RADAR KUDUS - Tottenham Hotspur kembali menggigit di pentas Eropa. Bermain di hadapan ribuan pendukung fanatik di Tottenham Hotspur Stadium, tim asuhan Thomas Frank menampilkan performa luar biasa dengan membantai FC Copenhagen 4-0 dalam laga fase grup Liga Champions 2025.
Empat gol lahir dari kaki Brennan Johnson (19’), Wilson Odobert (51’), Micky van de Ven (64’), dan João Palhinha (67’). Meski sempat bermain dengan sepuluh orang usai Johnson diganjar kartu merah, Spurs tetap tampil menggila.
Kemenangan ini bukan hanya soal angka di papan skor. Ini adalah pembuktian mental dan karakter—dari tim yang sebelumnya dihujani kritik menjadi pasukan yang kembali disegani.
Gol Van de Ven: Seni dari Seorang Bek
Dari Bek Tengah Jadi Maestro di Lapangan
Satu nama yang mencuri seluruh perhatian malam itu adalah Micky van de Ven. Dengan rating 9.04, ia dinobatkan sebagai Man of the Match — bukan karena kebetulan, melainkan karena penampilan sempurnanya.
Gol yang dicetaknya pada menit ke-64 bahkan terasa seperti karya seni. Dari area pertahanan sendiri, Van de Ven menggiring bola melewati lima pemain lawan, lalu melepaskan tendangan keras yang tak bisa dijangkau kiper Dominik Kotarski.
Stadion pun meledak. Dalam hitungan detik, pemain yang sempat dicibir karena sikap dinginnya usai kalah dari Chelsea kini dipuja bak pahlawan.
Satu gol, satu malam, cukup untuk mengubah narasi dari “bek yang cuek” menjadi “ikon baru kebangkitan Tottenham.”
Johnson Kartu Merah, Tapi Semangat Spurs Tak Padam
Bermain Sepuluh Orang, Justru Makin Ganas
Brennan Johnson awalnya membuka pesta dengan gol cepat, tapi segalanya berubah ketika ia dikartu merah langsung pada menit ke-57 akibat tekel keras.
Biasanya, momen seperti itu jadi titik balik kehancuran tim. Namun Spurs justru bereaksi sebaliknya.
Thomas Frank dengan cepat memasukkan João Palhinha menggantikan Xavi Simons untuk memperkuat lini tengah.
Hasilnya, permainan Spurs semakin disiplin sekaligus mematikan.
Palhinha bahkan menutup pesta dengan gol keempat, menegaskan bahwa Tottenham tak lagi mudah runtuh seperti dulu.
Dari Dihujat Jadi Diidolakan
Spurs Pulihkan Martabat London Utara
Empat hari sebelumnya, Tottenham kalah memalukan dari Chelsea. Para suporter bahkan mencemooh pemain mereka sendiri.
Namun kemenangan 4-0 ini menghapus semuanya.
Spurs kembali jadi tim yang cepat, agresif, dan tajam.
Wilson Odobert mencatatkan gol impresif di babak kedua, Van de Ven jadi bintang malam, dan Palhinha menutup dengan presisi maut. Bahkan Richarlison, meski gagal mengeksekusi penalti, tetap mendapat tepuk tangan karena kerja kerasnya di lini depan.
Seruan “Come On You Spurs!” menggema di seluruh stadion. London Utara pun kembali tersenyum.
Rating Pemain: Siapa yang Bersinar Paling Terang?
Analisis Lengkap Tottenham vs Copenhagen
Tottenham Hotspur:
-
M. van de Ven – 9.04 (Gol indah, pertahanan solid, Man of the Match)
-
C. Romero – 8.03 (Kunci pertahanan, distribusi bola rapi)
-
R. Bentancur – 7.96 (Motor serangan di lini tengah)
-
J. Palhinha – 7.72 (Gol penutup, kontrol tempo sempurna)
-
X. Simons – 7.66 (Asis brilian, visi tajam)
-
W. Odobert – 7.44 (Gol kedua, ancaman konstan di sisi sayap)
-
G. Vicario – 7.51 (Penyelamatan penting di awal laga)
-
Richarlison – 5.52 (Banyak peluang tapi belum efektif)
Copenhagen:
Hampir semua pemain tampil di bawah standar. Kiper Kotarski sempat menggagalkan dua peluang emas, tapi empat kebobolan membuat performanya tak bisa diselamatkan.
Thomas Frank: Dari Tekanan ke Pembuktian
Strategi Baru, Energi Baru, Tottenham Baru
Usai laga, Thomas Frank menyebut kemenangan ini sebagai “pesan untuk semua orang yang meragukan Tottenham.”
Formasi yang lebih dinamis, pressing ketat, dan keberanian menurunkan pemain muda terbukti ampuh.
Kini, Spurs mengantongi 8 poin dari 4 pertandingan dan duduk nyaman di posisi ketujuh klasemen sementara Liga Champions. Dengan momentum seperti ini, peluang lolos ke 16 besar sangat terbuka lebar.
“Kami tidak sempurna, tapi malam ini membuktikan Tottenham masih hidup,” ujar Frank dengan senyum lega.
Malam Pembalasan dan Kebangkitan
Tottenham tidak hanya menang — mereka mengirim pesan ke seluruh Eropa. Bahwa klub ini belum selesai. Bahwa semangat London Utara belum padam.
Dari hujan kritik menjadi hujan gol, dari rasa malu menjadi rasa bangga.
Dan malam itu, satu nama berdiri paling tinggi: Micky van de Ven — bek yang bermain seperti seniman.