RADAR KUDUS – Manajemen PSIS Semarang resmi memutuskan kerja sama dengan pelatih kepala, Kahudi Wahyu, pada Selasa (30/9).
Keputusan mendadak itu sontak memicu berbagai reaksi dari pendukung setia Laskar Mahesa Jenar.
Langkah pemecatan diambil setelah PSIS mengalami tiga kekalahan beruntun, yakni saat melawan Persiku Kudus (0-4), Persipura Jayapura (0-2), dan Persiba Balikpapan (1-2).
Baca Juga: Mohamed Salah di Bangku Cadangan, Liverpool Kalah Tipis di Markas Galatasaray, Ini Skornya
Untuk sementara, kursi pelatih utama akan dipegang oleh asisten pelatih Ega Raka Galih sambil menunggu manajemen menunjuk pengganti permanen.
Namun keputusan tersebut justru menimbulkan gelombang kritik.
Suporter menilai persoalan PSIS bukan sekadar soal taktik di lapangan, melainkan juga arah kebijakan manajemen yang dianggap tidak konsisten.
Ketua Umum Panser Biru, Kepareng atau yang akrab disapa Wareng, bahkan melontarkan sindiran tajam lewat akun Instagram pribadinya, @kepareng_wareng.
Ia menyinggung CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi, sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.
“Pemain dan pelatih bisa silih berganti, tapi Yoyok selalu ada. Setelah menyalahkan eks pemain, kemudian suporter yang boikot, kini giliran pelatih. Padahal semua itu pilihanmu sendiri. Yoh, kaya yoh,” tulis Wareng.
Unggahan tersebut ramai ditanggapi warganet, khususnya dari kalangan Panser Biru yang juga kecewa dengan performa tim.
Baca Juga: Gaji Pokok PNS 2025 Naik, Ditambah Lima Tunjangan yang Bikin Senyum ASN Lebar
Salah satunya, akun @hasan_sh_undip menulis, “Bisa jadi Kahudi memang enggan lanjut, Pak. Soalnya kualitas pemainnya grade C.”
Komentar itu langsung dibalas oleh Wareng, “Katanya semua pemain itu pilihannya Kahudi kok,” ujarnya.
Balasan ini membuat diskusi semakin panas, dengan banyak suporter yang sepakat masalah terbesar PSIS bukan terletak pada pelatih atau pemain, melainkan di manajemen yang dianggap tak serius menyiapkan skuad.
Beberapa komentar menegaskan hal itu.
“Aslinya penyakit PSIS cuma Yoyok tok,” tulis @andidokil.
“Cepat bergerak, penyakitnya PSIS ya orang itu saja,” tambah @dwirmdni_.
Baca Juga: Menghindari Candaan yang Salah Paham: Panduan Praktis untuk Semua Situasi
Ada pula @arifinabd.f yang mengingatkan pernyataan Kahudi sebelum musim dimulai.
“Dia sudah bilang kurang puas dengan rekrutan, tapi tetap pasrah karena tidak dikasih tambahan pemain. Malah merusak CV pelatih saja,” tulisnya.
Dari berbagai reaksi tersebut, terlihat jelas mayoritas Panser Biru tidak menyalahkan Kahudi maupun para pemain.
Mereka menilai kekalahan beruntun lebih disebabkan oleh lemahnya strategi perekrutan dan kurangnya dukungan dari manajemen.
Sementara itu, pihak manajemen PSIS hingga kini belum memberi penjelasan resmi soal kritik yang menyeruak di media sosial.
Fokus mereka disebut masih tertuju pada persiapan menghadapi laga melawan Barito Putera, Sabtu (4/9).
Pemecatan Kahudi juga menambah daftar pelatih di ajang Pengadain Championship yang harus angkat kaki.
Sebelumnya, pelatih PSPS Riau, Ilham Romadhona, juga mundur setelah timnya gagal tampil meyakinkan di awal musim.
Baca Juga: MotoGP Mandalika 2025 Siap Digelar, Ini Jadwal Lengkap Balapan
Kini publik menunggu, apakah pergantian pelatih PSIS bisa menjadi titik balik performa tim, atau justru memperkuat anggapan bahwa sumber masalah Mahesa Jenar tetap berada di lingkar manajemen.
Bagi Panser Biru, dukungan untuk tim di lapangan tak akan berhenti.
Namun, kritik keras terhadap manajemen tampaknya akan terus menggema selama belum ada perubahan nyata dalam tubuh klub.
Editor : Ali Mustofa