SLEMAN - Malam di Stadion Maguwoharjo, Sleman, menjadi saksi keperkasaan satu nama yang kembali mencuri sorotan: Ernando Ari Sutaryadi.
Dalam laga panas antara Persebaya Surabaya kontra PSBS Biak, Jumat (24/10/2025), sang kiper muda tampil luar biasa di bawah mistar gawang. Meski laga berakhir imbang tanpa gol, penampilan Ernando menjadi alasan utama Bajul Ijo pulang dengan satu poin berharga dari laga sulit itu.
Dengan dua pemain belakang Persebaya diganjar kartu merah di babak pertama, harapan tim sempat menipis.
Namun, di tengah tekanan dan kelelahan, refleks cepat serta ketenangan Ernando menjadi tembok terakhir yang tak tertembus. Ia bahkan dinobatkan sebagai Man of The Match (MoTM) atas performa gemilangnya.
Gugup di Awal, Tapi Tak Pernah Hilang Fokus
Meski tampil gemilang, Ernando tak menutupi bahwa dirinya sempat gugup di awal laga.
“Jujur saya sempat tegang. Kami ingin menang, apalagi sebelumnya kalah, jadi perasaan ingin membalas itu malah bikin gugup dan emosional,” ujar pemain berusia 23 tahun asal Semarang itu kepada awak media.
Ia mengakui bahwa semangat tim untuk bangkit setelah kekalahan dari Persija justru menimbulkan tekanan tersendiri. “Kami pengen tiga poin, tapi hasilnya seri. Kadang dalam sepak bola, keinginan besar bisa bikin kita kurang tenang,” tambahnya.
Kegugupan itu bahkan sempat berbuah kesalahan di babak pertama, ketika Ernando terpeleset saat menangkap bola licin akibat hujan deras. Bola hampir lepas ke kaki pemain PSBS, namun dengan sigap ia bangkit dan mengamankan bola sebelum terjadi gol.
“Ya, mungkin licin saja. Yang penting blunder itu enggak jadi gol. Saya langsung paksa diri buat fokus lagi,” ucapnya dengan senyum lega.
Baca Juga: Susunan Pemain Resmi Arema FC vs Borneo FC: Singo Edan Siap Jegal Pemuncak Klasemen di Kanjuruhan!
Bermain dengan 9 Pemain: “Yang Menolong Hanya Teman dan Pelatih”
Beban semakin berat ketika dua pemain belakang Persebaya, Leo Lelis dan Mikael Tata, diusir wasit di babak pertama.
Praktis sejak menit ke-40, Bajul Ijo harus bertahan dengan sembilan pemain menghadapi serangan bertubi-tubi dari PSBS Biak.
Ernando menuturkan, situasi itu memaksanya dan rekan setim bekerja dua kali lebih keras. “Saya enggak tahu pasti apa yang terjadi di luar kotak penalti, tapi ya, ini Persebaya. Apa pun keadaannya, yang bisa menolong cuma teman, staf, dan pelatih kita,” katanya.
Ketika PSBS menggempur lewat serangan cepat dan bola-bola atas, Ernando tampil bak tembok baja.
Tercatat, ia melakukan setidaknya enam penyelamatan krusial, termasuk dua refleks cepat yang memblok bola jarak dekat di menit-menit akhir pertandingan.
“Saya hanya berpikir satu hal: jangan sampai bola masuk. Karena kalau satu gol saja, habis sudah perjuangan teman-teman,” ujarnya dengan nada tegas.
Kerja Keras yang Tak Terlihat di Balik Clean Sheet
Bagi Ernando, hasil imbang ini bukanlah kebetulan. Ia mengungkapkan, seluruh pemain sudah bekerja keras mempersiapkan diri jauh sebelum pertandingan.
“Kami sudah pelajari lawan. Saya, coach Felipe (pelatih kiper), dan teman-teman latihan ekstra keras buat laga ini,” ungkapnya.
Kerja keras itu terbayar lunas. Dengan dua pemain belakang absen lebih awal, komunikasi antar pemain belakang dan kiper menjadi kunci utama menjaga pertahanan tetap solid.
“Begitu kami kehilangan satu pemain, komunikasi harus lebih aktif. Kalau diam saja, selesai sudah,” katanya.
Kiper yang juga menjadi andalan Timnas Indonesia itu menegaskan bahwa laga ini memberi banyak pelajaran berharga. “Saya belajar bahwa menjaga fokus itu penting, bahkan ketika situasi tidak ideal. Kadang bukan soal menang atau kalah, tapi bagaimana kita berjuang sampai akhir,” tambahnya.
