RADAR KUDUS - Siapa sangka olahraga padel yang sempat dianggap "permata baru" dunia fitness kini justru terpuruk.
Di Swedia, negeri yang dulu menjadikan padel sebagai obsesi nasional, industri ini menghadapi ancaman besar: gelombang kebangkrutan.
Padel awalnya dipuja karena dianggap olahraga yang segar, sosial, dan mudah dimainkan. Antara 2016 hingga 2020, lapangan padel tumbuh bagaikan jamur di musim hujan. Tak ada sudut kota di Swedia tanpa arena padel.
Di masa pandemi, olahraga ini bahkan dianggap penyelamat karena bisa dimainkan tanpa banyak kontak fisik, cocok untuk masyarakat yang terkurung aturan karantina.
Namun, setelah pandemi usai, kejayaan padel mendadak meredup. Lapangan-lapangan yang dulu selalu penuh kini banyak yang kosong. Pemilik usaha kelimpungan, bahkan tak sedikit yang menutup bisnisnya.
Baca Juga: 10 Raket Padel Terbaik Tahun 2025, Bikin Skill Naik Drastis – Nomor 7 Dipakai Atlet Pro Dunia!
Dari Demam Nasional ke Bubble Ekonomi
Di masa puncak kejayaan, industri padel di Swedia benar-benar tak terbendung. Data mencatat, jumlah lapangan meningkat lebih dari 1.000% hanya dalam beberapa tahun.
Semua kalangan—mulai dari investor kawakan hingga oportunis baru—ikut-ikutan membangun lapangan, menjual raket, hingga membuka toko perlengkapan padel.
Euforia itu menciptakan bubble ekonomi. Semua orang yakin tren ini akan abadi, padahal tanpa strategi jangka panjang, bisnis olahraga cenderung rapuh.
Ketika kehidupan normal kembali dan masyarakat tak lagi "terjebak" pada aktivitas pandemi, lapangan yang terlalu banyak akhirnya tak seimbang dengan jumlah pemain.
Kelebihan Produksi, Harga Anjlok
Fenomena serupa juga terjadi di sektor peralatan. Raket, bola, hingga pakaian padel laris manis di masa awal. Produsen pun memproduksi secara besar-besaran. Namun ketika permintaan turun, pasar justru kelebihan stok. Harga peralatan jatuh, toko-toko olahraga yang bergantung pada padel ikut terpukul.
Menurut laporan CourtBrain, "Dampaknya terasa ke seluruh ekosistem, bukan hanya pemilik lapangan, tapi juga produsen hingga pengecer."
Baca Juga: 17 Raket Padel Terbaik 2025: Pilihan Para Juara, Mana yang Cocok untuk Gaya Bermainmu?
We Are Padel: Simbol Jatuhnya Raksasa
Kasus paling mencolok adalah We Are Padel, salah satu perusahaan padel terbesar di Swedia. Pada 2022, perusahaan ini harus menutup setengah dari total fasilitas yang mereka kelola. Alasannya? Kerugian fantastis, mencapai 1,4 juta euro per bulan.
Meski berusaha melakukan restrukturisasi, kondisi pasar terlalu berat. Di tahun yang sama, setidaknya 11 perusahaan lain dengan total 16 fasilitas padel resmi bangkrut. Gelombang penutupan itu menjadi bukti bahwa industri padel di Swedia tumbuh terlalu cepat, tanpa fondasi yang kokoh.
Dari Olahraga Tren Jadi Beban Finansial
Kenapa padel bisa jatuh sedalam ini? Ada beberapa faktor kunci:
-
Pertumbuhan tidak terkendali. Semua pihak berlomba membangun lapangan, tanpa melihat daya serap pasar.
-
Rutinitas kembali normal. Setelah pandemi, masyarakat punya banyak pilihan olahraga lain, sehingga padel tidak lagi jadi primadona.
-
Model bisnis rapuh. Banyak investor hanya mengandalkan hype, tanpa strategi diversifikasi atau inovasi.
-
Pasar jenuh. Terlalu banyak lapangan untuk jumlah pemain yang stagnan.
Akibatnya, padel yang dulunya dipandang sebagai peluang emas kini jadi beban finansial bagi banyak pengusaha.
Apakah Padel Benar-Benar Mati?
Meski di Swedia tren padel meredup, bukan berarti olahraga ini benar-benar habis. Di level global, padel justru masih berkembang.
Negara-negara lain seperti Spanyol, Italia, hingga Amerika Latin masih memandang padel sebagai olahraga masa depan. Bahkan, di Indonesia, tren padel baru saja naik daun.
Fenomena ini menunjukkan bahwa padel tidak gagal sebagai olahraga, melainkan gagal dikelola sebagai industri.
Swedia hanyalah contoh bagaimana euforia bisa berubah menjadi bumerang ketika ekspansi bisnis tak diimbangi strategi berkelanjutan.
Pelajaran untuk Indonesia dan Negara Lain
Indonesia kini tengah menyambut padel dengan penuh antusiasme. Lapangan mulai bermunculan di kota besar, terutama Jakarta dan Bali. Namun, dari kasus Swedia, ada pelajaran penting:
-
Jangan hanya mengejar hype tanpa memikirkan keberlanjutan.
-
Perlu strategi diversifikasi—padel bisa dikombinasikan dengan bisnis lain seperti gym, coworking space, atau kafe.
-
Edukasi publik tentang manfaat padel harus diperkuat agar tidak sekadar jadi "olahraga gaya hidup".
Kalau tidak belajar dari kegagalan Swedia, Indonesia bisa mengalami nasib yang sama: tren cepat naik, cepat pula padam.
Akankah Padel Bangkit Lagi di Swedia?
Meski banyak lapangan ditutup, masih ada komunitas loyal yang bermain padel. Para pecinta sejati olahraga ini percaya padel belum mati, hanya mengalami fase penyaringan.
Mereka berharap dalam beberapa tahun ke depan, pasar akan menyesuaikan diri. Lapangan yang benar-benar dikelola profesional bisa bertahan, sementara investor musiman yang hanya mengejar keuntungan cepat akan tersisih.
Artinya, padel mungkin tidak lagi booming seperti dulu, tetapi tetap punya tempat sebagai olahraga alternatif.
Pertanyaannya, apakah Swedia bisa menghidupkan kembali minat masyarakat, ataukah padel akan tinggal sebagai "sejarah manis" yang pernah membius satu bangsa?
Editor : Mahendra Aditya