RADAR KUDUS – Kembalinya PSIM Jogja ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia menjadi momen yang membanggakan, bukan hanya bagi pendukung setia “Laskar Mataram”, tapi juga bagi legenda hidup klub ini, Mohamad Irfan.
Sosok yang dulu menguasai sektor sayap di era 2000-an ini akhirnya melihat tim kebanggaannya kembali berlaga di panggung Liga 1.
Namun, di balik rasa haru dan bangga itu, Irfan tak tinggal diam. Ia punya pesan keras, penuh makna, dan sangat relevan untuk generasi baru PSIM Jogja yang kini akan berjuang di level kompetisi paling ketat di tanah air.
“Liga 1 bukan sekadar soal teknik. Ini panggung di mana mental dan ketangguhan adalah segalanya,” ujarnya tegas.
Prediksi Irfan yang Terbukti Jadi Kenyataan
Beberapa bulan sebelum PSIM resmi promosi, Irfan sudah menunjukkan keyakinan besar. Dalam sebuah wawancara, ia dengan yakin mengatakan bahwa musim 2024/2025 akan menjadi musim emas bagi klub yang telah ia bela selama 15 tahun itu. Dan benar saja, PSIM bangkit dan berhasil menembus Liga 1.
“Saya sudah merasa dari awal, Seto dan Erwan mampu membawa PSIM ke jalur yang benar. Musim lalu mereka menemukan jati diri,” ungkapnya.
Namun, Irfan juga tidak ingin euforia promosi membuat para pemain muda lengah. Ia justru menekankan bahwa tantangan sesungguhnya baru dimulai saat mereka melangkah ke Liga 1.
Baca Juga: Liga 1: Ambisi Persib Pertahankan Gelar Juara Liga Super 2025, Incar Tiga Kali Juara Berturut-turut.
Liga 1: Kompetisi Tanpa Ampun
Menurut Irfan, Liga 1 adalah ajang keras yang menuntut lebih dari sekadar permainan indah. Ia menggarisbawahi bahwa daya tahan, disiplin, dan kekuatan mental adalah senjata utama.
“Di level ini, semua serba cepat dan penuh tekanan. Tanpa mental baja, talenta besar pun akan tenggelam.”
Ia pun mengingatkan bahwa di dunia sepak bola profesional saat ini, tekanan bukan hanya datang dari dalam lapangan, tapi juga dari luar — seperti ekspektasi fans, sorotan media, dan kerasnya industri olahraga itu sendiri.
Tiga Musuh Utama Karier Pemain
Dalam pesannya, Irfan menyebutkan tiga ‘racun’ yang bisa merusak karier pesepak bola, khususnya pemain muda: popularitas yang tak dikelola dengan baik, rasa bosan yang datang tiba-tiba, dan cedera yang mengintai setiap saat.
“Ketenaran bisa memabukkan, kejenuhan bisa menghancurkan motivasi, dan cedera bisa menghentikan semuanya dalam sekejap. Kalau tidak disikapi dengan bijak, semua bisa jadi bumerang,” jelasnya.
Irfan menyarankan agar pemain muda tidak hanya fokus pada prestasi jangka pendek, tapi juga menyiapkan diri untuk perjalanan panjang. Terutama di era industri sepak bola saat ini, di mana segalanya sudah menjadi sangat komersial dan penuh tuntutan profesionalisme.
Cinta Tak Lekang Waktu
Meskipun sudah tidak bermain, cinta Irfan pada PSIM Jogja tak pernah pudar. Ia mengaku masih diterima hangat oleh seluruh elemen klub dan merasa tetap menjadi bagian dari keluarga besar PSIM.
“Saya selalu bangga pernah jadi bagian PSIM. Klub ini bukan hanya tempat bermain, tapi rumah yang membentuk karakter saya,” tuturnya.
Harapan terbesarnya kini sederhana namun penuh makna: PSIM bisa bertahan lama di Liga 1, bukan sekadar numpang lewat. Sebab, menurutnya, posisi PSIM memang seharusnya berada di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.