RADAR KUDUS - Lima hari yang bisa mengubah segalanya. Itulah yang dialami Joshua Zirkzee. Dari pemain yang hampir pasti dijual pada bursa transfer Januari, ia tiba-tiba menjadi starter di dua laga terakhir Manchester United, bahkan mencetak gol penyelamat.
Namanya kembali disebut, harapan muncul. Tapi, satu pertanyaan besar menggantung: Apakah kebangkitannya cukup untuk menutupi masalah kronis MU di lini depan?
Dari Ujung Bangku Cadangan ke Sorotan Lampu Utama
Sebelum laga melawan Everton pekan lalu, musim Zirkzee bisa diringkas dengan pilu: hanya 90 menit dari bangku cadangan.
Ia tak lebih dari pemain pengganti yang jarang dipakai, terpinggirkan oleh Benjamin Šeško dan Matheus Cunha.
Keputusan Ruben Amorim memainkannya pun lebih didorong kebutuhan darurat karena cedera, bukan keyakinan.
Namun, dalam 180 menit berikutnya, segalanya berubah. Ia tampil impresif melawan Everton, nyaris mencetak gol seandainya bukan karena penyelamatan luar biasa Jordan Pickford. Momentum itu dibawanya ke markas Crystal Palace.
Di sana, dengan tenang ia mencetak gol penyamaan kedudukan, mengeluarkan selebrasi 'senapan mesin' yang sudah setahun tak ia tunjukkan. "Ini hadiah untuk kesabaran dan kerja keras," ujarnya penuh syukur.
Pola yang Mengkhawatirkan: Bisa Konsisten Atau Kembali Hilang?
Di balik euforia, ada pola yang membuat khawatir para pendukung Setan Merah. Ini bukan pertama kalinya Zirkzee menunjukkan kilaunya, lalu menghilang.
Desember tahun lalu, ia juga pernah mencetak brace saat debut di Old Trafford, menciptakan sensasi. Tapi setelah itu? Golnya mengering hingga musim usai.
Pertanyaannya sekarang: apakah performa dua laga ini akan menjadi momentum berkelanjutan, atau hanya sekadar 'purple patch' singkat sebelum ia kembali tenggelam? Dengan Šeško yang masih cedera, kesempatan terbuka lebar di depan mata Zirkzee. Ini ujian mental sekaligus ujian kualitas sebenarnya.
Bukan hanya untuk membuktikan diri pada Amorim, tapi untuk membuktikan bahwa ia punya mentalitas pemain Manchester United.
Akar Masalah yang Lebih Dalam: MU Butuh Mesin Gol, Bukan Sekadar Penyerang
Di sinilah kita sampai pada inti persoalan. Kebangkitan Zirkzee, sebaik apa pun, hanyalah solusi sementara untuk penyakit yang sudah mengakar. Manchester United kekurangan striker murni yang konsisten dan produktif.
Bandingkan dengan rival-rival mereka: Brentford punya Igor Thiago (11 gol), Brighton punya Danny Welbeck (7 gol), Crystal Palace punya Jean-Philippe Mateta (7 gol). Siapa mesin gol MU? Bryan Mbeumo dengan 5 gol, dan itu pun ia bukan striker sentral.
MU belum memiliki satu pun pemain yang mencetak gol dalam tiga laga beruntun musim ini.
Ini adalah kemunduran yang tragis mengingat sejarah gemilang klub. Di era Sir Alex Ferguson, MU punya deretan pembunuh kelas dunia: Ruud van Nistelrooy, Wayne Rooney, Robin van Persie. Mereka adalah pemain yang menciptakan dan memenangkan pertandingan sendirian. Standar itu sekarang terasa sangat jauh.
Jalan ke Depan: Dukung Zirkzee, Tapi Tetap Berburu Striker Kelas Dunia
Apa artinya semua ini untuk MU? Pertama, Zirkzee pantas mendapat kesempatan dan dukungan penuh. Performanya adalah angin segar. Namun, manajemen klub tidak boleh terjebak pada euforia sesaat.
Kebenaran yang pahit adalah, rekam jejak Zirkzee belum menunjukkan level yang dibutuhkan untuk menjadi striker utama di klub sebesar Manchester United. Satu musim produktifnya di liga Belgia dengan Anderlecht, atau 11 golnya di Serie A, bukan angka yang cukup "mengguncang" Premier League.
Oleh karena itu, prioritas tetap harus mencari striker top dunia untuk melengkapi atau menjadi mitra jangka panjang Šeško.
Zirkzee bisa menjadi pilihan yang bagus sebagai penyerang kedua atau 'super-sub', tetapi mengandalkannya sebagai andalan utama adalah risiko yang terlalu besar bagi ambisi klub.
Kebangkitan Zirkzee adalah cerita yang indah, sebuah kisah kesabaran yang terbayar. Tapi untuk membawa Manchester United kembali ke puncak, Old Trafford membutuhkan lebih dari sekadar cerita indah.
Mereka membutuhkan pembunuh berdarah dingin di area penalti lawan. Dan itu adalah pekerjaan rumah yang belum selesai bagi Ruben Amorim dan John Murtough.
Editor : Mahendra Aditya