RADAR KUDUS - Pertandingan antara Persik Kediri melawan Persebaya Surabaya di pekan ke-12 Super League 2025/2026 berubah panas bukan karena duel di lapangan, melainkan gara-gara aturan wajib menunjukkan KTP Kediri bagi semua penonton yang ingin hadir di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik.
Kebijakan ini langsung memicu gelombang protes dari Bonek, kelompok suporter fanatik Persebaya, yang merasa aturan tersebut tidak masuk akal dan justru membuat mereka seperti sedang “mengurus bantuan sosial”, bukan datang untuk menikmati sepak bola.
Dari Renovasi Stadion ke Drama Administratif
Awalnya, laga Persik vs Persebaya dijadwalkan berlangsung di Stadion Brawijaya, Kediri, namun renovasi yang belum rampung membuat panitia harus mencari venue alternatif. Pilihan akhirnya jatuh pada Stadion Gelora Joko Samudro di Gresik, yang dinilai paling siap secara fasilitas dan keamanan.
Namun, pemindahan ini membawa konsekuensi berat. Panitia pelaksana (panpel) hanya mendapat izin menjual 2.500 tiket dan semuanya hanya untuk warga dengan identitas Kediri. Tak ada pengecualian.
“Situasi ini memang sulit, tapi kami berusaha mengikuti seluruh arahan pihak keamanan agar pertandingan tetap bisa berlangsung,” ujar Tri Widodo, perwakilan panpel Persik.
Larangan Total untuk Suporter Tamu
Selain pembatasan KTP, Bonek dan Bonita juga dilarang hadir di stadion sebagai suporter tandang. Kepolisian setempat telah menyiapkan penyekatan di berbagai titik untuk mencegah rombongan suporter Persebaya memasuki area pertandingan.
Langkah ini diambil demi menghindari potensi bentrokan, mengingat Derbi Jatim sering kali berlangsung dengan tensi tinggi dan atmosfer rivalitas yang membara. Panpel bahkan sudah berkoordinasi dengan komunitas suporter Persik untuk mengatur rute perjalanan agar tetap kondusif.
Reaksi Bonek: “Kami Mau Lihat Bola, Bukan Ambil Bansos!”
Begitu kabar aturan KTP tersebar, media sosial langsung ramai dengan komentar pedas dari kalangan Bonek. Banyak yang merasa keputusan ini berlebihan dan menyinggung semangat fair play suporter.
Salah satu akun fanbase, @persebayafans.27, menulis komentar sindiran yang viral:
“Pak, aku mau lihat sepak bola, bukan ambil bansos.”
Unggahan lain pun tak kalah tajam. Seorang Bonek menulis,
“Ndhelok bal-balan ae kudu cek KTP, iki nonton bola apa daftar pinjol?”
Bahkan ada yang mengaku sudah membeli tiket sebelum aturan diumumkan dan merasa dirugikan. “Kadung tuku tiket info barengan mas,” tulis seorang warganet kecewa.
Meski begitu, sebagian tetap nekat berangkat ke Gresik meski tahu risikonya. “Ttep budal wes tuku tiket kok,” tulis seorang Bonek lain, menandakan bahwa loyalitas hijau tak bisa dibatasi regulasi.
Antara Cinta Klub dan Aturan Ketat
Meski protes mengalir deras, pihak Persik dan panitia menegaskan bahwa aturan ini bukan untuk membatasi semangat suporter, melainkan murni untuk keamanan dan kelancaran pertandingan.
Pertandingan ini memang menjadi ujian berat bagi kedua tim. Persik harus bermain “tandang” meski berstatus tuan rumah, menanggung biaya logistik besar, dan kehilangan potensi pendapatan tiket.
Di sisi lain, Persebaya harus menghadapi tekanan tanpa dukungan langsung dari Bonek di tribun.
Rivalitas, Gengsi, dan Harapan Akan Kedewasaan Sepak Bola
Derbi Jawa Timur selalu menjadi magnet besar dalam sepak bola nasional. Gengsi, sejarah, dan fanatisme menjadi bumbu yang membuat setiap laga terasa hidup. Namun kali ini, drama terjadi di luar lapangan — antara cinta dan kebijakan.
Meski suasana panas, banyak pihak berharap laga tetap berlangsung aman, sportif, dan menjadi hiburan sejati bagi para pecinta sepak bola Indonesia.
Pada akhirnya, baik Persik Mania maupun Bonek, berbagi cinta yang sama terhadap tim mereka. Perbedaan warna hanyalah simbol, tapi semangat dan kecintaan pada sepak bola adalah bahasa yang sama.
Derbi ini menjadi cermin bagaimana sepak bola Indonesia masih belajar menyeimbangkan antusiasme dengan keamanan — sebuah proses menuju kedewasaan, di mana cinta pada klub tak harus dibatasi KTP, melainkan dijaga dengan rasa saling hormat di lapangan hijau.
Editor : Mahendra Aditya