Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Van de Ven dan Spence Tak Salami Pelatih Usai Kalah, Thomas Frank Buka Suara: “Tak Ada Unsur Tidak Hormat!

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 4 November 2025 | 15:53 WIB

 

Micky van de Ven dan Djed Spence, terekam kamera langsung meninggalkan lapangan tanpa menyalami sang pelatih
Micky van de Ven dan Djed Spence, terekam kamera langsung meninggalkan lapangan tanpa menyalami sang pelatih

RADAR KUDUS - Atmosfer Tottenham Hotspur Stadium memanas setelah kekalahan 0-1 dari Chelsea pada laga akhir pekan lalu.

Suporter yang kecewa melontarkan cemooh keras, dan di tengah suasana emosional itu, dua pemain Tottenham, Micky van de Ven dan Djed Spence, terekam kamera langsung meninggalkan lapangan tanpa menyalami sang pelatih, Thomas Frank.

Aksi itu memicu spekulasi besar. Media sosial langsung riuh, banyak yang menilai sikap keduanya sebagai bentuk ketidakpatuhan terhadap pelatih baru The Spurs. Namun, Thomas Frank dengan tenang memadamkan rumor tersebut.

Baca Juga: Alan Shearer Takjub: Arsenal Benar-Benar Tak Punya Kelemahan Musim Ini!

Permintaan Maaf di Ruang Kantor Pelatih

Dalam konferensi pers sebelum laga Liga Champions kontra Copenhagen, Frank membeberkan bahwa kedua pemain tersebut sudah datang langsung ke kantornya untuk meminta maaf.

“Micky dan Djed datang ke ruanganku kemarin. Mereka bilang menyesal dan tidak bermaksud menunjukkan sikap tidak hormat,” ujar pelatih asal Denmark itu.

Frank menegaskan, tidak ada niat buruk dalam insiden itu. Keduanya hanya dikuasai rasa frustrasi akibat kekalahan dan sorakan penonton.

“Mereka tidak ingin gestur itu disalahartikan oleh publik, apalagi di era media yang serba cepat seperti sekarang,” tambahnya.

Baca Juga: Mentalitas Baru Manchester United? Perubahan Besar Era Amorim Mulai Terlihat

“Mereka Masih Punya Hati untuk Klub Ini”

Pelatih berusia 52 tahun itu mengapresiasi inisiatif kedua pemain yang memilih datang sendiri untuk meluruskan situasi. Menurut Frank, tindakan itu justru menunjukkan kedewasaan dan rasa tanggung jawab.

“Kalau mereka tidak datang, tentu saya akan panggil dan tanya. Tapi karena mereka datang sendiri, itu tanda mereka peduli. Mereka peduli pada tim, klub, dan bahkan pada saya,” ujar Frank.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap pemain memiliki beban emosional masing-masing. “Kita tidak pernah tahu apakah mereka sedang punya masalah pribadi, frustrasi karena performa tim, atau sekadar kecewa kalah. Tapi mereka tetap menunjukkan rasa hormat,” katanya.

Reaksi Fans dan Tekanan di Stadion

Meski Frank sudah menutup kasus tersebut, situasi Tottenham tak sepenuhnya tenang. Suporter menunjukkan ketidaksabaran dengan performa klub yang kembali loyo di kandang sendiri.

Tottenham belum sekalipun menang di kandang sejak pekan pembuka musim ini. Catatan mereka buruk: hanya tiga kemenangan dari 19 pertandingan kandang terakhir di bawah dua pelatih berbeda—Ange Postecoglou dan Thomas Frank.

Di antara empat divisi sepak bola Inggris, hanya Southampton yang mencatat rekor kandang lebih buruk dalam periode yang sama. Tak heran, setiap hasil minor langsung disambut sorakan kekecewaan dari tribun.

Frank Minta Dukungan, Bukan Cemooh

Menanggapi sorakan suporter, Frank mengaku paham dengan rasa frustrasi mereka, tetapi ia juga berharap publik bisa membantu mendorong tim, bukan menjatuhkannya.

“Fans berhak kecewa, tentu saja. Tapi selama pertandingan berlangsung, dukungan mereka bisa jadi perbedaan besar,” tegasnya.

Frank menyebutkan, “Kami tertinggal 1-0 melawan Chelsea. Jika dalam 15 menit terakhir dukungan itu kembali mengalir, mungkin kami bisa menyamakan kedudukan. Energi dari tribun bisa mengubah hasil.”

Baca Juga: Disindir Soal Kepemimpinan, Van Dijk Pasang Badan: “Komentar Rooney Cuma Omong Kosong!

Suara dari Dalam Tim

Kiper utama Spurs, Guglielmo Vicario, ikut bersuara mendukung pernyataan sang pelatih. Ia mengakui atmosfer di ruang ganti sedang penuh tekanan, tetapi tidak ada konflik internal.

“Kalau saja dukungan dari tribun bisa lebih besar, mungkin hasilnya akan berbeda. Tapi kami tidak bisa mengontrol itu. Kami hanya bisa bekerja lebih keras,” ujar Vicario.

Ia juga menegaskan bahwa seluruh skuad merasa sakit hati atas kekalahan dalam derby London itu. “Kami tahu para fans kecewa, tapi percayalah, kami juga merasakannya,” tambahnya.

Momentum Kebangkitan di Liga Champions

Thomas Frank kini berusaha mengalihkan fokus tim untuk menghadapi laga penting kontra Copenhagen di Liga Champions.

Kemenangan menjadi target wajib untuk mengembalikan kepercayaan diri dan memperbaiki hubungan dengan pendukung.

Ia menutup konferensi pers dengan nada optimistis. “Kasus Van de Ven dan Spence sudah selesai. Sekarang waktunya fokus membawa tim ini kembali menang di kandang. Kami tahu dukungan fans sangat berarti,” ujarnya.

Baca Juga: Kembalinya Si Anak Hilang: Alexander-Arnold Siap Tunjukkan Apa yang Hilang dari Liverpool

Catatan dan Analisis

Performa Tottenham musim ini sebenarnya tidak seburuk yang terlihat di permukaan. Mereka masih bertengger di posisi kelima Premier League dengan lima kemenangan, sama seperti awal musim lalu.

Namun, bayangan musim buruk di era Postecoglou, ketika tim finis di peringkat 17, masih menghantui.

Ketidakstabilan performa kandang menjadi momok utama. Dalam lima laga terakhir di semua ajang, Spurs hanya menang sekali. Situasi ini menuntut Frank untuk segera menemukan formula terbaik, baik dari sisi taktik maupun psikologis.

Insiden Van de Ven dan Spence hanyalah puncak kecil dari gunung es tekanan yang dialami Tottenham saat ini.

Namun, langkah cepat Frank dalam menyelesaikan masalah secara internal menunjukkan kematangan kepemimpinannya.

Tidak ada pemberontakan, tidak ada drama besar—hanya pemain yang kecewa karena kalah, dan pelatih yang tahu bagaimana mengubah emosi menjadi motivasi.

Kini, semua mata tertuju pada laga kontra Copenhagen. Akankah kemenangan di Eropa menjadi awal kebangkitan Spurs di kandang sendiri?

Editor : Mahendra Aditya
#premier league #Micky Van de Ven #liga inggris #english premier league #THOMAS FRANK #Djed Spence #Tottenham Hotspur