
Aturan Klasemen yang Tak Ramah
Dalam format Championship musim ini, posisi 9 bukanlah tempat aman. Tim di peringkat tersebut masih harus bertarung di playoff degradasi—sebuah fase yang kerap menjadi ujian mental dan fisik.
Sementara posisi 10 adalah vonis tanpa banding: degradasi langsung. Tak ada ruang negosiasi, tak ada peluang kedua. Situasi inilah yang membuat setiap laga PSIS ke depan bernilai seperti final.
Awal 2026, Awal Harapan Baru
Meski belum aman, kemenangan pertama PSIS di tahun 2026 patut dicatat sebagai titik balik. Bukan hanya soal poin, tetapi soal momentum. Tim mulai menunjukkan reaksi, mental bertanding meningkat, dan atmosfer kebersamaan kembali terasa.
Era kebangkitan PSIS mungkin sedang dimulai, tetapi masih dalam tahap rapuh. Konsistensi akan menjadi kunci, bukan euforia sesaat.
Baca Juga: Peran 3 Legiun Asing Baru PSIS, Raffinha, Denilson Dan Simanca
Gambaran Besar Liga 2: Persaingan Kian Ketat
Sementara PSIS masih berjibaku di papan bawah, persaingan di wilayah lain tak kalah panas. Pada Minggu, 4 Januari 2026, Liga 2 Championship menyajikan sejumlah laga krusial.
Persipura Jayapura sukses mengamankan kemenangan tipis 1-0 atas Deltras Sidoarjo lewat gol tunggal Jeam Kelly Sroyer.
Tambahan tiga poin membawa Mutiara Hitam menempel ketat Barito Putera di papan atas Wilayah Timur dengan 29 poin.
Di Wilayah Barat, dinamika tak kalah menarik. Adhyaksa meraih kemenangan dramatis 3-2 atas Garudayaksa.
Meski kalah, Garudayaksa masih bertahan di puncak klasemen, namun tekanan semakin besar setelah Adhyaksa naik ke posisi kedua.
Hasil lainnya, PSPS Pekanbaru tampil ganas dengan pesta gol ke gawang Sriwijaya FC. Liga 2 semakin menunjukkan wajah kerasnya: tak ada lawan mudah, tak ada zona nyaman.
Baca Juga: Bukan Denilson, Bukan Raffinha: Krisna Jhon dan Amir Hamzah yang Bikin PSIS Berpesta
Dampak Tak Langsung bagi PSIS
Hasil-hasil di luar laga PSIS ikut memengaruhi peta persaingan. Tim-tim lain terus menambah poin, membuat margin kesalahan semakin kecil bagi PSIS. Setiap kemenangan pesaing berarti tekanan tambahan bagi Laskar Mahesa Jenar.
Situasi ini menuntut PSIS untuk tidak hanya menang sesekali, tetapi mulai membangun rangkaian hasil positif. Seri saja bisa terasa seperti kekalahan jika tim lain terus melaju.
Jadwal Berikutnya Jadi Penentu
Dengan selisih poin yang begitu rapat, laga-laga berikutnya akan menjadi penentu nasib PSIS. Satu kemenangan tambahan bisa membawa mereka menjauh dari zona merah. Sebaliknya, satu kekalahan bisa menyeret kembali ke posisi paling bawah.
Di fase inilah karakter tim diuji: apakah PSIS benar-benar bangkit, atau hanya sekadar lewat di tengah badai?
Masih Belum Aman
PSIS Semarang memang membuka 2026 dengan kemenangan. Namun di Liga 2 Championship, menang sekali belum cukup untuk bernapas lega.
Klasemen belum memberi ampun, jarak poin masih tipis, dan ancaman degradasi tetap nyata.
PSIS masih hidup. Tapi selamat? Jawabannya masih harus diperjuangkan, satu pertandingan demi satu pertandingan.
Editor : Mahendra Aditya