RADAR KUDUS - Phil Foden, bintang muda Manchester City, kembali menjadi sorotan setelah tampil gemilang dalam kemenangan 4-1 melawan Borussia Dortmund di Liga Champions.
Dua gol brilian yang ia cetak bukan hanya membawa The Citizens meraih kemenangan meyakinkan, tetapi juga menghidupkan kembali perbincangan soal tempatnya di skuad Timnas Inggris untuk Kualifikasi Piala Dunia mendatang.
Musim lalu menjadi titik terendah bagi Foden. Manchester City gagal meraih trofi besar untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, sementara sang gelandang 25 tahun itu berjuang melawan cedera dan masalah pribadi yang mengganggu performanya.
Namun kini, ia tampak telah menemukan kembali bentuk terbaiknya — tenang, percaya diri, dan mematikan di depan gawang.
“Sekarang saya bermain dengan senyum lagi,” ujar Foden kepada TNT Sports. “Musim lalu sulit, tapi musim ini kami punya semangat baru. Dortmund tim hebat, tapi kami sabar dan menunggu momen untuk menyerang.”
Baca Juga: Gol Solo Van de Ven Bikin Gempar! Tottenham Habisi Copenhagen Meski Main 10 Pemain
Dari Bayang-Bayang De Bruyne
Kepergian Kevin De Bruyne di awal musim seolah membuka jalan bagi Foden untuk mengambil alih peran kreatif utama di lini tengah City.
Meski awal musim berjalan lambat akibat cedera pergelangan kaki, ia kini menjadi motor serangan tim Pep Guardiola, berkolaborasi apik dengan Erling Haaland.
Guardiola pun tak ragu menyanjung anak didiknya itu. “Tidak ada orang di dunia yang meragukan kualitas Phil,” kata sang pelatih asal Spanyol.
“Inggris beruntung memiliki begitu banyak pemain hebat di posisi ini, tapi Foden harus terus mendorong dirinya agar semakin baik. Ketika saatnya tiba, dia akan menunjukkan betapa istimewanya dirinya.”
Statistik Foden mendukung pernyataan tersebut: empat gol dan tiga assist dalam 13 laga musim ini, serta peran penting dalam 12 dari 13 kemenangan terakhir City di semua kompetisi.
Ia bukan hanya pengatur tempo, tetapi juga pencetak gol dari luar kotak penalti — total 11 gol dari jarak jauh sejak 2023, terbanyak di Premier League dalam periode tersebut.
Berebut Tempat di Timnas Inggris
Namun, perjalanan Foden untuk kembali mengenakan seragam Inggris bukan tanpa rintangan. Ia harus bersaing dengan nama-nama besar seperti Jude Bellingham dan Morgan Rogers untuk posisi gelandang serang di skuad Thomas Tuchel.
Guardiola percaya pelatih Inggris itu cukup bijak untuk melihat apa yang ditawarkan Foden. “Thomas tahu apa yang dibutuhkan tim. Phil siap, mentalnya sudah kembali,” tegasnya.
Bagi Foden, panggilan kembali ke timnas bukan sekadar soal reputasi, tapi pembuktian. Setelah tampil di final Euro 2024 dan menjadi Pemain Terbaik Premier League musim lalu, absen dari dua pemanggilan terakhir menjadi cambuk untuknya.
Kini, dengan performa yang kembali menanjak, publik Inggris kembali menuntut satu hal: Foden harus dipanggil.
Mental Baja dan Hasrat Bermain
Mantan gelandang City dan Tottenham, Michael Brown, menilai Foden sudah kembali ke level tertingginya.
“Foden yang sekarang jauh lebih matang, tapi tetap punya semangat anak kecil yang haus bola. Ia ingin bermain, ingin menang, dan bisa menjadi pembeda bagi Inggris,” ujarnya di BBC Radio 5 Live.
Foden sendiri mengaku fokus memperbaiki kondisi mental setelah musim sulit. Ia tak ingin terjebak dalam tekanan. “Saya hanya ingin menikmati permainan,” katanya. “Ketika saya bahagia, performa terbaik saya keluar secara alami.”
Dan itu terbukti. Dari laga kontra Manchester United hingga Dortmund, Foden tampil menonjol — mencetak gol penting dan memberi assist menawan untuk Haaland.
Ia tak lagi sekadar pelengkap di lini serang, melainkan sosok sentral yang menyalakan kembali mesin City.
Pengamat sepak bola Leon Osman menilai kejeniusan Foden bukan sekadar pada teknik atau kecepatan, melainkan pada kemampuannya membaca ruang.
“Dortmund membiarkan City bermain di area depan pertahanan mereka, dan Foden paling sering memanfaatkan ruang itu,” jelasnya. “Ia tahu kapan harus muncul di celah, kapan menembak, dan kapan membiarkan Haaland bergerak bebas.”
Permainan City kini berputar di sekitar kreativitas Foden. Guardiola memberinya kebebasan untuk bergerak, mencari ruang kosong, dan menembak sesuka hati — kebebasan yang membuatnya tampak seperti maestro baru di Etihad.
Phil Foden bukan hanya kembali dari cedera, tapi juga bangkit dari keraguan. Ia telah membuktikan diri sebagai simbol ketekunan dan semangat juang, seorang pemain yang mencintai sepak bola dengan cara paling murni.
Jika Inggris menginginkan kreativitas, visi, dan insting pembunuh di lini tengah, maka jawabannya sudah jelas — Phil Foden. Seperti kata Guardiola, “Ia sudah di sana. Dia tak perlu membuktikan apa-apa lagi.”
Editor : Mahendra Aditya