Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Courtois Bongkar Dua Wajah Real Madrid: Era Ancelotti vs Masa Xabi Alonso

Mahendra Aditya Restiawan • Senin, 24 November 2025 | 13:20 WIB

Pelatih Real Madrid, Xabi Alonso. Real Madrid
Pelatih Real Madrid, Xabi Alonso. Real Madrid

RADAR KUDUS - Setelah kepergian Carlo Ancelotti, Real Madrid tidak sekadar berganti pelatih—mereka masuk ke fase evolusi.

Thibaut Courtois, sosok yang mengalami langsung dua generasi ini, memberi gambaran paling jujur tentang apa yang berubah ketika tongkat komando berpindah ke tangan Xabi Alonso.

Madrid yang sebelumnya dibentuk oleh ketenangan seorang maestro tua, kini diarahkan oleh figur muda yang membawa ritme berbeda, lebih cepat, lebih tegang, dan lebih modern.

Baca Juga: Klasemen La Liga Makin Panas, Elche Bikin Kejutan! Real Madrid Dipaksa Imbang, Alonso Pusing Berat

Warisan Ancelotti: Ketegasan yang Menghangatkan

Carlo Ancelotti bukan sekadar pelatih bagi Courtois. Empat tahun terakhir (2021–2025) membukukan kisah kejayaan:
— tiga gelar LaLiga
— satu Copa del Rey
— dua trofi Liga Champions
— total 12 piala hanya dalam satu periode kerja sama.

Di balik itu semua, Courtois merasakan hubungan personal yang jarang hadir dalam sepakbola modern.
Bagi sang kiper, Ancelotti adalah figur ayah—bahkan “kakek” untuk beberapa pemain—yang menenangkan ruang ganti dengan karisma yang tidak bisa diajarkan.

Bukan keras, bukan ambisius membabi buta. Lebih kepada kehadiran yang membuat pemain merasa aman, dihargai, dan siap mati-matian di lapangan.

Kedatangan Xabi: Energi Baru yang Masih Diuji

Xabi Alonso datang membawa identitas berbeda: modern, intens, penuh detail taktik. Madrid langsung tancap gas.

Dari 22 laga awalnya, Los Blancos memetik 17 kemenangan, hanya tiga kali tumbang, dan memimpin klasemen Liga Spanyol sambil tetap kompetitif di Liga Champions.

Namun, formula baru ini tidak bebas kritik.
Beberapa suara mempertanyakan cara Alonso mengelola ruang ganti—dinamika internal yang belum sepenuhnya halus karena perubahan suasana selalu menuntut adaptasi.

Courtois mengakui hal itu tanpa menghakimi, justru menyoroti bagaimana Alonso membawa energi yang lebih muda dan lebih cepat dibanding pendahulunya.

Perbedaan yang Tak Bisa Diperdebatkan

Dalam wawancaranya dengan Partidazo de COPE, Courtois berkata tegas—dengan pilihan kata yang menunjukkan rasa hormat untuk keduanya:

“Ancelotti itu seperti ayah, bahkan kakek bagi beberapa pemain. Karismanya beda dari Xabi, yang lebih muda dan modern.”

Xabi adalah pelatih generasi baru: analitis, struktural, intens.
Ancelotti adalah maestro klasik: intuitif, menenangkan, dan penuh wibawa dari pengalaman panjang.

Dua dunia berbeda, dua gaya memimpin yang sama-sama efektif—tinggal bagaimana pemain menyesuaikan ritmenya.

Courtois Menjaga Keseimbangan: Hormat untuk Dua Sosok Besar

Courtois sadar bahwa membandingkan dua pelatih selalu rawan disalahartikan. Ia menutup komentarnya dengan elegan:

“Aku memenangkan banyak piala bersama Carlo dan akan selalu berterima kasih. Tapi mengatakan kami merindukan sesuatu darinya itu tidak adil bagi Xabi.”

Itulah Courtois: lugas, tetapi tetap memegang etika ruang ganti.
Pesannya jelas—Real Madrid tidak kehilangan identitas, mereka hanya berganti frekuensi.

Dua Era, Satu Misi

Kisah Courtois menggambarkan Real Madrid sebagai klub yang terus bergerak.
Dari ketenangan Ancelotti menuju intensitas Xabi Alonso, keduanya membawa warna yang membentuk raksasa Spanyol ini.

Dan Courtois, sosok yang memainkan peran kunci di dua periode ini, adalah saksi langsung bagaimana perubahan karakter pelatih bisa mengguncang, menyegarkan, dan mengubah arah sebuah dinasti sepakbola.

Editor : Mahendra Aditya
#la liga #jadwal madrid #real madrid #xabi alonso #elche vs real madrid #Courtois #klasemen liga spanyol #Klasemen La Liga #hasil madrid