RADAR KUDUS - AS Roma datang ke markas Cremonese bukan untuk bermain aman — mereka datang untuk merebut puncak klasemen, dan mereka melakukannya dengan brutal.
Skor 3-1 pada laga pekan ke-12 Liga Italia tak hanya mencerminkan dominasi penuh Roma, tetapi juga membuktikan bahwa klub ibu kota tersebut sedang berada dalam mode penantang gelar yang sesungguhnya.
Seluruh lini bekerja serempak, dan ketika Roma menginjak pedal gas, Cremonese hanya bisa berusaha bertahan dari badai serangan.
Emil Audero: Tampil Gemilang, Tapi Tetap Jadi Korban
Di balik skor telak itu, ada satu nama yang tetap berdiri tegak: Emil Audero, kiper Timnas Indonesia. Ia melakukan sejumlah penyelamatan luar biasa — beberapa bahkan masuk kategori mustahil — namun realitasnya, satu kiper tidak bisa sendirian menahan gelombang serangan Roma.
Setiap kali Audero berhasil menepis bola, selalu ada serangan susulan berikutnya. Ia melakukan semua yang bisa dilakukan seorang penjaga gawang, tetapi pertahanan Cremonese runtuh terlalu cepat.
Baca Juga: Rating Pemain Madrid vs Elche: Bellingham Selamatkan Muka, Alonso Diguncang Kritik
Gol Soule Menjadi Pembuka Bencana
Cremonese sebenarnya memulai pertandingan dengan percaya diri. Peluang pertama justru datang dari Romano Floriani Mussolini di menit ke-14. Tetapi ketika kesempatan itu gagal, semuanya berubah drastis.
Dua menit kemudian, lewat tembakan jarak jauh yang melengkung indah, Matias Soule merobek gawang Audero. Bola bergerak terlalu cepat, terlalu presisi, terlalu sulit.
Roma memimpin 1-0 — dan sejak itu, permainan berjalan berat sebelah.
Roma sempat mengancam memperbesar keunggulan lewat Lorenzo Pellegrini, namun golnya dianulir karena offside. Cremonese selamat untuk sesaat, tetapi bukan untuk selamanya.
VAR Beri Napas, Tapi Hanya Sesaat
Menjelang akhir babak pertama, Cremonese sempat mendapat harapan lewat hadiah penalti — namun VAR membatalkannya. Sorakan kecewa pecah dari tribun Giovanni Zini. Semua momentum yang bisa mengubah jalannya pertandingan lenyap begitu saja.
Skor 1-0 bertahan hingga turun minum, tapi itu hanyalah ketenangan sebelum badai besar.
Roma Mengunci Kemenangan dalam Hitungan Menit
Di babak kedua, drama semakin meningkat. Pelatih Roma Gian Piero Gasperini mendapat kartu merah di menit ke-63. Biasanya, kehilangan pelatih di pinggir lapangan membuat tim kehilangan kendali.
Namun Roma justru melakukan sebaliknya.
Semenit setelah Gasperini diusir wasit, pemain pengganti Evan Ferguson langsung mencetak gol — sebuah penyelesaian dingin yang membungkam stadion.
Tak butuh lama, Wesley Franca kemudian memperlebar skor menjadi 3-0, memanfaatkan kelengahan pertahanan Cremonese yang benar-benar kehilangan fokus.
Dalam hitungan menit, Cremonese kehilangan pertandingan — secara emosional dan strategis.
Upaya Terakhir yang Terlambat
Cremonese akhirnya mencetak gol hiburan lewat sundulan Francesco Folino pada menit ke-80. Gol itu mengangkat moral sejenak, tetapi pertandingan sudah mati.
Roma terlalu kuat. Terlalu efisien. Terlalu laparkan kemenangan.
Dan Cremonese terlalu sering memaksa Audero bekerja sendirian di bawah mistar.
Baca Juga: 19 Pemain Cedera! Derby Arsenal vs Spurs Tak Tampil Kekuatan Penuh?
Roma Sah Jadi Penguasa Klasemen — Minimal untuk Sekarang
Dengan kemenangan ini, Roma melompat ke puncak klasemen sementara dengan 27 poin, unggul dua poin atas Napoli.
Mereka bukan lagi tim yang sekadar mengejar zona Liga Champions — mereka kini berada di jalur perburuan scudetto yang sangat realistis.
Cremonese? Mereka tertahan di posisi ke-11. Poin masih 14. Target masuk 10 besar kembali menjauh.
Bukan Salah Audero — Tapi Cremonese Harus Berbenah
Banyak mata tertuju pada Emil Audero, terutama fans Indonesia yang mengikuti Liga Italia karena kiprahnya. Namun satu fakta tak bisa dibantah:
Audero tampil spektakuler — tetapi ia tidak bisa bekerja sendirian.
Roma bukan hanya mencetak gol. Roma menekan tanpa jeda.
Dan sampai pertahanan Cremonese bisa memberi perlindungan yang layak, Audero tidak akan mampu menahan pasukan mesin kemenangan seperti Roma.
Editor : Mahendra Aditya