Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tanpa Gyokeres, Arsenal Tetap Mengerikan, Merino Mode Striker Cetak Brace Dalam laga Liga Champions Melawan Slavia Praha

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 5 November 2025 | 14:40 WIB
Mikel Merino, yang sejatinya seorang gelandang, kini menjelma jadi mesin gol Arsenal
Mikel Merino, yang sejatinya seorang gelandang, kini menjelma jadi mesin gol Arsenal

 

RADAR KUDUS - Arsenal seolah menemukan bintang baru di posisi yang tak terduga.

Mikel Merino, yang sejatinya seorang gelandang, kini menjelma jadi mesin gol darurat ketika striker utama mereka, Viktor Gyokeres, harus menepi akibat cedera otot paha.

Namun, hasilnya justru di luar dugaan. Dalam laga Liga Champions melawan Slavia Praha, Arsenal menang telak 3-0, dan dua dari tiga gol mereka dicetak oleh Merino.

Dengan kemenangan ini, The Gunners memperpanjang rekor tak terkalahkan mereka menjadi 10 pertandingan beruntun di semua kompetisi, sekaligus menyamai catatan klub yang terakhir kali terjadi 122 tahun lalu — tepatnya pada 1903.

Pelatih Mikel Arteta pun sumringah. “Dia (Merino) bukan sekadar pengganti. Dia pemimpin, pemain yang selalu siap, dan punya naluri luar biasa di kotak penalti,” ujar Arteta bangga.

Baca Juga: Rating Pemain Tottenham vs Copenhagen di Liga Champions: Van de Ven Tertinggi dan Jadi Player of the Match

Dari Gelandang Jadi Striker: Evolusi Tak Terduga

Merino, Solusi Instan di Tengah Krisis Penyerang

Awalnya, publik mengira kehadiran Gyokeres, yang direkrut senilai £64 juta musim panas lalu, akan menjadi kunci tajamnya lini depan Arsenal.

Namun nasib berkata lain: sang striker asal Swedia itu kini absen karena cedera hamstring, sementara Kai Havertz dan Gabriel Jesus juga belum pulih.

Arteta pun harus berpikir di luar kebiasaan. Dan di situlah Mikel Merino, pemain yang baru berusia 29 tahun, muncul sebagai solusi dadakan.

Baca Juga: Tottenham Meledak di Liga Champions! Van de Ven Curi Sorotan dengan Gol Ajaib, Spurs Gilas Copenhagen 4-0!

Sebelumnya, Merino sudah sempat dimainkan sebagai “false nine” saat Arsenal melawan Leicester pada Februari lalu, dan ia langsung mencetak dua gol. Sejak saat itu, eksperimen ini terus berlanjut — dan terus berhasil.

Dalam laga melawan Slavia Praha, Merino membuktikan diri. Setelah penalti Bukayo Saka membuka keunggulan, ia menuntaskan umpan silang Leandro Trossard untuk gol keduanya musim ini, lalu menanduk umpan Declan Rice untuk menutup pesta.

Permainannya bukan sekadar improvisasi — melainkan perpaduan antara kecerdasan taktik, naluri pembunuh, dan kepercayaan diri yang luar biasa.

Mikel Arteta pelatih Arsenal
Mikel Arteta pelatih Arsenal

Arteta: “Kalau Tidak Ada Pilihan, Ciptakan Sendiri”

Filosofi Kreatif di Tengah Badai Cedera

Arsenal musim ini memang penuh ujian. Total ada lima pemain inti yang cedera: Gyokeres, Havertz, Gabriel Martinelli, Noni Madueke, dan Martin Ødegaard. Namun Arteta menolak menjadikan itu alasan.

“Kalau pilihanmu terbatas, kau harus menciptakan pilihan baru,” ujarnya. “Kami tahu Merino punya timing yang bagus dan naluri mencetak gol dari satu sentuhan. Tugas kami adalah menempatkannya lebih dekat ke kotak penalti dan memberi ruang untuk mengekspresikan diri.”

Eksperimen ini terbukti brilian. Arsenal kini bukan hanya kuat di belakang dengan delapan clean sheet beruntun, tapi juga efisien di depan — bahkan tanpa striker alami.

Arteta juga menegaskan bahwa kesuksesan ini bukan kebetulan. “Kami sudah melatihnya sejak lama. Merino tahu cara membaca ruang, tahu kapan harus masuk ke kotak, dan itu yang membedakannya malam ini.”

Baca Juga: Rating Pemain Liverpool vs Real Madrid di Liga Champions, Mac Allister Cetak Satu-satunya Gol, Conor Bradley Jadi Player of the Match

Sang Pahlawan dari Spanyol

Merino: “Saya Bukan Nomor Sembilan, Tapi Saya Punya Api yang Sama”

Merino sendiri tak berlebihan dalam merayakan suksesnya. Dalam wawancara usai laga, pemain yang juga menjadi bagian dari skuad Timnas Spanyol juara Euro 2024 itu menegaskan, “Tim ini tidak peduli siapa yang cedera, kami tetap punya semangat yang sama.”

Ia menambahkan, “Saya memang bukan striker alami, tapi saya berusaha mempelajari peran itu — dan membantu tim lewat gol.”

Pernyataan sederhana yang menggambarkan esensi Arsenal musim ini: kerja sama, adaptasi, dan mental baja.

Arsenal Samakan Rekor Bersejarah

Dominasi Total di Eropa dan Inggris

Kemenangan di Praha bukan hanya tiga poin penting di Liga Champions. Arsenal kini menorehkan rekor pertahanan terbaik sejak 1903 — delapan pertandingan tanpa kebobolan.

Arteta bahkan disebut-sebut sebagai pelatih paling sukses setelah era Wenger dalam hal efisiensi permainan.

Lebih dari itu, Arsenal kini memimpin Premier League, lolos ke perempat final Carabao Cup, dan masih sempurna di Eropa.

Dan yang menarik: mereka melakukannya tanpa striker murni.

Analisis Rating Pemain Arsenal vs Slavia Praha

Penampilan Luar Biasa dari Para Gelandang

Arsenal membuktikan bahwa kekuatan tim bukan hanya pada individu, tapi pada fleksibilitas dan mentalitas kolektif.

Arsenal Tak Butuh Alasan, Mereka Butuh Solusi

Malam di Praha menjadi bukti nyata filosofi Arteta: bahwa tim besar tidak mencari alasan, melainkan menemukan cara.

Merino mungkin bukan Gyokeres, tapi dengan mentalitas dan performanya, ia menjadi simbol baru dari Arsenal yang tak kenal menyerah.

Dari krisis cedera, muncul kreativitas. Dari keterpaksaan, lahirlah bintang baru.

Dan jika Arsenal terus seperti ini, bukan tidak mungkin mimpi mengangkat trofi Eropa kembali ke London Utara akan segera terwujud.

Editor : Mahendra Aditya
#liga champions #hasil liga champions #slavia praha vs arsenal #uefa champions league #Gyokeres #slavia praha #mikel arteta #Liga Champions 2025 #Mikel Merino