RADAR KUDUS - Minggu sore di Surabaya tak sekadar menyajikan pertandingan sepak bola. Gelora Bung Tomo berubah menjadi arena pembuktian, tempat Persebaya Surabaya meluapkan seluruh beban yang menumpuk dari rentetan hasil minor.
Menjamu Persijap Jepara, Bajul Ijo tampil tanpa kompromi dan mengakhiri laga dengan kemenangan telak 4-0.
Sejak menit awal, Persebaya langsung mengambil alih kendali permainan. Tekanan tinggi, sirkulasi bola cepat, dan keberanian menusuk dari kedua sisi sayap membuat Persijap lebih sering bertahan di wilayah sendiri.
Tim tamu yang datang dengan kondisi mental rapuh terlihat kesulitan mengimbangi tempo agresif tuan rumah.
Baca Juga: Persebaya Mengamuk di GBT! Persijap Jepara Dibantai 4-0, Bajul Ijo Akhiri Puasa Kemenangan
Gol Penalti yang Mengubah Arah Laga
Kebuntuan akhirnya pecah di menit ke-26. Pelanggaran di kotak terlarang memaksa wasit menunjuk titik putih.
Bruno Moreira maju sebagai algojo dan menunaikan tugasnya dengan dingin. Penalti itu bukan sekadar gol pembuka, melainkan pemantik emosi seluruh stadion.
Usai gol tersebut, permainan Persebaya mengalir lebih lepas. Kepercayaan diri tumbuh, sementara Persijap mulai kehilangan bentuk permainan dan kerap terlambat menutup ruang.
Leo Lelis dan Dominasi Babak Pertama
Menit ke-38 menjadi bukti betapa solidnya Persebaya di semua lini. Leo Lelis, yang naik membantu serangan, memanfaatkan situasi bola mati dan menyundul bola dengan presisi.
Skor 2-0 menutup babak pertama dan menggambarkan sepenuhnya jalannya pertandingan: satu tim menyerang dengan keyakinan, satu tim bertahan dalam tekanan.
Persijap mencoba merespons, namun upaya membangun serangan sering terhenti sebelum memasuki area berbahaya. Organisasi permainan mereka runtuh oleh pressing konsisten Bajul Ijo.
Babak Kedua, Kedalaman Skuad Bicara
Memasuki paruh kedua, Persebaya tidak mengendur. Mereka memilih mengontrol ritme, memancing lawan keluar, lalu menyerang dengan lebih terukur.
Strategi ini berbuah manis di menit ke-80 ketika Franco Rivera melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti yang tak mampu dibendung kiper Persijap.
Gol ketiga membuat pertandingan praktis selesai. Lima menit berselang, Perovic menutup pesta dengan penyelesaian klinis di depan gawang, memastikan skor 4-0 dan sorak sorai tak henti dari tribun.
Pesan Keras untuk Liga
Kemenangan ini lebih dari sekadar tambahan tiga poin. Bagi Persebaya, ini adalah titik balik psikologis setelah periode tanpa kemenangan.
Identitas sebagai tim menyerang dengan mental kuat kembali terlihat jelas.
Bagi Persijap Jepara, kekalahan ini menjadi alarm keras. Mereka harus segera berbenah, terutama dalam transisi bertahan dan daya tahan saat ditekan.
Sore itu, Persebaya tidak hanya menang besar. Mereka mengirim pesan tegas ke seluruh Super League: Bajul Ijo telah bangkit, dan Gelora Bung Tomo kembali menjadi kandang yang membuat lawan berpikir dua kali sebelum datang.
Editor : Mahendra Aditya