Dari Blunder ke Fokus: Mental Baja Sang Garuda
Dalam dunia sepak bola, kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Namun, Ernando membuktikan bahwa seorang pemain besar bukan diukur dari seberapa jarang ia melakukan kesalahan, tapi dari seberapa cepat ia bangkit setelahnya.
Blunder kecil yang ia lakukan justru menjadi titik balik penampilannya. Setelah kejadian itu, ia tampil semakin tenang dan menunjukkan kualitasnya sebagai penjaga gawang papan atas.
“Saya mawas diri. Setiap kali salah, saya enggak mau larut. Harus fokus buat perbaiki dan bantu tim,” tuturnya.
Ketenangan ini yang membuat dirinya tetap dipercaya pelatih untuk terus menjadi pilihan utama, baik di Persebaya maupun Timnas.
Persebaya Tahan Tekanan, Satu Poin yang Terasa Seperti Kemenangan
Dengan hasil imbang ini, Persebaya menambah satu poin dan kini berada di posisi kesembilan klasemen sementara BRI Super League 2025/2026 dengan total 11 poin — hasil dari tiga kemenangan, dua imbang, dan tiga kekalahan.
Bagi sebagian tim, hasil imbang mungkin terasa hambar. Tapi bagi Persebaya yang harus bermain hampir satu jam dengan sembilan pemain, hasil ini terasa seperti kemenangan.
“Kami main dengan hati. Setiap detik terasa berat, tapi kami enggak menyerah,” ujar salah satu pemain bertahan Persebaya.
Ernando pun mengamini, bahwa meski target tiga poin gagal, semangat tim tak boleh luntur. “Yang penting kami bisa ambil pelajaran. Ini bukan hasil yang buruk,” katanya.
Dukungan Suporter dan Rasa Tanggung Jawab
Tak hanya performa, tetapi juga mental Ernando yang patut diapresiasi. Di tengah tekanan, ia tetap menjaga kepercayaan diri dan menunjukkan tanggung jawab besar terhadap klub yang telah membesarkan namanya.
“Saya main bukan cuma untuk diri sendiri, tapi untuk tim dan suporter. Kalau kami kalah, saya juga yang harus tanggung jawab di bawah mistar,” ungkapnya.
Ucapan itu mencerminkan karakter matang seorang pemain muda yang tumbuh di tengah kerasnya ekspektasi publik Surabaya.
Bajul Ijo memang dikenal memiliki basis suporter paling militan di tanah air. Setiap penampilan mereka, baik di kandang maupun tandang, selalu diiringi teriakan dukungan dari ribuan Bonek. Dukungan itulah yang kerap menjadi bahan bakar semangat Ernando dan kawan-kawan.
Laga melawan PSBS Biak menjadi refleksi bagi Persebaya untuk lebih stabil. Konsistensi menjadi tantangan utama musim ini. Pelatih kepala menegaskan bahwa fokus berikutnya adalah memperbaiki efektivitas serangan agar peluang emas bisa berbuah gol.
Sementara itu, Ernando sendiri berkomitmen menjaga performa agar terus stabil. “Saya harus tetap belajar. Menjadi kiper bukan cuma soal menyelamatkan bola, tapi juga bagaimana jadi pemimpin di lapangan,” katanya.
Dengan usia yang masih muda, Ernando dianggap sebagai simbol regenerasi penjaga gawang Indonesia. Performa solidnya di liga domestik memberi sinyal positif bagi skuad Timnas Indonesia menjelang laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 mendatang.
Ernando Ari membuktikan satu hal penting: di balik rasa gugup dan tekanan besar, ada semangat juang yang tak tergoyahkan.
Bermain dengan sembilan pemain, menghadapi tekanan bertubi-tubi, bahkan sempat hampir membuat blunder — semuanya menjadi bagian dari kisah perjuangan luar biasa sang kiper muda ini.
Hasil imbang mungkin tak sesuai ekspektasi, tapi bagi Persebaya, satu poin ini adalah simbol dari kerja keras, kekompakan, dan dedikasi.
Dan bagi Ernando, ini bukan sekadar laga tanpa kebobolan — ini adalah pembuktian bahwa mental juara tak selalu lahir dari kemenangan, melainkan dari keberanian untuk tetap berdiri tegak di tengah badai.