Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

11 Pemain Chelsea yang Menyeberang ke Arsenal, Ada yang Klop, Banyak yang Flop

Mahendra Aditya Restiawan • Minggu, 30 November 2025 | 14:17 WIB
Kai Havertz
Kai Havertz

RADAR KUDUS - London boleh terbelah oleh rivalitas Chelsea dan Arsenal, tetapi bursa transfer selalu punya caranya sendiri untuk mengaburkan batas.

Dari era awal Premier League hingga periode dominasi Mikel Arteta, setidaknya 11 pemain pernah meninggalkan Stamford Bridge untuk bergabung dengan Meriam London.

Angka yang cukup untuk membentuk satu tim penuh—kombinasi kisah sukses, kegagalan pahit, hingga saga kontroversial yang mewarnai perjalanan kedua klub ibu kota ini.

William Gallas – Pemicu Transfer Terbesar London

Transfer pertama dan paling panas dimulai dengan William Gallas pada 2006, bagian dari barter ikonik yang mengirim Ashley Cole ke Chelsea.

Gallas tampil solid, sempat mengenakan ban kapten, tetapi tak pernah menyentuh level Cole yang menjadi legenda Biru.

Kepindahannya ke Tottenham pada 2010 justru semakin menggoreskan narasi pahit di mata fans Arsenal.

Lassana Diarra – Singgah Sebentar, Melejit di Tempat Lain

Hampir tak terlihat di Chelsea, masuk ke Arsenal pun tidak mengubah nasibnya. Hanya bertahan lima bulan, Lassana Diarra pergi ke Portsmouth, sebelum tiba-tiba melejit dan mencatat lebih dari 100 penampilan untuk Real Madrid.
Ironis? Tentu saja.

Diarra adalah contoh pemain yang baru bersinar setelah meninggalkan London.

Yossi Benayoun – Satu Musim yang Cukup Berarti

Cedera Achilles membuat Benayoun tak cocok di Chelsea.

Arsenal meminjamnya semusim pada 2011–12, dan ia tampil cukup berperan: 4 gol dari 19 laga Premier League. Tidak spektakuler, tetapi cukup membayar kepercayaan Arsène Wenger.

Petr Čech – Sang Legenda yang Mencari Akhir yang Tenang

Di Chelsea ia legenda; di Arsenal ia mencari panggung terakhir.
Datang dalam kondisi menurun, Petr Čech sempat memenangkan Golden Glove 2015–16.

Tetapi kelemahan kakinya dalam era ‘keeper-ball’ akhirnya membuatnya digeser oleh Bernd Leno.

Ia mengakhiri karier dengan catatan bersejarah: penjaga gawang pertama yang mencatat 200 clean sheet Premier League.

David Luiz – Chaos dan Kejeniusan dalam Satu Paket

Jika ada pemain yang bisa membuat fans berteriak kagum dan kesal dalam satu pertandingan, itu adalah David Luiz.

Arteta membutuhkannya untuk membangun permainan dari belakang, tetapi konsistensi bukan temannya. Setelah dua musim naik turun, ia pergi pada 2021 dengan warisan bercampur: penting tetapi tak stabil.

Willian – Transfer yang Tak Pernah ‘Klik’

Dibayar mahal, diharapkan besar, tetapi hasilnya mengecewakan.

Willian datang sebagai winger berpengalaman, namun penampilannya justru jadi salah satu yang paling mengecewakan di era modern Arsenal.

Setelah hanya satu musim, ia pergi sambil mengakui bahwa masa-masa di Arsenal adalah “periode terburuk dalam karier profesionalnya.”

Jorginho – Tenang, Rapi, Efektif

Kehadiran Jorginho pada Januari 2023 sempat menimbulkan pro-kontra.

Namun pemain Italia itu menjawab dengan performa yang matang. Tidak spektakuler, tetapi ia memperhalus build-up Arsenal.

Hanya bertahan dua tahun, ia pergi ke Flamengo pada 2025 setelah menjalankan peran sebagai stabilisator lini tengah.

Kai Havertz – Misteri yang Masih Mencari Bentuk

Pencetak gol final Liga Champions 2021 ini datang ke Arsenal dengan banderol besar dan reputasi unik.

Namun seperti di Chelsea, Kai Havertz kembali memunculkan teka-teki: kadang brilian, kadang hilang.

Cedera dan ketidakjelasan posisi membuat kariernya berjalan zig-zag. Harapan tetap ada, tetapi kepastian belum terlihat.

Raheem Sterling – Pinjaman yang Tak Menjadi Apa-Apa

Musim pinjaman 2024–25 seharusnya memberi Sterling kesempatan bangkit.
Faktanya? Dari 28 laga, hanya 1 gol.
Performa yang tumpul membuatnya keluar dari radar Arteta sejak awal. Untungnya, Arsenal hanya membayar sepertiga gajinya yang fantastis.

Kepa Arrizabalaga – Dari Rekor Dunia Jadi Cadangan Raya

Harga £71.6 juta di Chelsea membebani karier Kepa sejak hari pertama.

Arsenal merekrutnya pada 2025 sebagai pelapis David Raya, dengan harga ‘cuma’ £5 juta.
Sebuah akhir ironis bagi salah satu transfer paling kontroversial dalam sejarah Premier League.

Noni Madueke – Didatangkan dengan Kontroversi, Dijawab dengan Aksi

Transfer Noni Madueke pada 2025 adalah salah satu yang paling panas.
Fans marah, mural stadion dicoret, bahkan ada petisi menolak kedatangannya.

Namun beberapa bulan setelahnya, performa eksplosifnya justru membuat suporter membungkam kritik mereka sendiri.

Dari semua pemain yang menyeberang dari biru ke merah, Madueke mungkin yang paling berpotensi membuka lembaran baru.

Dari Benturan Rivalitas Menjadi Lintasan Tak Terduga

Pindah dari Chelsea ke Arsenal bukan perjalanan mudah. Beberapa datang sebagai bintang, namun layu.

Sebagian tiba di bawah keraguan, tetapi berkembang. Dan sebagian besar membawa cerita yang memperkaya rivalitas dua klub besar London.

Perjalanan mereka menunjukkan satu hal: di Premier League, jersey boleh berubah, tetapi tekanan tetap sama besarnya.

Editor : Mahendra Aditya
#liga inggris #chelsea vs arsenal #arsenal #Chelsea ke Arsenal #transfer Premier League #chelsea #Pemain eks Chelsea